Senantiasa Berjaga-Jaga

Renungan Kamis 25 Agustus 2016

Bacaan: 1Kor. 1:1-9; Mzm. 145:2-3,4-5,6-7; Mat. 24:42-51

Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang. (Matius 24:42)

Firman hari ini dibuka dengan surat pertama Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus. Pada awal suratnya, Paulus memberikan salam. Ia menyatakan jemaat Korintus adalah orang-orang yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus (1 Kor 1:2). Kemudian Paulus mengucapkan syukur karena ia mengetahui bahwa di dalam Dia mereka telah menjadi kaya dalam segala hal; dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan. Ini terlihat dari karunia-karunia rohani yang telah diterima mereka dalam Kristus, yang merupakan salah satu cara Allah untuk menyatakan kebenaran Injil kepada Gereja perdana (1 Kor 1:4-7).

Karunia-karunia itu merupakan pendahuluan dari penggenapan yang akan dialami oleh semua orang yang percaya pada saat hari Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu kelak ketika Tuhan Yesus Kristus datang yang kedua kalinya. Kapan Tuhan Yesus Kristus akan datang kedua kalinya? Tentang hari dan saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa sendiri (Mat 24:36).

Walaupun demikian, Tuhan Yesus secara jelas memberi kita peringatan agar berjaga-jaga, sebab kita tidak tahu pada hari mana Tuhan kita datang. Hendaklah kita siap sedia menantikan peristiwa tersebut, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kita duga (Mat 24:42-44). Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang (Mat 24:46).

Terkait dengan “berjaga-jaga”, saya benar-benar beruntung dan berbahagia. Saya beruntung karena Tuhan Yesus telah mengajak saya masuk ke dalam kumpulan orang yang percaya kepada-Nya sejak saya masih bayi. Selanjutnya dengan berjalannya waktu, saya memperoleh banyak keberuntungan lagi. Salah satunya, Tuhan Yesus memanggil saya untuk bergabung di kelas Misi Evangelisasi di Sentra Evangelisasi Pribadi Surabaya, melalui seorang sahabat di lingkungan yang mengajak dan mendaftarkan diri saya.

Walaupun kala itu sering kali bolong-bolong atau pun diropel, rupanya melalui mengerjakan PR Kata (sekarang Lectio Divina) setiap hari, Tuhan Yesus memberi keberuntungan lagi kepada saya. Melalui PR Kata, secara pribadi Ia memproses diri saya. Ia mengajak saya merenungkan, memahami, melakukan firman-Nya dalam kehidupan nyata sehari-hari. Bahkan Ia memberi saya komunitas supaya saya dapat bertumbuh untuk lebih mengenal pribadi-Nya dan kasih-Nya. Dengan bimbingan Roh Kudus-Nya, secara lembut Ia mengubah diri saya untuk hidup lebih benar di hadapan-Nya supaya saya dapat senantiasa “berjaga-jaga” menantikan kedatangan-Nya. Sungguh Ia adalah Allah yang amat baik dalam kehidupan saya.

Terima kasih Tuhan Yesus, Engkau sungguh Allah yang penuh kasih, heran dan besar. Engkau telah mengubah diriku. Saya yang sebenarnya tidak layak di hadapan-Mu, telah Engkau ubah menjadi berharga di mata-Mu. Saya bersyukur atas semua itu. Atas semua kebaikan-Mu. Atas kasih, berkat dan bimbingan-Mu dalam hidupku selama ini, terlebih karena Engkau sendiri yang telah mengajarkan kepadaku untuk senantiasa “berjaga-jaga” menantikan kedatangan-Mu kembali. Amin.

Tuhan memberkati.
Setiadi Santoso