Balasan Setimpal

Renungan Jumat 5 Agustus 2016

Bacaan: Nah. 1:15; 2:2; 3:1-3,6-7; MT Ul. 32:35cd-36ab,39abcd,41; Mat. 16:24-28

Setiap Orang Akan Dibalas Setimpal Dengan Perbuatannya

Kita sudah terbiasa mengunyah permen yang memberikan rasa manis, asam dan asin. Sayang pemahaman kita tentang karakter Allah tidak seluas pemahaman kita tentang permen. Mungkin kita telah punya pemahaman dan pengetahuan teologis yang benar dan seimbang tentang Allah, tapi tidak sering berfungsi dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai contoh, kita mengaku Allah itu maha adil, kudus, dan membenci dosa. Tetapi tindakan kita sering memberi kesaksian bahwa seakan-akan Allah toleran terhadap “dosa kecil” yang kita lakukan.

Nahum 1 memberikan gambaran tentang Allah yang seimbang. Allah digambarkan sebagai Allah yang membalas dendam dan menghukum dengan penuh cemburu dan amarah kepada para musuhnya. Sehingga orang tidak tahan menghadapi amarahnya. Tetapi Allah itu juga baik, mau menjadi pelindung dan mengenal orang yang berlindung kepada-Nya. Ini terwujud terutama melalui perlindungan-Nya kepada Yehuda yang telah banyak menderita karena Asyur. Ia pengasih tetapi juga tegas dan adil.

Hal ini juga sering aku rasakan dalam kehidupanku ketika aku mengalami masalah yang besar atau melakukan suatu kesalahan melalui mulut dan perbuatan. Ketika aku datang kepada-Nya, berdoa dan meminta ampun, aku merasakan Dia mengasihi aku, menolong aku dan mengampuni aku dengan memberikan jalan keluar.

Orang yang bersalah pasti akan dihukum bila tidak bertobat. Sebaliknya orang yang bertobat dan meninggalkan hidup jahatnya pasti akan diampuni dan diselamatkan.

Mengapa Allah menghukum Niniwe?
1. Karena dosa berdarah yang dilakukan penduduknya terhadap para musuhnya
2. Karena mereka memakai persundalan dan perdukunan untuk mencapai tujuan jahat mereka

Nahum menyebut Niniwe sebagai kota yang bersundal. Kesombongan membuat Asyur lupa diri sehingga tidak bertobat dan Allah menghukum Asyur meski dia pernah menjadi alat-Nya. Hal ini merupakan peringatan bagi kita semua sebagai pengajar, pendoa, pengkhotbah, siapapun kita, yang mengaku sebagai anak-anak-Nya tidak boleh tinggal tetap dalam kehidupan berdosa: “menjadi sombong”.

Kelemahlembutan, kesetiaan dan kerendahan hati harus menjadi karakter kita yang memperkenalkan Allah dan memberkati sesama. Apakah kita sungguh-sungguh mengimani Dia yang pernah bergantung di salib dengan rela demi sebuah penebusan?

Dalam Injil Matius, Yesus menegaskan bahwa menjadi pengikut Kristus itu tidaklah mudah karena harus mempersembahkan hidup seutuhnya bagi Dia. Rela menyingkirkan segala keinginannya bila tidak sesuai dengan-Nya, rela berbagi kesulitan, pergumulan, tantangan dan ancaman karena Dia, dan mengarahkan langkah kita mengikuti jejak-Nya (Mat 16:24). Yesus memberikan alasan melalui suatu paradoks yang bernilai kekekalan. Bila seseorang menikmati kesenangan dunia, ia akan kehilangan kesempatan hidup selamanya, sebaliknya bila seseorang rela kehilangan kesempatan hidup di dunia, ia akan memperoleh kehidupan yang mulia di dalam kekekalan (ayat 25-26). Bila ia memilih yang kedua maka Anak Manusia akan menyambut-Nya dalam kemuliaan-Nya (ayat 27)

Renungkan:
Motivasi mendapatkan kesuksesan dan ketenaran sebagai pengikut-Nya akan membawa kepada kehancuran dan kekecewaan. Jalan yang seharusnya kita tapaki menuju kemuliaan-Nya memang tidak mudah karena Ia tidak pernah menjanjikan kemudahan tetapi kehidupan kekal bersama Dia dalam perjuangan memikul salib-Nya.

Doa: Tuhan Yesus, tanamkanlah dalam hatiku suatu hasrat mendalam untuk memikul salib sehingga dengan demikian aku dapat menerima kehidupan sesuai dengan kehendak Bapa Surgawi. Semoga aku dapat seperti Engkau yang dengan bebas memikul salibku dalam kehidupan ini. Amin.

JH