Perjumpaan Yang Menyembuhkan

Renungan Rabu 24 Agustus 2016

Bacaan: Why. 21:9b-14; Mzm. 145:10-11,12-13ab,17-18; Yoh. 1:45-51

Dalam bacaan Injil hari ini diceritakan perjumpaan Filipus dengan Yesus. Kemudian Filipus menceritakan perjumpaannya dengan Yesus kepada Nathanael. Dia bercerita bahwa Yesus adalah pribadi yang luar biasa yang mengajak dia untuk mengikutinya dengan berkata: “Ikutlah Aku!” Namun Nathanael ragu akan kebenaran cerita Filipus ini karena Yesus hanya berasal dari Nazareth. Untuk meyakinkan Nathanael, maka Filipus berkata, “Mari dan lihatlah.” Karena ajakan Filipus ini, Nathanael berjumpa pribadi dengan Yesus yang telah mengenalnya sebelum Nathanael berjumpa dengan Yesus sendiri. Ini suatu pengalaman yang indah bagi Nathanael karena Yesus adalah Tuhan yang maha tahu.

Why 21:9b-10 menceritakan tentang suatu ajakan untuk berjumpa dengan Mempelai Anak Domba juga untuk melihat indahnya Yerusalem kota yang kudus turun dari surga.

Pengalaman indah perjumpaan dengan Tuhan tentu ingin dibagikan kepada semua orang yang kita jumpai terutama mereka yang kita kasihi. Tahun 1983 saya berjumpa dengan Tuhan Yesus yang hidup melalui penyembuhan sakit yang saya derita. Waktu itu saya didoakan oleh seorang hamba Tuhan. Pengalaman ini saya ceritakan kepada suami saya yang ditanggapinya dengan acuh karena tidak percaya dan menolak didoakan oleh hamba Tuhan. Sedangkan pada waktu itu dia mengalami sakit yang sangat langka yang bernama bechtreff yang tidak ada obatnya. Sejak tahun 1965 terjadi pengapuran tulang rawan mulai dari bagian pinggul, menurut prediksi dokter, pengapuran ini akan terus menjalar sampai ke tulang leher yang akan mengakibatkan kelumpuhan total dan proses pengapuran ini diperkirakan 20 tahun. Jalan satu-satu nya untuk penyembuhan hanya di Perancis dan Houston. Dokter juga mengatakan akibat operasi ini ada dua kemungkinan langsung sembuh atau langsung lumpuh total karena ada saraf yang terkena pisau operasi. Keputusan suami saya dijalani saja kan masih lama, tanpa terasa waktu berjalan terus, rasa sakit yang begitu hebat dan punggung yang semakin membungkuk. Syukur kepada Tuhan di tahun ke-18, Romo Yohanes datang dari Perancis membawa Pembaharuan Karismatik Katolik (PKK). Kami datang menjumpai romo, di mana saat itu sedang ada doa di kapel. Semua yang terjadi di kapel itu bukan Katolik bagi suami saya. Tetapi karena sudah terlanjur di sana akhirnya kami minta didoakan. Sejak saat itu kami sering datang ke Ngadireso untuk ikut retret maupun didoakan. Tanpa disadari rasa sakit hilang dan terlihat ada kemajuan punggungnya tidak sebungkuk dulu. Ada seseorang yang menderita sakit yang sama bertanya ke suami saya berobat ke dokter mana, jawaban yang tidak terduga dari suami saya, “Dokter saya Tuhan Yesus.” Dari yang tidak percaya dia mengalami Yesus yang hidup dan masih melakukan mujizat penyembuhan yang luar biasa. Sebagai rasa syukur ia mau melayani Tuhan dan menjadi alatnya dalam PKK. Pengalaman kami membuat kami berubah, untuk mau menjadi alat-Nya kapan pun dan di mana pun serta menceritakan kepada siapapun pengalaman kami ini.

Doa:

Puji dan syukur kepada-Mu ya Yesus, kami boleh mengalami mujizat-Mu secara pribadi. Pakailah kami sebagai saksi-Mu yang hidup untuk membawa banyak orang mengenal dan mengalami Engkau secara pribadi. Demi Tuhan dan pengantara kami. Kami persembahkan doa kami ini penuh syukur. Amin.

MTIST