Harta di Sorga

Renungan Senin 15 Agustus 2016

Bacaan: Yeh. 24:15-24; MT Ul. 32:18-19,20,21; Mat. 19:16-22

Di manakah kita dapat menemukan damai, rasa aman dan kebahagiaan sejati?

Seorang muda yang memiliki semua yang terbaik yang dunia dapat berikan – kekayaan, jabatan dan rasa aman – datang kepada Yesus karena ada satu hal yang tidak ia miliki. Ia ingin mempunyai perasaan damai dan kebahagiaan abadi, tidak pernah hilang yang tidak didapatnya dari semua harta dan uangnya.

Sayangnya, jawaban Yesus bukanlah jawaban yang diinginkan dan sesuai dengan hatinya. Ia protes dan mengatakan bahwa dia sudah setia menjalankan semua perintah Tuhan – akan tetapi perkataan Yesus malah membuat hatinya gelisah. Ada satu hal yang masih mengikat dia sehingga tidak dapat memberikan dirinya dengan sepenuh hati kepada Allah. Meskipun ia tidak kekurangan suatu apa pun dari segi harta dan uang, dia sangat terikat kepada semua yang ia miliki. Dia mengandalkan harapan, dan keamanan hidupnya pada apa yang ia miliki. Maka waktu Yesus menantangnya untuk menjadikan Tuhan sebagai harta yang paling berharga dan utama, ia menjadi sedih.
Apakah yang terutama dan menjadi harta yang paling berharga dalam hidup kita?

Kira-kira apa yang menyebabkan orang muda itu pergi meninggalkan Yesus dengan hati yang galau, bukannya dengan sukacita? Karena ia salah menempatkan harapannya – pada harta – bukan pada Tuhan yang menyelamatkan. Harta bisa menjebak kita dan membuat hati serta pikiran kita terikat, keinginan dan kerinduan kita pun akan berfokus pada semakin banyaknya harta yang dapat dikumpulkan.

Bagi orang beriman, Tuhan adalah harta paling berharga dan yang terutama di dalam hidupnya. Kita pun selayaknya bersikap demikian menempatkan Tuhan di atas segalanya, menjadikan Dia yang paling istimewa bukan sebaliknya malah mengikut Tuhan menjadi beban, tetapi harus menjadi suatu sukacita yang besar. Perumpamaan tentang harta yang terpendam (Mat 13:44). Menjual segala milik kita mempunyai arti yang sangat luas, bisa – teman-teman kita, pekerjaan, gaya hidup kita dan apa yang sangat suka kita lakukan di waktu senggang.

Sifat dan sikap memiliki akan membuat kita kehilangan sukacita memberi.

Yesus menantang orang muda itu karena Yesus tahu isi hatinya. Ia takut untuk memberi kepada orang lain karena takut kehilangan apa telah ia kumpulkan selama ini. Orang-orang yang murah hati kepada Tuhan dan juga kepada sesama tetap merasa bahwa kemurahan hati mereka masih dan tidak akan pernah sebanding dengan kemurahan hati Tuhan. Tuhan sudah memberkati kita secara berlimpah dalam segala hal – terutama dalam kasih-Nya yang tidak pernah habis. Begitu banyak rahmat dan kasih, yang Tuhan sudah curahkan kepada kita – kemurahan, pengampunan dan berkat-berkat lainnya yang tidak terhitung dan tak terbilang jumlahnya.

Betapa pun banyak yang kita miliki, tidak akan pernah bisa menyamai banyaknya kasih Tuhan yang diberikan kepada kita – tidak ada harta duniawi yang dapat memuaskan hati yang kosong kecuali kasih Allah.
Maukah kita melepaskan diri dari segala keterikatan dengan harta duniawi dan mengalihkan pikiran serta hidup kita untuk mencari dan mengumpulkan harta surgawi – relasi abadi dan penuh sukacita dengan Yesus?

Doa:
“Tuhan Yesus, hanya Engkau saja yang dapat memuaskan hidupku, mengisi kekosongan hatiku yang terdalam. Tidak ada harta yang lebih berharga selain Engkau – tidak ada yang sebanding dengan Engkau di dunia ini. Jauhkanlah kami dari ketidakpuasan, keserakahan, kekikiran dan keegoisan – sebaliknya ajari kami dan tambahkan selalu dalam hidup kami kemampuan dan kemauan untuk memberi dan berbagi. Hanya engkau sajalah sumber sukacita hidupku, Engkaulah yang paling berharga dan terutama di dalam hidup kami.”

MM