Tanah Yang Baik

Renungan Rabu 20 Juli 2016
Bacaan: Yer. 1:1,4-10; Mzm. 71:1-2,3-4a,5-6ab,15ab,17; Mat. 13:1-9

Dalam bacaan pertama dikisahkan bahwa ketika Allah menetapkan Yeremia sebagai utusan-Nya, Yeremia beralasan bahwa ia masih muda dan tidak pandai bicara, namun Allah menyatakan untuk selalu menyertainya dan telah menaruh perkataan-perkataan-Nya di dalam mulut Yeremia, untuk menjadi utusan-Nya. Yeremia diangkat oleh Allah untuk memimpin bangsa-bangsa dan kerajaan-kerajaan sebagai Nabi untuk menyampaikan segala yang diperitahkan Allah bagi umat-Nya.

Dalam bacaan hari ini, Yesus mengajarkan hal Kerajaan Sorga melalui perumpamaan benih dan penabur. Dan Yesus menjelaskan keadaan atau kondisi jatuhnya benih baik yang ditaburkan penabur itu berada di 4 (empat) tempat, yaitu:

  1. Jatuh di pinggir jalan, benih belum sempat tumbuh dan tidak berselang lama habis dimakan burung.
  2. Jatuh di tanah yang berbatu-batu, setelah tumbuh tidak lama kemudian kering, karena kekurangan air.
  3. Jatuh di tengah semak duri, setelah benih tumbuh beberapa saat lalu mati karena terhimpit semak duri.
  4. Jatuh di tanah yang baik, lalu berbuah, ada yang seratus kali lipat; ada yang enam puluh kali lipat dan ada yang tiga puluh kali lipat.

Perumpamaan ini banyak memberikan inspirasi dan makna dalam menjalani hidup kekristenan, terlebih dalam mengemban tugas sebagai seorang Pewarta Injil atau Pelayan Sabda, yang selalu berusaha agar dapat menjala semakin banyak orang dan menanamkan benih iman Kristiani, namun ternyata keadaan orang-orang yang menerima pewartaan Injil, ada di ke empat keadaan seperti yang digambarkan oleh Yesus. Bahkan benih yang jatuh di tanah yang baik sekalipun setelah jadi pohon, jumlah buahnya berbeda-beda. Maka perumpamaan ini menjadi pendorong bagi “penabur” : pewarta Injil, Pelayan Sabda, pengajar dan pemimpin rohani lainnya, untuk tidak berkecil hati dan tetap setia mengajarkan Firman Tuhan, karena proses (memerlukan waktu) seseorang menjadi percaya itu sesungguhnya adalah karya Roh Kudus yang menggunakan mulut para pewarta, pelayan Sabda, pengajar, pemimpin rohani untuk menuntun seseorang kepada Tuhan Yesus.

Ketika saya bersama teman-teman alumni Sentra Evangelisasi Pribadi (SEP) Yohanes Penginjil Surabaya terpanggil dan ada kerinduan untuk membentuk Kursus Evangelisasi Pribadi (KEP) di paroki, maka kerinduan dan dorongan itu kami sampaikan kepada Pastor Kepala Paroki, ternyata mendapat sambutan dan dukungan, lalu mulailah membuka pendaftarannya. Pada awalnya murid yang mendaftar tercatat berjumlah hampir seratus orang, dan kami seluruh panitia merasa bersyukur. Kami selalu memantau dan menghubungi serta memberikan dorongan, pendampingan kepada murid-murid yang mulai kurang aktif, dan ada beberapa orang murid aktif kembali, tetapi ada juga yang tetap tidak aktif. Dalam perjalanannya sampai minggu ke tujuh nampak mulai berkurang. Dan akhirnya sampai selesai kelas Misi Evangelisasi jumlah murid masih tinggal sebanyak hampir 50 orang. Kami semua panitia KEP bersyukur dan bersukacita karena Roh Kudus telah menggunakan kami (panitia KEP) untuk boleh menuntun mereka mengalami Tuhan Yesus. (jhs)