Bersihkan Bagian Dalam

Renungan Selasa 23 Agustus 2016

Bacaan: 2Tes. 2:1-3a,13b-17; Mzm. 96:10,11-12a,12b-13; Mat. 23:23-26

‘Selasih, ingu dan jintan’ adalah tanaman yang begitu kecil dan harganya begitu murah. Namun, itu dipersoalkan dan menjadi persepuluhan, dikenai pajak. Demikian, kecaman Yesus kepada para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Bahwa yang mereka persoalkan adalah hal-hal remeh dan tidak penting, mereka lebih mementingkan aturan-aturan, hukum-hukum, tata cara keagamaannya, semua hal-hal yang remeh, kecil, tetapi menjadi beban berat bagi masyakarat.

Esensi, isi pesan yang mendalam dari Kitab Taurat tidak pernah disentuh sama sekali. Esensi Kitab Taurat yang mengajarkan tentang cinta kasih, pengampunan, pertobatan, Allah yang maha rahim, penuh pengampunan bagi para pendosa. Allah yang menyelamatkan, yang seharusnya kita wartakan, lakukan dan teladankan, malahan tidak disentuh dan dipentingkan.

Kasih dan pengampunan itu perlu pertobatan dan pertobatan itu adalah membersihkan terlebih dahulu bagian dalam dari kehidupan, yakni hati kita. Selanjutnya, pertobatan itu akan mengubah sikap hati yang penuh dosa menjadi sikap belas kasih dan dinyatakan dalam perbuatan konkrit, yakni: peduli kepada sesama, rela berkorban, mau memaafkan, menolong sesama, dan perbuatan baik lainnya dalam kehidupan.

Demikian, teguran dan penyadaran Yesus kepada ahli-ahli Taurat dan kaum Farisi. Namun firman Allah itu bersifat kekal, sehingga teguran dan penyadaran Yesus itu juga bisa tertuju bagi kita masing-masing saat ini. Tidak jarang, kita berdebat, bertengkar tentang ajaran agama, saling mempertahankan dan menganggap agama kita yang paling benar, paling asli dan paling selamat. Tetapi, realita dalam sikap dan perilaku kita sehari-hari sungguh kontradiksi dengan esensi dari firman Allah.

Kita atau Gereja, sibuk menimbun persepuluhan, kita sibuk menepiskan nyamuk di minuman tetapi onta di dalamnya kita telan. Kita hanya sibuk membersihkan cawan dan pinggang di sisi luar, tetapi sebelah dalamnya penuh dengan rampasan, kerakusan, ketamakan ,ketidak adilan. Kita sibuk berbicara tentang agama, ritual peribadatan, acara-acara kerohanian, retret-retret, seminar-seminar, dll yang semua itu hanya menyentuh pada tataran kulit-kulit luarnya saja, tetapi sisi yang terdalam dari firman itu, Allah yang berbelas kasih, memaafkan, mengampuni, menyelamatkan, yang seharusnya kita hadirkan dalam sikap dan perilaku kita sehari-hari, tidak pernah tampak.

Semoga firman yang kita baca ini, bisa menyadarkan kita semua. Kita benar-benar kembali menjadi anak-anak Allah, murid-murid Kristus yang sejati, yang mewartakan cinta kasih, pengampunan, sukacita dan kegembiraan hidup, bukan dengan kata-kata, tetapi dalam perubahan-perubahan sikap hidup yang lebih baik, lebih mengasihi, lebih peduli, dalam sikap dan tindakan konkrit sehari-hari.

Salam
FX. Santoso T.