Belas Kasihan dan Kepedulian

Belas Kasihan dan Kepedulian Melahirkan Mujizat

Bacaan: 1Kor. 1:26-31; Mzm. 33:12-13,18-19,20-21; Luk. 7:11-17

“Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!”

Yesus tergerak oleh belas kasihan ketika melihat kesedihan seorang janda yang menangis karena kehilangan anak tunggalnya. Yesus tidak menyepelekan penderitaan janda tersebut, Dia menghampiri usungan dan menyentuh keranda jenasah sambil berkata, “Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!” dan anak muda yang telah mati itu hidup kembali.

Melalui perikop ini kita melihat bahwa Yesus yang terlebih dahulu melakukan inisiatif untuk menolong, karena Yesus merasakan apa yang dirasakan janda tersebut, merupakan satu pukulan yang terbesar kehilangan anak laki-laki satu-satunya, maka Yesus berkata kepadanya: “Jangan menangis!”. Sikap kepedulian yang luar biasa ditunjukkan oleh Yesus yang langsung pada tindakan nyata untuk menunjukkan kepedulian-Nya kepada orang yang dalam kesusahan. Jika mungkin diperhadapkan dengan kehidupan saat ini mungkin banyak orang hanya sebatas kata-kata untuk menunjukkan rasa kasihannya, mungkin juga hanya sebatas ingin tahu saja dengan permasalahan-permasalahan hidup orang lain tanpa mampu memberi solusi atau mungkin saja pada saat sekarang ini banyak orang yang hanya mau melihat dan mendengar penderitaan orang lain tanpa mau “menyentuh” permasalahan yang dihadapinya itu. Tetapi di sini terlihat bagaimana Yesus tanpa banyak bertanya dengan rasa penuh kasihan lalu memberi penghiburan, serta dengan penuh kasih turun tangan untuk “menyentuh” persoalan itu sehingga “mujizat” pun terjadi.

Mujizat yang terjadi di kota Nain pada esensinya dilandasi oleh belas kasihan dan kepedulian Tuhan Yesus kepada janda itu.  Kita harus memahami bahwa karya-karya mujizat Kristus pada intinya merupakan wujud dari rasa kepedulian dan belas kasihan-Nya kepada orang yang sedang menderita. Pada prinsipnya tindakan yang dilakukan Yesus merupakan rasa simpati terhadap penderitaan sesamanya yang dinyatakan dengan keinginan untuk menolong. Itu sebabnya setiap kali disebutkan “tergeraklah” hati Yesus oleh belas kasihan maka ada  suatu tindakan nyata dari Tuhan Yesus sebagai respon.

Di Luk 7:16, orang banyak yang melihat karya mujizat Tuhan Yesus yang dapat membangkitkan pemuda Nain tersebut memberikan suatu respon. Mereka segera memuliakan Allah sambil berkata bahwa seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita, dan Allah telah melawat umat-Nya.

Hal ini membawa dampak  penting dalam kehidupan iman kita, yaitu setiap orang percaya yang telah mengenal kasih Allah seharusnya ditandai oleh rasa kasih dan sikap kepedulian, sehingga setiap orang percaya bersedia ambil bagian dalam karya keselamatan Allah untuk menolong sesamanya. Bukankah saat kita dikelilingi oleh orang-orang yang peduli dan mengasihi kita, maka kita akan diteguhkan saat menghadapi  kedukaan.

Dengan demikian sangat jelas bahwa sikap mengasihi dan kepedulian pada hakikatnya lahir dari hati yang mengasihi sesama tanpa syarat, tercipta dari pancaran pribadi yang telah mampu keluar dari ego. Ketika kehidupan kita didasari oleh bela rasa Kristus, maka sesungguhnya kita telah merayakan kehidupan ini dengan mempermuliakan nama Allah.

Yesus pun rela dianiaya dan mati di atas kayu salib untuk menebus semua orang. Menganugerahkan sebuah keselamatan, pemulihan hubungan dengan Allah kepada semua orang, terlepas apakah orang itu orang baik atau tidak. Itulah bentuk kasih Kristus yang sungguh luar biasa. Sebagai orang yang percaya pada Kristus, mari kita mencerminkan kasih Kristus, karena Yesus telah memberi keteladanan penting akan bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap orang lain yang mengalami kesusahan.

SWW

Image result for Luke 7:11-17;