Menjadi Teladan

Renungan Senin 22 Agustus 2016

Bacaan: 2Tes. 1:1-5,11b-12; Mzm. 96:1-2a,2b-3,4-5; Mat. 23:13-22

Mat 23:13-22 merupakan teguran Yesus kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, serta menyebut mereka orang munafik, yang menutup pintu Kerajaan Surga di depan orang. Mereka sendiri tidak masuk, malah menghalangi mereka yang berusaha masuk.

Saya teringat apa yang dikatakan Mahatma Gandhi tentang orang Kristen, yang tidak mewujudkan iman mereka dalam kehidupannya. “Kitab Suci mereka memang baik, tetapi sayang tidak melihat kebaikan dalam kehidupan pengikutnya.” Mahatma Gandhi yang mengagumi Yesus menjadi kecewa dan tidak mau menjadi seorang Kristiani.

Sering dalam kehidupan nyata kejadian-kejadian yang mirip dengan apa yang dilakukan para ahli Taurat dan kaum Farisi. Beberapa tahun yang lampau, saya terlibat dalam kepanitiaan komuni pertama. Banyak di antara anak-anak yang ikut persiapan komuni pertama, termasuk pula orang tuanya, terutama para ayah yang tidak memberikan teladan yang baik dalam beriman walau mereka juga Katolik. Mereka tidak ke gereja, hanya menyuruh istri dan anak-anaknya yang ke gereja karena mereka memilih Minggu sebagai hari libur, seperti suatu kesempatan bagi mereka untuk menjadi bangsawan (bangsa tangi awan). Sebagai orang tua yang seharusnya menjadi teladan atau gambar Allah bagi anak-anaknya sering memberi contoh yang tidak baik bagi anak-anak.

Saya bersyukur diberi anugerah Tuhan suami yang bijaksana dan baik. Saya pernah ditegur mengenai cara saya bicara dengan anak-anak, ketika mereka masih kecil, nada bicara yang tinggi, terdengar sebagai orang marah kepada anak-anak yang tidak saya sadari. Juga kebiasaan orang Surabaya untuk memaki walau bukan kata-kata jorok. Dia menegur saya, takut nanti anak-anak juga meniru, terbiasa memaki kalau mengalami sesuatu. Saya bersyukur, karena melalui teladan hidupnya, yaitu apa yang dikatakannya itu pula yang dilakukan, membuat saya berubah, mengikuti pola hidupnya dengan berusaha tidak menjadi orang Farisi dan ahli Taurat yang NATO (No Action Talk Only) dalam kehidupan.

Suami saya pula yang mendorong saya untuk berani membawakan Firman Allah dan mengajar, karena saya merasa belum bisa mewujudkan Firman Allah dalam kehidupan saya sepenuhnya seperti suami saya. Dia mengatakan kebenaran, yaitu Yesus harus tetap diwartakan, walau saya masih seorang pendosa. Kalau menunggu sampai sempurna seperti Yesus. Siapa yang akan mewartakan Firman Tuhan. Kata-katanya membuat saya berani melangkah dengan segala keterbatasan saya.

Saat ini saya bersyukur boleh mengalami kebenaran Firman Tuhan dari bacaan 2 Tes 1:1-5, 11b-12, di mana kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus selalu menyertai kita sekalian, memberikan ketabahan dan menumbuhkan iman dalam segala penganiayaan dan penindasan kesulitan hidup di dunia sebagai manusia. Sehingga kita layak bagi panggilan-Nya dan dengan kekuatan-Nya menyempurnakan kehendak kita untuk berbuat baik dan menyempurnakan segala pekerjaan iman kita untuk kemuliaan-Nya.

Seturut teladan suami saya yang percaya akan kasih Allah dan penyelenggaraan Ilahi-Nya, dalam menghadapi apapun dia berkata: “Semua pada waktunya selalu akan ada jalan keluar”.

Tuhan memberkati.

JW