Ketamakan

Renungan Minggu 31 Juli 2016

Bacaan: Pkh. 1:2; 2:21-23; Mzm. 90:3-4,5-6,12-13,14,17; Kol. 3:1-5.9-11;Luk. 12:13-21

Kenaikan harga bumbu-bumbu (bawang merah, bawang putih, cabe, dsb.) dan bahan-bahan makanan lain tidak lagi ditentukan oleh kenaikan bahan bakar minyak (BBM), nilai mata uang rupiah yang jatuh, atau mungkin oleh banjir yang menggenangi lahan pertanian tetapi karena orang memanfaatkan situasi bahwa semakin banyaknya kebutuhan masyarakat akan bumbu-bumbu dan bahan-bahan tersebut, orang berlomba-lomba mencari keuntungan yang besar dengan berbagai macam cara. Di satu sisi masyarakat sosial ekonomi rendah menjerit dengan kenaikan harga bumbu-bumbu dan bahan-bahan tersebut, di sisi lain masyarakat pedagang yang serakah/tamak ingin meraup keuntungan yang sebesar-besarnya dengan menimbun barang di gudangnya bahkan yang sering kita dengar dan kita saksikan adalah mereka mengimpor bumbu-bumbu tersebut tanpa dokumen resmi (penyelundupan bawang merah dari India, bawang putih dari China, dll.).

Orang serakah/tamak, seluruh hidupnya penuh kesedihan, dan pekerjaannya penuh kesusahan hati bahkan pada malam hari hatinya tidak tenteram. Ini pun sia-sia (Pkh 2: 23).

Mengapa Tuhan Yesus mengingatkan kita, “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan! Sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari kekayaannya itu.” (Luk 12:15).

Pertama, karena setiap kita bisa jatuh dalam ketamakan/ keserakahan, hal ini disebabkan oleh kekuatiran akan masa depan. “Guru, katakanlah kepada saudaraku, supaya ia berbagi warisan dengan aku.” (secara implisit pada ayat 13),

Kedua, Tuhan ingin kita tidak jatuh dalam ketamakan, karena ketamakan/keserakahan sama dengan penyembahan berhala (Kol 3:5).

Ketiga, karena mengandalkan kekayaan sebagai jaminan hidupnya dan sekaligus sebagai keberhargaannya. “Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya, beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!” (Luk 12: 19).

Kita sering lupa bahwa pada kenyataannya, setiap kita nantinya akan berpulang kepada Bapa tanpa membawa apa pun kecuali pertanggungjawaban kita kepada-Nya atas apa yang telah dipercayakan Allah kepada kita. Kemudian apa yang akan kita lakukan terhadap peringatan Tuhan Yesus tersebut? Yang terutama di dalam hidup adalah kaya di hadapan Allah karena kita menjadi anak Allah dan milik Allah. Kita tidak lagi kuatir atau sibuk hanya mengumpulkan harta dunia melainkan juga harta surgawi. Selalu mensyukuri apa yang Tuhan berikan dan mengandalkan Tuhan dalam segala sesuatu. Dengan kekayaan yang Tuhan percayakan pada kita, kita menjadi saluran kasih dan berkat-Nya bagi sesama karena Allah sebagai sumber dan tujuan hidup kita, bukan yang lain. Dengan demikian Allah yang adalah sumber damai tinggal beserta kita dan sukacita kita menjadi penuh. Amin.

ECMW