Konsekuensi Pelayanan

Renungan Senin 25 Juli 2016

Bacaan: 2Kor. 4:7-15; Mzm. 126:1-2ab,2cd-3,4-5,6; Mat. 20:20-28

Dalam Injil digambarkan bahwa Yakobus dan Yohanes menuntut yang terbaik bagi mereka terutama posisi atau kedudukan. Mereka minta bisa duduk di sebelah kiri dan kanan Yesus. Ibarat Yesus seorang Raja, betapa terhormat dan mulia apabila mereka bisa duduk di sebelah kanan dan kiri seorang raja.

Mengapa mereka minta demikian? Siapa rupanya yang tidak ingin memiliki posisi yang terhormat dan mulia? Bukankah kita juga selalu menginginkan untuk mendapat posisi yang terbaik, yang lebih baik dari orang lain? Posisi atau kedudukan atau jabatan yang dihormati? Tidak kita pungkiri bahwa kedudukan merupakan incaran atau ambisi bagi manusia termasuk kita juga.

Bagaimana tanggapan rasul yang lain? Para rasul yang lain pasti menjadi marah kepada kedua saudara itu, bukan karena permintaan semacam itu melainkan karena masing-masing menginginkan yang terbaik untuk diri sendiri dan merasa tidak senang terhadap Yakobus dan Yohanes yang telah mendahului mereka. Bagaimana dengan kita? Kitapun demikian, sering merasa iri dan tidak senang apabila keinginan kita didahului oleh orang lain

Lalu bagaimana jawaban Yesus? Yesus menjelaskan arti dari permintaan mereka tersebut yang tidak mereka sadari, konsekuensi dari permintaan mereka yaitu penderitaan. Yesus menggambarkan bagaimana Dia nanti akan menanggung segala konsekuensi dari pelayanan-Nya kepada umatnya dengan menderita dan mati secara memalukan di atas kayu salib. Yesus ingin menekankan bahwa setiap pengikut-Nya harus melayani satu sama lain dengan rendah hati, seperti Yesus melayani kita. Yesus juga menyatakan bahwa mereka memang akan menerima penderitaan dalam pelayanan mereka.

Lebih dalam lagi Yesus mengajarkan, jangan kita fokus kepada apa yang kita peroleh namun mari kita kerjakan apa yang menjadi bagian kita dan menerima konsekuensi dari apa yang kita kerjakan dalam pelayanan. Seperti Yakobus dan Yohanes yang mengatakan bahwa mereka “dapat” meminum cawan penderitaan yang akan diminum Yesus, namun kenyataan yang terjadi mereka tidak berada bersama Yesus pada saat penderitaan-Nya.

Jadi, pelayanan bukan pertama-tama berbicara tentang apa yang kita dapat, tetapi pelayanan berbicara apa yang kita tanggung dalam pelayanan yang kita kerjakan.

Beranikah kita menerima konsekuensi dan membayar harga untuk pelayanan yang kita lakukan?

EH