Love Until It Hurts

Renungan Rabu 10 Agustus 2016

Bacaan: 2Kor. 9:6-10; Mzm. 112:1-2,5-6,7-8,9; Yoh. 12:24-26

Sabda Tuhan hari ini menginspirasi kita untuk merenungkan ajaran tentang makna sebuah pengorbanan. Yesus mengatakan: “Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” Melalui ungkapan ini, Yesus ingin menegaskan bahwa kematian-Nya sendiri sebagai bentuk suatu pengorbanan yang sempurna untuk dapat menghasilkan hidup baru bagi manusia.

Bacaan Injil hari ini , Yesus menggunakan perumpamaan biji gandum. Bagi para petani, perumpamaan biji gandum ini dengan mudah dapat dipahami, jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia satu biji saja; tetapi jika mati, ia akan menghasilkan banyak buah. Tetapi bagi kita, apalagi di zaman modern ini, mungkin ilustrasi tentang sebuah alat komunikasi (handphone atau komputer) lebih mudah kita pahami. Jika alat elektronik kita tersebut mengalami gangguan (hang), biasanya kita menekan tombol ‘ctrl-alt-del’ atau dengan mencabut baterai nya, maka alat elektronik itu bisa berfungsi kembali. Ini merupakan contoh betapa berartinya sebuah kematian untuk memaknai suatu hidup baru.

Kita mungkin juga sering mendengar cerita tentang seekor sapi dan ayam yang dipelihara oleh seorang petani yang baik hati. Inti dari cerita ini adalah ketika si sapi dan si ayam ingin memberikan yang terbaik buat sang petani. Si ayam berkata bahwa ia akan bertelur sebanyak mungkin untuk diberikan kepada majikannya, sedangkan si sapi akan memberikan sosis terbaik buat majikannya. Apa artinya memberikan sosis terbaik? Ini berarti si sapi harus mati terlebih dahulu untuk dapat memberikan dagingnya agar dapat diolah menjadi sosis yang enak buat sang majikan. Pilihan untuk rela kehilangan nyawanya adalah pilihan yang sulit tentunya bagi si sapi. Tetapi di sinilah arti berkorban itu, yaitu memberikan yang terbaik dengan mengesampingkan kepentingan dirinya sendiri.

Itulah Yesus yang rela mati bagi hidup kita. Buah kematian Yesus adalah keselamatan kita. Oleh karena itu, menjadi murid Yesus, kita dipanggil untuk berani melayani, sebagaimana Yesus telah mengorbankan hidup-Nya bagi kita.

Yesus adalah contoh dan teladan utama bagi kita dalam hal pengorbanan diri. Hal itu Ia nyatakan dengan mengorbankan dirinya di kayu salib demi menebus dosa-dosa manusia.

Arti cinta yang utama yaitu tidak mementingkan diri sendiri, namun rela memberikan hidup dan berkorban bagi orang lain. Artinya, pengorbanan diri selalu menjadi syarat bagi suatu ungkapan cinta yang tulus.

Ada nilai-nilai yang terkandung dalam pengorbanan diri yang kita lakukan :

  1. Membantu atau berkorban bagi orang lain berarti ada konsekuensi  kehilangan, misal waktu, tenaga, materi, mungkin juga jabatan dan lain-lainnya.
  2. Buah hasil pengorbanan diri akan memberikan kebahagiaan batin.
  3. Sebagai orang yang percaya dan beriman pada Tuhan, pengorbanan diri menjadi jaminan untuk keselamatan dan kebahagiaan kekal.
  4. Mati bagi egoisme diri, berarti hidup bagi orang-orang yang kita cintai, misal bagi pasangan, anak-anak, orang tua, juga bagi saudara-saudara kita, atau siapa saja yang kita kasihi dan kita jumpai.

Sedangkan orang yang mencintai hidupnya sering didorong oleh dua tujuan:

  1. Keinginan mementingkan diri sendiri.
  2. Keinginan untuk rasa aman.

Dari sini kita mendapat suatu pengajaran bahwa kita perlu membiarkan diri untuk ditanam seperti gandum di dalam tanah, meninggalkan kepentingan diri dan mau menjadi pribadi yang menghasilkan buah. Menanggalkan kepentingan diri berarti mau berkorban dan  mau untuk berbagi.

Mudah untuk dapat  mengatakan bahwa aku ingin mengikuti Yesus, aku ingin hidup seturut kehendak Yesus. Namun sebenarnya  apakah makna dari mengikuti Yesus. Bacaan hari ini mengajak kita untuk senantiasa membangun sikap iman yang membiarkan Allah Bapa senantiasa mewarnai setiap langkah hidup kita. Hidup kita selalu digerakkan oleh Roh Allah sendiri.

Refleksi diri:

Apakah kita sudah menjadi pelayan yang baik dan setia?

Apakah kita mampu dan berani menjadi martir dengan mati terhadap ego kita?

Apakah kita sering menyatakan ungkapan kasih dengan mengatakan “apa yang bisa saya bantu”?

Mampukah kita selalu berpikir apa yang sudah saya berikan bagi orang-orang terdekat yang saya cintai (bagi pasangan, anak-anak, orang tua, saudara kita) dan tidak bertanya apa yang telah mereka berikan/lakukan untuk kebahagiaan saya?

Love until it hurts. Real love is always painful and hurts; then it is real and pure. (Mother Teresa)

 

Berkat dan kasih karunia Tuhan Yesus senantiasa menyertai kita. Amin.

VRE