Jayalah Indonesiaku!!!

Renungan Rabu 17 Agustus 2016, Hari Kemerdekaan Indonesia.

Bacaan: Sir. 10:1-8; Mzm. 101:1a,2ac, 3a,6-7; 1Ptr. 2:13-17; Mat. 22:15-21

Tujuh puluh satu tahun silam, ketika Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dikumandangkan, saya belum ada di dunia ini. Berarti saya tidak pernah mengalami masa penjajahan. Saya tidak pernah mengalami pertentangan dalam hati antara keharusan tunduk kepada bangsa sendiri atau kepada bangsa penjajah. Namun, ternyata ketika hidup sebagai bangsa yang merdeka, seringkali mengalami pertentangan juga dalam hati. Antara keinginan untuk bertindak sekehendak sendiri atau taat kepada pemerintah negara ini.

Ketika orang-orang Farisi berencana menjebak dengan melontarkan pertanyaan hal membayar pajak, Yesus mengajarkan ketertiban, ketaatan dan ketundukan kepada pemimpin, sekalipun masa itu adalah masa pemerintahan penjajah. “…..Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” (ayat 21).

Hidup sebagai bangsa yang merdeka berarti :

  • Tidak bertindak seenak sendiri – tertib (Sir 10:1-3).
    Dua hari yang lalu saya melihat sebuah mobil “khusus” (bukan ambulans atau kendaraan darurat) dengan tenang melawan jalur jalan yang semestinya. Perasaan saya terganggu melihat peristiwa itu. Dalam hal-hal berbeda, mungkin saja saya juga pernah melakukan tindakan-tindakan tidak tertib, sehingga sering membuat perasaan orang lain atau keadaan menjadi terganggu.
  • Taat dan tunduk kepada pemimpin bukan untuk mencari muka.
    Para pemimpin adalah pilihan Tuhan untuk bekerja sama dengan-Nya membangun dan memperluas Kerajaan Allah (Sir 10:4-5). Membuat orang-orang yang dipimpinnya hidup dalam Kerajaan Allah, mengalami terpenuhi kebutuhannya: aman damai, sejahtera, makmur sentosa. Jadi ketundukan dan ketaatan kepada para pemimpin bukan demi kepentingan diri sendiri melainkan karena melakukan kebenaran, melakukan kehendak Allah.

Merdeka berarti bebas dari segala macam bentuk perbudakan dan penjajahan pengaruh dunia, kedagingan dan karya kejahatan iblis, kemudian membebaskan sesama manusia dari perbudakan dan penjajahan itu. Ini harus terus diperjuangkan, bukan lagi dengan bambu runcing, melainkan dengan iman, pengharapan dan kasih.

Marilah kita, Bangsa Indonesia, melaksanakan anjuran kuat penulis Surat 1 Petrus 2:16 – Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.

Jayalah Indonesiaku !!!

Doa :
Sebagai anak-anak yang bersorak sorai penuh kebahagiaan, kami bersujud syukur di hadapan Tahta-Mu, Allah Bapa. Mempersembahkan diri pribadi dan seluruh bangsa kami ke bawah kuasa pemerintahan Yesus Kristus yang adalah Raja. Penuhi kami dengan Roh Kudus, agar mampu hidup sebagai orang merdeka seperti kehendak-Mu. Demi Yesus Tuhan dan Pengantara kami. Amin.

JN