Risiko Utusan Tuhan

Renungan Sabtu 30 Juli 2016

Bacaan: Yer. 26:11-16,24; Mzm. 69:15-16,30-31,33-34; Mat. 14:1-12

Bacaan Injil Matius hari ini mengenai perikop tentang Yohanes Pembaptis dibunuh atas perintah raja Herodes karena ia menegur Herodes yang mengawini Herodias, istri Filipus saudara Herodes (kakak iparnya).

Matius 14:3-4 Sebab memang Herodes telah menyuruh menangkap Yohanes, membelenggunya dan memenjarakannya, berhubung dengan peristiwa Herodias, isteri Filipus saudaranya. Karena Yohanes pernah menegornya, katanya: “Tidak halal engkau mengambil Herodias!”

Herodes Antipas (anak Herodes Agung yang meninggal tahun 4 SM) menyuruh menangkap Yohanes Pembaptis , membelenggu dan memasukkan ke penjara. Karena Yohanes Pembaptis menegor Herodes Antipas bahwa tidak halal dia mengambil Herodias sebagai istrinya, karena Herodias adalah istri Filipus saudaranya yang masih hidup. Menurut hukum taurat yaitu di kitab Imamat pasal 18 tentang perikop kudusnya perkawinan, disebutkan bahwa tidak boleh mengawini istri dari saudara kandung sendiri, atau mengawini kakak ipar atau adik ipar. Itulah sebabnya Yohanes Pembaptis menegur Herodes Antipas, sebab yang dilakukan adalah perbuatan terlarang.
Herodes Antipas ingin membunuhnya, tapi ia takut karena Yohanes Pembaptis dipandang sebagai nabi.
Tetapi karena sumpahnya di hari ulang tahunnya kepada anaknya Herodias yang meminta kepala Yohanes Pembaptis di atas sebuah talam, maka ia menyuruh memenggal kepala Yohanes Pembaptis dan kepala itu dibawa di sebuah talam dan diberikan kepada gadis itu dan dibawanya kepada Ibunya.

Yohanes Pembaptis dibunuh dan menjadi martir. Ia telah menunjukkan keberaniannya menegur Raja yang salah jalan. Inilah risiko utusan Tuhan. Sebagai “Nabi’ utusan Tuhan, Yohanes Pembaptis harus memberitakan/mewartakan suara Tuhan. Meskipun harus menanggung risiko ditentang dan tidak disukai orang bahkan sampai wafat.

Pada awal saya masuk SEP (Sentra Evangelisasi Pribadi), tahun pertama Misi Evangelisasi, semangat untuk mewartakan Injil berkobar-kobar sehingga setiap kesempatan bertemu dengan orang, saya bagikan dan mengatakan bahwa Yesus sungguh amat baik, kasihnya tidak berkesudahan. Saya ingin dan mengajak mereka untuk bergabung mengalami Tuhan yang hidup dan meraja dalam hidup kami. Di mana kami mengalami kasih, sukacita, damai sejahtera dan sebagainya (Gal 5:22-23).

Tetapi suatu saat saya ditegur oleh keluarga, karena sikap saya itu membuat saya tidak disukai orang. Karena dianggap orang saya ini munafik dan sok suci, tapi saya tetap mewartakan injil dan mengajak mereka bergabung di SEP.

Inilah risiko melayani sebagai utusan Tuhan yang harus mewartakan apa yang Tuhan mau, bukan yang kita mau untuk menyenangkan orang lain dan kedagingan kita.

Kesimpulan:
Apa yang dapat direnungkan dari peristiwa Yohanes Pembaptis dibunuh?

  1. Jangan pernah kompromi terhadap dosa
  2. Jangan sungkan mengatakan dan menegor suatu perbuatan dosa

Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu. (Mat 5: 10-12).

Amin.

SWK