Pilihan Allah

Renungan Sabtu 9 Juli 2016

Bacaan: Yes. 6:1-8; Mzm. 93:1ab,1c-2,5;Mat. 10:24-33

Yesaya dipilih Allah dalam tahun wafatnya Raja Uzia. Yesaya yang tinggal di tengah bangsa yang najis bibir, menyadari keberadaannya, ketidakpantasannya, keterbatasannya, ketidaklayakannya. Sebagai pendosa Yesaya berpikir karena melihat Allah, akan mati dalam kedosaannya. Tetapi Allah tidak melihat semua kelemahan dan kekurangan Yesaya. Bahkan Allah melalui Serafim menyentuh mulut Yesaya dengan bara, menghapus kesalahannya
dan menyatakan bahwa dosanya telah diampuni. Yesaya yang telah alami perjumpaan pribadi dengan Allah dan alami kasih-Nya, memilih, menawarkan dirinya sebagai utusan-Nya. Saat Tuhan bertanya siapa yang mau diutus, dengan penuh kerelaan hati Yesaya menawarkan diri.

Yesus telah memilih dua belas rasul untuk menjadi murid-murid-Nya. Yesus dalam sabda-Nya kepada kedua belas murid-Nya yang sederhana, rendah hati mau terbuka akan panggilan-Nya:

  1. Murid tidak dituntut melebihi gurunya. Yesus mengenal kemampuan setiap orang. Yesus meminta mereka setidaknya melakukan sama seperti yang dilakukan Yesus. Seperti harapan setiap guru terhadap muridnya.
  2. Para murid diminta menjadi duta atau utusan Allah, mewartakan kebenaran karena pengalaman akan Allah seperti yang dialami Yesaya. Pengalaman bersama Yesus yang rendah hati dan taat pada Allah Bapa-Nya yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka, hendaknya menjadi cermin dan diikuti para murid.
  3. Para murid diberi contoh tentang burung pipit yang kecil dan tidak berdaya yang tidak akan jatuh tanpa kehendak Bapa, apalagi para murid yang jauh lebih berharga daripada burung pipit. Allah, Bapa-Nya selalu menyertai mereka.
  4. Para murid diminta tanpa takut memancarkan wajah Yesus kepada dunia melalui perbuatannya. Perbuatan dan sikap Yesus ketika hidup di dunia yang penuh tantangan, hendaknya menjadi pilihan para murid. Sangkal diri pikul salib ikut Yesus, menghidupi hidup Yesus yang memilih mendahulukan kehendak Bapa-Nya baik dalam suka maupun duka demi memuliakan Allah Bapa-Nya.

Bagi saya yang telah dipilih dan dipanggil bahkan terlibat di SEP, karena telah alami perjumpaan pribadi dengan Yesus:

  1. Sudahkah saya tulus seperti Yesaya dan para murid melayani Allah? Apakah saya masih pilih-pilih pelayanan yang hanya menyenangkan hati saya dan teman yang saya senangi?
  2. Sudahkah wajah dan perbuatan kita memancarkan kasih dan wajah Kristus kepada yang bersalah kepada kita? Suami, istri, mertua, teman, majikan, pembantu, tetangga, sejawat yang menyakiti bahkan bila mereka mengkhianati saya? Adakah saya masih mau menerima mereka apa adanya? Adakah saya mau mengampuni mereka dan menerima mereka seperti Yesus mau menerima saya apa adanya?
  3. Yang dalam kesesakan kehidupan berkeluarga, ekonomi, butuh pekerjaan? Yang sakit, tertekan, terluka, tersisihkan? Bersediakah saya menjadi kepanjangan tangan Tuhan, agar mereka dapat mengenal Tuhan yang Mahabaik dan Mahamurah melalui saya dan dapat mengenali saya sebagai duta dan hamba Allah?
  4. Seperti burung pipit yang kecil dan tidak berdaya yang selalu bersuara dengan indah, seakan bernyanyi memuji Tuhan. Adakah saya juga selalu bersyukur dan mengeluarkan kata yang indah dan baik didengar orang lain dan menyenangkan hati Tuhan?

Doa:
Tuhan, ampuni saya karena seperti slogan “No Action Talk Only”, seringkali saya juga hanya bisa berbicara tanpa melakukan. Ampuni saya, karena saya masih berpikir dan hidup seperti cara dunia. Saya sering mencari dalih untuk membenarkan diri saya sendiri dengan perkataan dan perbuatan saya. Mampukan saya untuk dapat dan berani memilih pilihan Yesus, melaksanakan kehendak Bapa demi kemuliaan Kerajaan Allah. Terutama ketika menghadapi situasi yang menekan. Engkau berkata kepada Yosua, “Teguhkan dan kuatkanlah hatimu”. Terima kasih Tuhan, Engkau mengingatkan saya bahwa Engkau selalu menyertai saya dalam situasi sulit bahkan kegelapan sekalipun Engkau tidak pernah meninggalkan saya. Syukur dan terima kasih Tuhan. Amin.

JRW