Layakkah Aku Menjadi Murid-MU?

Renungan Senin 11 Juli 2016

Bacaan: Yes. 1:11-17; Mzm. 50:8-9,16bc-17,21,23; Mat. 10:34 – 11:1

Sudah layakkah aku menjadi murid Yesus?

Membaca tiga ayat di awal perikop ini seakan-akan Yesus melanggar ajaran-Nya sendiri mengenai cinta kasih. Namun kita tahu bahwa ajaran Yesus tentang cinta kasih merupakan ajaran yang harus kita lakukan sebagai murid-murid Yesus. Cinta kasih pada sesama yang menderita, yang kecil, dengan memberikan dan memperhatikan apa yang mereka butuhkan, apalagi kepada keluarga inti dan orang-orang serumah kita. Jadi kita tahu pasti Yesus tidak melanggar ajaran-Nya tetapi Yesus menghendaki kita yang dipilihnya sebagai murid-murid-Nya untuk mengikuti Dia dengan lepas bebas dari segala ikatan dunia di sekitar kita, termasuk dengan keluarga inti dan orang-orang serumah agar dengan bebas kita mengikuti Yesus sebagai Tuhan dan guru kita dengan menapak tilas perjalanan Yesus selagi di dunia ini.

Untuk menjadi pengikut Yesus dan menjadi murid-Nya jelas tertulis dalam Matius 10:37 “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku”. 

Di Lukas 14:26 ditulis dengan kata “membenci”, “Jikalau seorang datang kepadaku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudaranya laki-laki dan perempuan, bahkan nyawanya sendiri Ia tidak dapat menjadi murid-Ku”. Berarti kalau kita masih lebih mencintai keluarga kita, kita tidak layak menjadi murid Yesus.

Contoh :
Dengan hadirnya cucu maka semua kegiatan rohani yang dulu ditekuninya dengan setia, ditinggalkan secara drastis. Alasannya menjaga cucu. Menolong menjaga cucu pasti boleh, tetapi jangan sampai cucu menjadikan kita menjauh dari Tuhan. Kata “membenci” berarti “to love less” atau dengan kata lain mencintai Yesus harus di atas segala-galanya yang ada dalam hidup kita, keluarga kita, pekerjaan kita, ambisi kita, bahkan nyawa kita. Semuanya harus menjadi nomor dua dan Yesus harus menjadi nomor satu. Murid yang sejati mempunyai komitmen secara utuh dan total pada Yesus. Bagaimana dengan kita masing-masing? Sudahkah Yesus menjadi nomor satu dalam hidup kita? Hanya diri kita masing-masing yang dapat menjawabnya.

Doa:
Bapa yang Maha Rahim, terima kasih Engkau telah mengutus Yesus Putra-Mu untuk membebaskan dan menyelamatkan kami dari segala dosa. Putra tunggal-Mu telah Engkau korbankan untuk mati bagi kami. Tolonglah dan doakan kami agar kami sungguh-sungguh tetap setia dan menjadikan Yesus sebagai yang terutama dalam hidup kami. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami yang bersatu dengan Roh Kudus, kami persembahkan doa ini penuh syukur dan terima kasih. Amin.

-TMIST-