Kasih dan Kesabaran Tuhan

Renungan Sabtu 23 Juli 2016.

Bacaan: Yer. 7:1-11; Mzm. 84:3,4,5-6a,8a,11; Mat. 13:24-30

Bacaan Injil hari ini berbicara tentang lalang yang tumbuh di antara gandum. Yesus menunjuk gandum sebagai benih kebaikan yang telah ditaburkan dalam kehidupan kita, sedangkan lalang adalah benih kejahatan yang tumbuh dalam kehidupan kita. Gandum dan lalang tumbuh bersama sehingga sulit untuk memisahkan gandum dari antara lalang.

Hari ini Yesus mengingatkan kita seperti tuan kadang mengingatkan hamba-hambanya: “Janganlah kalian mencabut lalangnya sebab mungkin gandum itu ikut tercabut! Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai tiba.” (Mat 13:29-30).

Ada tiga hal yang mau disampaikan kepada kita lewat perumpamaan Injil hari ini:

  1. Kesabaran; Tuhan itu sabar, Ia tidak tergesa-gesa menilai dan menghakimi orang, tidak seperti yang sering kita lakukan ingin langsung bertindak bila menyaksikan suatu kejadian di sekitar kita. Contoh: ada banyak pelaku kejahatan yang dihakimi massa bahkan mungkin sampai meninggal sebelum persoalan atau kesalahannya jelas.
  2. Tuhan selalu memberi kesempatan kepada kita untuk tumbuh dan berubah menjadi baik, dan hal itu butuh waktu dan hanya Tuhanlah yang tahu kapan waktunya yang tepat bagi masing-masing kita.
  3. Penghakiman Allah atas dunia ini: “Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai, pada waktu itu Aku akan berkata kepada para penuai, kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar, kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.” (Mat 13:30).
    Melalui pesan Injil hari ini kita juga diingatkan agar mengisi hidup kita dengan keputusan yang bijaksana dari hari ke hari. Bagaimana nasib kita pada kehidupan kekal kita nanti, seperti lalang yang diikat dan dibakar? Atau seperti gandum yang akan dikumpulkan dalam lumbung Tuhan?

Kita sangat yakin dan percaya bahwa Bapa kita adalah Bapa yang baik dan sangat mengasihi kita, Ia tidak akan tega membiarkan kita dibakar bagai lalang. Ia sangat mengasihi kita, kalau kita anak-anak-Nya ini bersalah. Dia akan menegur kita agar kita tidak binasa dalam api yang tak terpadamkan. “Beginilah firman Tuhan semesta alam Allah Israel: perbaikilah tingkah lakumu dan perbuatanmu, maka Aku mau diam bersama-sama dengan kamu di tempat ini.” (Yer 7:3).

Berbahagialah kita, jika kita melakukan apa yang diminta Tuhan untuk memperbaiki tingkah laku kita dari hari ke hari semakin menyerupai Kristus. Sehingga jiwa kita yang hancur karena merindukan pelataran rumah Tuhan sebagai akhir peziarahan hidup ini (Mzm 84:5), akan berbahagia karena boleh diam di rumah Tuhan dan terus menerus memuji-muji Tuhan (Mzm 84:5).

Doa: Ya Allah Bapa yang baik, kami bersyukur memiliki Allah yang sabar seperti Engkau. Engkau selalu memberi kesempatan kepada kami untuk terus memperbaiki tingkah laku kami jika kami jatuh dalam dosa. Tolonglah kami juga agar kami tidak mudah menghakimi sesama kami, dan di akhir hidup kami nanti, kami Kau kumpulkan dalam rumah-Mu yang penuh dengan sukacita. Amin.

M L E N