Mana Hukum Yang Terutama?

Renungan Jumat 19 Agustus 2016

Bacaan: Yeh. 37:1-14; Mzm. 107:2-3,4-5,6-7,8-9; Mat. 22:34-40

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Mat 22:37-40)

Apa sesungguhnya maksud dan tujuan hukum serta perintah Allah? Orang-orang Farisi membanggakan diri bahwa merekalah yang paling tahu hukum Musa dan semua ritual yang diwajibkan sesuai dengan hukum dan perintah yang berlaku. Seumur hidup mereka membiasakan diri menghafalkan dan mendaraskan kitab Torah dari Perjanjian Lama yang berisi Hukum Musa.

Para pemuka agama saat itu menguji Yesus apakah Yesus memiliki pengertian dan pendalaman akan hukum-hukum tersebut seperti mereka. Dengan cara yang sangat sederhana Yesus membuat mereka semua terkejut, betapa Yesus sesungguhnya sangat mengenal dan menguasai semua hukum tersebut dan sangat tahu tujuan Allah memberikan hukum dan perintah tersebut.

Kasih Allah mengatasi segalanya.

Yesus merangkum semua hukum tersebut menjadi dua perintah utama yang tertulis dalam Kitab Ulangan 6:5 – “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” – dan dalam Kitab Imamat 19:18 – “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”. Kasih Allah tercermin dari apa yang IA lakukan – Kasih-Nya itu kudus, adil dan murni karena hanya mencari dan mengutamakan yang baik, bermanfaat dan menghidupkan – bukan menghancurkan, bukan kejahatan atau mematikan. Oleh karena itu, Allah memerintahkan kita untuk saling mengasihi – memberi dan menerima hanya apa yang baik saja, penuh kasih, adil, dan tulus dan menolak semua yang berlawanan dengan kasih Allah.
Allah adalah kasih sehingga apa pun yang IA lakukan berasal dan mengalir dari kasih-Nya untuk kita (1 Yoh 3:1, 4:7-8, 16). Sudahkah kita mengasihi Allah seperti Allah mengasihi kita? Sudah kita mengutamakan Allah seperti Allah menempatkan kita sebagai yang pertama dalam segala rencana-Nya?

Kasih – memberi untuk kebaikan sesama.

Kasih adalah karunia untuk mampu memberi yang terbaik bagi orang lain – sepenuhnya tertuju kepada kebaikan orang lain. Kasih yang berpusat pada menyenangkan diri sendiri adalah kasih yang selfish (egois) yang lebih banyak menerima dan meminta daripada memberi. Kasih sejati membuahkan kebaikan bukan kejahatan karena berasal dari Allah, berakar pada kebenaran Allah saja.

Kasih Allah diberikan kepada kita secara cuma-cuma. Maukah kita membalas kasih-Nya dengan sepenuh hati, penuh sukacita dengan menaati perintah-Nya untuk mengasihi sesama kita? Paulus menuliskan ” karena kasih Allah telah dicurahkan ke dalam hati kita oleh Roh Kudus” (Roma 5:5). Mereka yang mau membuka hati dan percaya akan dapat menerimanya.

Mintalah kepada Tuhan Yesus untuk memenuhi hati kita dengan kasih-Nya melalui karunia Roh Kudus. Iman kepada Allah dan pengharapan akan janji-janji-Nya akan menguatkan kita dalam kasih kepada Allah. Masih adakah hambatan yang membuat kita tidak mampu mengasihi Allah dan sesama dengan sepenuh hati?

Doa:
“Tuhan Yesus, kasih-Mu melebihi segalanya. Penuhilah hati kamu dengan kasih-Mu, tambahkanlah setiap saat iman dan pengharapan akan Engkau dan janji-janji-Mu. Bantulah kami untuk mampu memberikan diri kami seutuhnya dalam pelayanan kepada sesama kami sebagaimana Engkau telah melakukannya terlebih dahulu untuk kami.”

MM