Tuhan Kekuatan dan Harapan

Renungan Minggu 24 Juli 2016

Bacaan: Kej. 18:20-33; Mzm. 138:1-2a,2bc-3,6-7ab,7c-8; Kol. 2:12-14; Luk. 11:1-13

Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka kamu akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.

Setiap orang hatinya dipenuhi dengan keinginan-keinginan, persoalan-persoalan dan kebutuhan-kebutuhan, yang mana hal ini dapat menimbulkan beban dalam hidupnya. Dan respon terhadap semuanya itu berbeda. Ada yang menghadapinya dengan tak terkendali, putus asa, tetapi ada pula yang dengan tenang bertahan dalam ketabahan. Sebagai murid Kristus, bersyukurlah kita bahwa iman kita mengajarkan semua persoalan tersebut baik keinginan, beban kehidupan maupun kebutuhan ini dapat kita bawa ke hadapan Bapa Surgawi, meminta kepada-Nya sampai kita mendapatkan kekuatan dan jalan keluarnya. Kita tidak bertumpu pada kekuatan kita sendiri. Dalam diri kita ada kesadaran bahwa di dalam Tuhan ada kekuatan, di dalam Tuhan ada pengharapan. Kita yakin dan percaya bahwa Tuhan ikut ambil bagian dalam setiap persoalan yang kita hadapi, asal bukan karena menuruti keserakahan dan ego kita. Oleh karena itu, kita akan memperoleh kekuatan dari-Nya, bila kita:

  1. Mengenal kepada siapa kita berharap.
    Dalam perikop ini Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita doa Bapa Kami. Dasar keberanian kita untuk memohon belas kasih Bapa atas yang kita perlukan adalah karena kita mengetahui kerahiman Bapa yang tiada batasnya. Kasih-Nya melebihi kasih orang tua kepada anaknya. Kita sungguh percaya, Allah itu Bapa kita yang mengenal dan memperhatikan kebutuhan kita. Tuhan tidak menutup mata terhadap segala kebutuhan kita baik jasmani maupun rohani. Bapa akan memberikan Roh Kudus untuk memimpin kita sehingga kita sanggup mengerti bukan kehendak kita sendiri, tetapi kehendak-Nya.
  2. Tahu bagaimana kita berbicara kepada-Nya.
    Kita berbicara kepada-Nya dengan tekun tidak cepat putus asa. Seperti yang telah dialami oleh Abraham saat mohon pengampunan bagi Sodom dan Gomora serta cerita tentang orang yang datang mengetuk pintu dan meminta roti di tengah malam adalah menggambarkan kegigihan serta mengingatkan ketekunan dalam berdoa sehingga menumbuhkan kesediaan Tuhan untuk mendengarkan dan mengabulkan doa kita. Maka baiklah doa kita ucapkan terus-menerus yang dalam realitasnya adalah relasi yang tak kunjung putus dengan-Nya.
  3. Tahu untuk apa kita memintanya. Dalam doa Bapa Kami kita tidak menyebut saya tetapi kami. Ini berarti kita diajar untuk berdoa meminta rejeki tidak hanya untuk diri sendiri dan orang yang kita kasihi tetapi juga bagi orang lain termasuk orang-orang yang tidak kita senangi dan yang membenci kita. Juga untuk diampuni maupun dibebaskan dari berbagai pencobaan tidak untuk kepentingan kita sendiri tapi untuk semua orang. Doa yang sangat bagus ini tidak akan berguna jika hanya sebatas mengucapkannya sambil menunggu karunia Bapa tanpa dihayati dalam kehidupan nyata dan mewujudkan dalam kehidupan sehari-hari bagi sesama tanpa pilah maupun pilih.

Doa: Tuhan ajari aku mempunyai kekuatan untuk memiliki hati yang penuh kasih dan sikap yang murah hati, sehingga aku dapat berguna bagi-Mu, menjadi alat-Mu sebagai saluran berkat bagi sesamaku. Amin.

LKME