Selamat Bersama Roh Allah

Renungan Jumat 8 Juli 2016

Bacaan: Hos. 14:2-10; Mzm. 51:3-4,8-9,12-13,14,17; Mat. 10:16-23

Shalom saudara-saudaraku dalam Kristus, damai sejahtera Kristus bagi kita semua.

Bacaan Firman Tuhan dalam liturgi hari ini menjadi bahan refleksi kehidupan rohani kita masing- masing. Tuhan mengutus setiap kita untuk menjadi saksi-Nya di tengah-tengah dunia kehidupan kita.

  • Sudahkah kita menjadi terang Kristus yang menerangi kegelapan dosa yang ada di sekitar dunia kehidupan kita?
  • Ataukah kita terintimidasi dengan gaya hidup orang-orang di sekitar kita yang tidak sesuai dengan cara hidup Kristiani?
  • Apakah kita bersikap pasif dan berprinsip “yang penting aku selamat” dan kurang peduli dengan keadaan sekitar kita?
  • Sebagai orang kristiani, dengan sikap pasif kita apakah keselamatan Kristus benar-benar tetap kita miliki?
  • Atau lebih parah lagi, aku justru ikut arus dosa dan ikut menikmati buah dosa seperti orang-orang Israel yang ditegur Tuhan melalui nabi Hosea?

Karena kasih-Nya, Tuhan menyadarkan kita melalui sabda-Nya, agar kita tidak hanyut seperti orang-orang Israel pada waktu itu yang mendua hati, menyembah berhala dan hidup dalam kenikmatan dosa. Adakah berhala-berhala modern seperti kekayaan, popularitas, dan lain-lain dalam hidup kita saat ini, yang membuat kita menghalalkan segala cara untuk memperolehnya melalui dusta, memutar-balikkan kebenaran, gosip?

Karena kerahiman-Nya, Tuhan selalu memberi kesempatan seseorang untuk berbalik dari hidup dalam keberdosaan. Hidup dalam keberdosaan membuat seseorang menuju kebinasaan kekal, membuat seseorang kehilangan keselamatan dari Tuhan, dan berhadapan dengan keadilan Tuhan yang meminta pertanggungjawaban hidupnya.

Karena kerahiman-Nya, Tuhan menunjukkan jalan melalui sabda-Nya, agar seseorang mau mengakui keberdosaannya, menyesali dan berbalik dari segala yang tidak berkenan kepada Tuhan, memohon belas kasihan dan rahmat pengampunan-Nya, meminta hati yang murni dan semangat yang diperbarui, menerima Sakramen Tobat, sehingga dengan penuh sukacita senantiasa dapat memuji dan memuliakan Tuhan.

Sebesar apapun dosa dan segelap apapun masa lalunya, ketika seseorang menanggapi sabda ini dengan segenap hati dan melakukannya, rahmat pengampunan Allah tercurah atas hidupnya, dan dirinya dipulihkan dan dilayakkan kembali menjadi bait Roh Allah yang kudus.

Itulah yang Tuhan rindukan dalam hidup kita, senantiasa hidup di dalam kebenaran dan kekudusan-Nya dan dengan penuh sukacita menjadi saksi-Nya dalam pimpinan Roh Kudus-Nya. Keterbatasan kecerdasan manusiawi dan keegoisan kita tidak lagi menjadi penghalang, karena oleh pimpinan Roh Kudus hikmat kebijaksanaan-Nya dan ketulusan hati Kristus diberikan-Nya dalam hidup kita. Kita menjadi saksi Kristus yang cerdik dan tulus yang senantiasa waspada terhadap segala kejahatan.

Jika hidup kekatolikan kita sudah sampai tahap ini, maka si jahat dan dunia yang dikuasai kegelapan dosa tidak lagi dengan mudah dapat menipu kita. Marilah kita bergandengan tangan bersatu hati menuju titik ini dan menjadikan diri setiap kita menjadi saksi Kristus dalam hidup sehari-hari yang dipimpin oleh Roh Kudus.

Seorang ayah, yang memiliki putra berusia lima tahun, memasukannya ke sekolah musik untuk belajar piano supaya kelak menjadi seorang pianis terkenal. Beberapa waktu kemudian, di kota tersebut datang seorang pianis yang karena ketenarannya, dalam waktu singkat tiket konsernya terjual habis! Sang ayah juga membeli dua tiket untuk dia dan anaknya.

Saat pertunjukan belum dimulai, si anak kecil ini tidak bisa duduk diam, ia menyelinap ke balik panggung dan ketika lampu mulai diredupkan, sang ayah terkejut menyadari kalau putranya sedang berjalan menghampiri piano di panggung. Tanpa rasa takut, ia duduk dan mulai memainkan sebuah lagu sederhana, Twinkle Twinkle Little Star.

Operator lampu sorot mendengar suara piano, mengira konser sudah dimulai dan langsung menyorotkan lampunya ke arah panggung. Penonton terkejut melihat yang di panggung adalah seorang anak kecil. Sang pianis bergegas naik ke panggung, ia tidak marah. Sambil tersenyum dia berkata, “Teruslah bermain, Nak.” Si anak meneruskan permainannya.

Sang pianis lalu duduk di sampingnya dan mulai bermain mengimbangi permainan anak itu, ia mengisi kelemahan-kelemahan permainan anak itu, sehingga terdengar sangat indah, bahkan mereka seakan menyatu dalam permainan piano.

Ketika selesai, seluruh penonton menyambut dengan tepuk tangan meriah. Si anak merasa besar kepala, pikirnya, “Wah, hebat juga saya, baru belajar sebentar,  sudah bisa main piano dengan hebat!” Ia lupa bahwa yang disoraki penonton adalah sang pianis yang telah mengisi semua  kekurangannya dan menjadikan permainannya sempurna.

Seperti anak kecil itu, kita sering lupa bahwa tanpa Tuhan di samping kita dan tanpa pimpinan Roh Kudus, kita bukan siapa-siapa. Jika Tuhan bersama  kita dan Roh Kudus-Nya memimpin hidup kita, sesederhana apapun yang kita lakukan, akan menjadi kesaksian bagi kemuliaan nama-Nya, yang menerangi bukan saja hidup kita sendiri, tetapi juga orang di sekitar kita.

Tergenapilah sabda Tuhan dalam Matius 10:22 bagi kita, bahwa kita akan selamat, ketika kita  bertahan menjadi saksi-Nya dalam pimpinan Roh Kudus sampai kesudahan akhir hidup kita.

Berkat kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, cinta kasih Allah Bapa dan persekutuan Roh Kudus beserta kita senantiasa. Amin.

HLTW