Namamu Terdaftar di Surga

BERSUKACITALAH KARENA NAMAMU TERDAFTAR DI SURGA

Renungan Minggu 3 Juli 2016

Bacaan: Yes. 66:10-14c; Mzm. 66:1-3a,4-5,6-7a,16,20; Gal. 6:14-18; Luk. 10:1-12,17-20

Hari minggu tanggal 26 Juni 2016 yang lalu, bacaan-bacaan mengatakan bahwa bila mau ikut Tuhan harus siap sedia, tidak menunda-nunda, jangan banyak alasan. Hari ini Tuhan ingin mengajar kita, bahwa bila kita sudah ikut Tuhan, kita sungguh bisa menikmati sukacita yang berasal dari pada-Nya. Hidup sebagai seorang anak dalam pelukan ibunya, dikenyangkan dan disegarkan dengan susu ibunya yang bernas. Keselamatan yang terus mengalir sebagai sungai tiada pernah kering (Yes 66:10-14c). Di Injil, Yesus mengajar kita yang sudah dipanggil-Nya, dipilih-Nya dan juga diutus-Nya untuk mengerjakan tuaian yang banyak , meskipun pekerjanya sedikit, untuk tidak ragu-ragu dan takut, bahkan harus berani menghadapi kehidupan nyata di dunia ini, seperti domba di tengah-tengah serigala. Ditambah lagi, dalam perutusan ini, juga hidup yang sederhana, dengan bekal yang seadanya saja, tetap dalam sukacita, fokus dalam visi misi, meskipun ditolak dan tidak diterima, kita tetap tidak boleh kecewa dan marah.

Kita harus bisa seperti Paulus yang menjalankan misinya, tetap fokus pada visinya yang sudah ditetapkan oleh Yesus yang harus menjadi teladan dalam hidup setiap manusia, berani berkorban sampai mati di atas kayu salib. Kalau hidup tidak berani berubah, hidup kita tidak ada artinya sama sekali. Kita harus hidup baru jadi ciptaan baru (Gal 6:14-18).

Sebagai para evangelizer, Minggu Biasa ke-XIV ini adalah minggu yang luar biasa. Bukan suatu kebetulan kalau hari ini juga Pesta Santo Thomas Rasul. Thomas sering dikatakan murid Yesus yang kurang percaya, sampai Yesus sendiri yang menegur-Nya dan mengatakan: “Karena kau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” Tetapi kita juga melihat penyesalan Thomas yang dalam dengan berani mengatakan: “Ya Tuhanku, dan Allahku.” Bahkan St. Agustinus menulis tentang St. Thomas ini: “Dengan pengakuan dan dengan menjamah luka Tuhan, ia sudah mengajarkan kepada kita apa yang harus dan patut kita percayai. Ia melihat sesuatu dan percaya sesuatu yang lain. Matanya memandang kemanusiaan Yesus, namun imannya mengaku ke-Allah-an Yesus, sehingga dengan suara penuh kegembiraan tercampur penyesalan mendalam, ia berseru Ya Tuhanku dan Allahku.”

Para evangelizer terkasih,

  • Sudahkah kita mengalami hidup baru dan ciptaan baru seperti St. Thomas?
  • Beranikah kita seperti Thomas, ketika para rasul gagal menahan Yesus, dia berseru: “Ayo, kita juga pergi! Biarlah kita mati bersama-sama dengan Dia.”
  • Atau seperti Thomas yang polos dan jujur, kita bertanya pada Yesus: “Kami tidak tahu, ke mana Engkau pergi, jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?”

Kepolosan, kejujuran, penuh iman dan percaya, berani, sukacita dan gembira dalam tugas perutusan inilah ciri-ciri evangelizer seperti St. Thomas, sehingga kita semua utusan disebut oleh Yesus: “Bersukacitalah karena namamu terdaftar di Surga.”

Tuhan Memberkati kita semua.
VAD