Datang ke Pesta-NYA

Renungan Kamis 18 Agustus 2016

Bacaan: Yeh. 36:23-28; Mzm. 51:12-13,14-15,18-19; Mat. 22:1-14

Aku menunjukkan kekudusan-Ku kepadamu di hadapan bangsa-bangsa. (Yeh 36:23).

Pada suatu “lowongan kerja”, merupakan kesempatan bagi banyak orang yang ingin bekerja bergabung dengan perusahaan tersebut, biasanya banyak yang berminat dan mencoba melamar. Panggilan diberikan, diterima dan ada yang telah mencoba bekerja bersedia mengikuti persyaratan atau aturan kerja. Tetapi hanya satu dua yang dapat memenuhi tuntutan lowongan kerja atau panggilan kerja tersebut.

Beraneka bangsa, suku, ragam dan macam talenta manusia dengan banyak cara panggilan atau macam undangan Tuhan Allah Bapa memanggil atau mengundang kita menjadi anak dan pekerja-Nya dalam Kerajaan-Nya.
Para undangan Allah Bapa ada yang sungguh merasa beruntung dan bersyukur karena dirinya dipanggil dan diterima sebagai seorang manusia biasa yang diundang oleh Allah Bapa Raja Alam Semesta Yang Maha Tinggi. Mereka datang memenuhi undangan dengan persiapan sebaik-baiknya penuh hormat dengan hati bersyukur yang tulus. Tetapi masih banyak dari kita manusia mengabaikan. Karena merasa, jika undangan/panggilan itu tiada menjanjikan atau memberikan keuntungan atau kenikmatan duniawi yang dapat diperolehnya maka tiada gunanya mendatangi panggilan atau undangan tersebut. Apalagi jika kita harus bekerja keras, melayani dengan rendah hati dan lemah lembut. Yesus pun mengalami kesulitan mengundang, memanggil dan mencari pekerja bagi Kerajaan Allah, dengan memberikan perumpamaan dalam Mat 22:3-6.

Ia menyuruh hamba-hamba-Nya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang. Ia menyuruh pula hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya hidangan, telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini. Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya. (Mat 22:3-6).

Dunia dan kedagingan kita manusia, membentuk sikap mental materialistis dan egois yang merasuki banyak orang masa kini, dengan kemerosotan hidup dalam dunia. Kita umat Kristiani juga harus menghadapi aneka tantangan dan hambatan atau godaan berat ini. Berjuang penguasaan diri atas kedagingan kita dengan pengaruh dunia dalam lingkungan kehidupan kita sehari-hari adalah bagian karakter buah Roh dalam Galatia 5:23. Misalnya, kita diundang/dipanggil menghadiri suatu acara dari seorang pejabat tertinggi negara. Pasti ada dorongan kuat untuk datang menghadiri memenuhi undangan atau panggilannya, mempersiapkan waktu dan penampilan sesempurna mungkin. Dengan berharap adanya relasi lanjut dan kesempatan-kesempatan atau peluang hubungan kerja atau sedikitnya kita punya rasa terhormat karena diundang oleh pejabat negara tertinggi tersebut.

Bukan dengan maksud undangan itu harus kita tolak. Tetapi hanya sebagai ukuran motivasi diri kita, bagaimana motivasi kita ketika kita yang dipanggil Tuhan dan telah menjadi pekerja di ladang-Nya atau penggembala domba domba-Nya bagi kerajaan Allah. Bagaimana dan apa yang akan kita telah persiapkan diri kita bagi-Nya? Yesus mengumpamakan dalam Matius 22:8, “Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu.” Dan di Matius 22:12 “Ia berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja.”

Juga dapat terjadi pada kita umat Kristiani yang terpanggil memenuhi undangan-Nya melayani membangun dalam Kerajaan-Nya, baik panggilan melayani dalam kehidupan sehari-hari dalam keluarga, pekerjaan, dan dalam pelayanan sebagai orang tua, anak, pewarta firman, guru, pengajar, para koordinator pelayanan kristiani dalam paroki, lingkungan, PDKK, SEP, KEP dan lain lain. Perlu kita umat Kristiani yang terpanggil selalu memeriksa diri kita sendiri , saat bersekutu pribadi dalam Tuhan dan Firman-Nya bersama Roh Kudus. Mintalah kepada Tuhan supaya membuat hati kita jadi tahir, dan memperbaharui batin kita dengan roh yang teguh. Serta minta komunitas  atau persekutuan saudara kristiani kita untuk memberi masukan, peringatan atau teguran bagi kita. Bagaimana dan sejauh mana kita bekerja bagi-Nya dan apakah kita telah menyiapkan diri memenuhi undangan-Nya bekerja dalam Kerajaan-Nya. Jangan sampai kita menjadi batu sandungan. Tanpa sadar, kita memasuki undangan Allah, dengan kurang atau tidak menyiapkan diri, dan kurang menghormati yang mengundang. Tetapi datanglah dan melayanilah yang tulus untuk menyenangkan hati Tuhan yang telah mengundang kita masuk ke dalam pesta-Nya. Sehingga Yesus akan mengatakan kepada kita, “Mari masuklah kemari engkau yang telah datang dengan pakaian pesta terbaik.

WN