Jalan Kanak-Kanak Rohani

Renungan Selasa 9 Agustus 2016

Bacaan: Yeh. 2:8-3:4; Mzm. 119:14,24,72,103,111,131; Mat. 18:1-5,10,12-14

 

Ketika Yesus menubuatkan untuk kedua kalinya tentang penderitaan dan salib yang akan dihadapi-Nya, kemudian Dia bertanya kepada para murid apakah mereka mengerti. Mereka tidak mengerti, karena di tengah jalan mereka sedang mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka. (bdk. Mrk 9:30-34).

Kemudian Yesus mengambil model di mana Dia mengajak para murid-Nya untuk bercermin, dan model itu adalah seorang anak kecil (bdk. Mrk 9:35-37) dan pada paralelnya di Injil Matius, Yesus bersabda: ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga.” (Mat 18:3-4).

Sabda Tuhan inilah yang telah menerangi seorang kudus dalam Gereja, yaitu St. Theresia Lisieux secara istimewa untuk menemukan ”jalan kecil”-nya. Suatu jalan sangat Injili yang dapat membimbing kita untuk mengarungi bahtera kehidupan di tengah-tengah dunia dewasa ini.

Dewasa ini kita hidup di tengah situasi dunia yang mendewakan kesuksesan, prestasi, materialisme, konsumerisme dan hedonisme. Segala sesuatu dipusatkan kepada manusia, manusia adalah segala-galanya, dan manusia dapat melakukan segalanya, bahkan tak jarang dapat ditambahkan ‘tanpa Allah’. Pelbagai seminar-seminar motivasi dipadati banyak orang, seminar-seminar raksasa, yang seringkali tanpa disadari secara halus tak jarang disusupi ajaran-ajaran gerakan ‘new age’.

Akan tetapi manusia tetaplah manusia dan Allah tetaplah Allah. Kecenderungan kodrat manusia yang sudah dinodai oleh dosa, menjadikan manusia menempatkan dirinya sebagai pusat segala sesuatu, bahkan di atas Allah. Tetapi tetaplah harus diingat, manusia diciptakan dari debu dan akan kembali menjadi debu, ”Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat bahwa kita ini debu. Adapun manusia, hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga; apabila angin melintasinya, maka tidak ada lagi ia, dan tempatnya tidak mengenalnya lagi.” (Mzm 103:14-16)

Sesungguhnya manusia tanpa Allah, tidak dapat berbuat apa-apa (bdk.Yoh 15:5), seluruh hidup manusia tergantung kepada Allah, “Di dalam Dia, kita hidup, kita bergerak, kita ada.”(Kis 17:28).

Ketergantungan kepada Allah inilah yang disadari secara mendalam oleh St. Theresia Lisieux melalui jalan kecilnya, “Untuk menjadi milik Yesus, kita tidak harus menjadi besar, tetapi menjadi kecil, bahkan semakin kecil, seperti setetes embun yang akhirnya lenyap oleh cahaya Sang Matahari Illahi”.

Jalan kecil St. Theresia Lisieux adalah jalan kanak-kanak rohani, bukan untuk menjadi kekanak-kanakan, tetapi untuk menjadi anak kecil di hadapan Allah, sesuai sabda Yesus sendiri : “…jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga…”(Mat 18:3) ataupun pada Amsal 9:4 yang telah menerangi St. Theresia untuk menemukan jalan kecilnya, “Barangsiapa kecil, hendaklah ia datang kepada-Ku” (terjemahan ini berbeda dengan terjemahan LAI).

Bagaimana menjadi ANAK KECIL DI HADAPAN ALLAH menurut St. Theresia Lisieux ?

  1. Menjadi seorang anak kecil itu berarti mengakui kepapaannya, mengakui ketiadaannya, mengharapkan segalanya dari Allah yang baik, bagaikan seorang anak kecil yang selalu mengharapkan segala sesuatu dari ayahnya.
  1. Menjadi seorang anak kecil juga berarti tidak kuatir tentang apa pun juga. Juga apabila kebetulan tampaknya tidak maju.
  1. Menjadi kecil juga berarti menyadari bahwa kebajikan-kebajikan yang dilakukan itu bukan miliknya dan mengakui bahwa dari diri sendiri tidak mampu melakukan sesuatu, sebaliknya mengakui bahwa Allahlah yang memberikan kebajikan itu ke dalam tangannya.
  1. Menjadi kecil berarti tidak putus asa karena kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan, sebab anak-anak kecil itu seringkali jatuh, tetapi karena kecil umumnya tidak melukai dirinya terlalu berat, hanya gores-gores.

Sesungguhnya jalan kecil St. Theresia Lisieux ini mau mengajarkan kita akan kesederhanaan dalam hidup rohani, yaitu dengan menjadi anak kecil di hadapan Allah, menyadari bahwa Allah kita sebagai Bapa, mengasihi kita anak-anak-Nya, seperti kasih orang tua kepada anak kecilnya.

Dan bagaimana kita hidup dalam kepercayaan dan cintakasih kepada Allah, seperti seorang anak kecil percaya dan cinta kepada orang tuanya. Inti jalan kecil St.Theresia Lisieux ini ialah JALAN KEPERCAYAAN DAN CINTAKASIH.

“Tampaknya misiku baru mulai, aku akan melewatkan Surgaku di dunia ini, aku akan mengajar jiwa-jiwa kecil mengasihi Yesus sebagaimana aku telah mengasihi-Nya dan membimbing mereka di jalan kecilku” (St.Theresia Lisieux, percakapan terakhir).

St.Theresia Lisieux, doakanlah kami dan ajarlah kami mengasihi Yesus, sebagaimana engkau telah mengasihi, serta bimbinglah kami di jalan kecilmu. Amin. (ET)