Turun dari Panggung Sandiwara

Renungan Kamis 28 Juli 2016

Bacaan: Yer. 18:1-6; Mzm. 146:2abc,2d-4,5-6; Mat. 13:47-53

“Dunia ini panggung sandiwara. Cerita yang mudah berubah, ada peran wajar ada peran berpura pura. Peran yang kocak bikin kita terbahak-bahak. Peran bercinta bikin orang mabuk kepayang. Dunia ini penuh peranan. Mengapa kita bersandiwara? Mengapa kita bersandiwara?” Ini adalah cuplikan lirik sebuah lagu yang pernah populer di era tahun 80-an.

Pertanyaan “mengapa kita bersandiwara?” baik direnungkan sebagai refleksi diri apakah saya juga bersandiwara dalam hidup ini. Apakah saya berusaha menampilkan yang baik tetapi ada kemunafikan di dalamnya? Apakah saya sering mengenakan topeng-topeng kebaikan hati, kesuksesan, kebahagiaan, kecantikan, kegagahan, tetapi menyembunyikan bahkan mungkin tidak menyadari kebusukan, kejahatan, pikiran-pikiran negatif, dendam, iri hati, kekerasan hati tak mau mengampuni, kesombongan dan seterusnya?

Firman Tuhan hari ini hendak mengingatkan kita hidup di dunia ini ada akhirnya. Tetapi jiwa manusia kekal. Pada akhirnya yang tinggal adalah kehidupan kekal atau kematian kekal.

“…pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar, lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.” (Mat 13:49-50)

Agar sampai kepada tujuan kehidupan kekal maka kita harus mau turun dari panggung sandiwara, artinya kita masuk dalam pertobatan yang terus menerus. Tidak lagi mengejar apa yang saya inginkan tapi hanya mengejar apa yang Tuhan inginkan. Berarti saya mau dibentuk, mau diproses dan mau berubah seperti bejana di tangan tukang periuk. “Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.” (Yer 18:4)

Doa: Ya Roh Kudus, curahkan rahmat-Mu agar aku menyadari segala yang kurang berkenan di hadapan Bapa, agar aku mau berubah, tidak takut dengan rasa sakit karena diproses, tidak mengeraskan hatiku, agar aku makin bersandar pada-Mu setiap hari. Amin.

Tuhan memberkati.

PPT