Jangan Padamkan Api Roh Kudus

Renungan Sabtu 16 Juli 2016

Bacaan: Mi. 2:1-5; Mzm. 10:1-2,3-4,7-8,14;Mat. 12:14-21

Saat berada dalam kesesakan, tekanan dan juga perlakuan yang tidak adil dari orang lain, hampir setiap kita akan bersikap tidak sabar menantikan Tuhan bertindak. Kita berkata, “Mengapa Engkau berdiri jauh-jauh, ya TUHAN, dan menyembunyikan diri-Mu dalam waktu-waktu kesesakan?” (Mazmur 10:1), bahkan kita berani mempersalahkan Tuhan karena merasa Dia tidak segera memberikan pertolongan atas pergumulan yang kita alami. Akhirnya yang keluar dari mulut kita hanyalah keluh kesah dan sungut-sungut.

Sikap demikian tentunya tidak membuat kita menjadi orang yang belajar mengerti kehendak Tuhan dan mensyukuri atas segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita. Menghadapi ketidakadilan dan penindasan mari belajar tetap bersabar. Kita harus percaya bahwa apa pun yang menimpa kita dan apa pun yang diperbuat oleh orang lain terhadap kita tidaklah luput dari pengawasan Tuhan. “Engkau memang melihatnya, sebab Engkaulah yang melihat kesusahan dan sakit hati, supaya Engkau mengambilnya ke dalam tangan-Mu sendiri. Kepada-Mu-lah orang lemah menyerahkan diri; untuk anak yatim Engkau menjadi penolong.” (Mazmur 10:14).

Sahabat, dalam Injil hari ini, Yesus menghadapi orang-orang Farisi yang tidak senang dengan diri-Nya. Mungkin karena segala kritikan dan tindakan Yesus yang membuat jengkel orang-orang Farisi dan orang Yahudi lainnya sehingga mereka bersekongkol untuk membunuh Yesus. Menghadapi tantangan seperti itu Yesus tidak lari, tidak terus diam dan mundur. Tetapi Ia tetap pada prinsip untuk melakukan yang baik, yang benar dan yang dikehendaki Bapa-Nya. Yesus tetap menyembuhkan orang, Yesus masih mengajar. Mengapa Yesus melakukan ini semua? Ternyata kalau kita renungkan, identitas diri Yesus itu sudah dinubuatkan oleh nabi Yesaya : “Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya, dan Ia akan memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa?” (Matius 12:18). Dalam diri Yesus dicurahkan Roh Allah, dengan kata lain Roh Allah telah mengalir dalam diri Yesus. Ini yang membuat diri Yesus tidak pernah kehilangan semangat untuk terus menerus berbuat baik.

Para sahabat yang terkasih, tidak menutup kemungkinan bahwa diri kita pun, entah kapan atau dalam peristiwa apa pun kita mungkin juga akan mengalami tantangan; kita juga mungkin mengalami hambatan dan tidak jarang ketika orang mengalami tantangan, kesulitan atau hambatan orang menjadi putus asa. Namun hari ini kita mendapatkan teladan dari Yesus. Ketika Yesus menghadapi tantangan, ketika Ia mengalami kesulitan, Ia tidak kehilangan arah hidup-Nya; Ia tetap berbuat baik, Ia tetap melakukan hal-hal yang berkenan kepada Bapa-Nya.

Hal yang sama juga terjadi di dalam diri kita. Ketika kita dibaptis, kita pun juga diberi Roh Allah di dalam diri kita. Ketika kita menerima Sakramen Penguatan, Roh Allah itu juga telah diberikan kepada kita. Dengan kata lain kita telah menerima tanda sekaligus sarana Cinta Kasih, Kehadiran dan Keselamatan Allah di dalam diri kita. Tetapi persoalan yang sering kita jumpai, karena tekanan hidup yang kian berat dan permasalahan yang dialami, banyak orang menjadi putus asa dan frustrasi. Mengapa bisa terjadi demikian? Hal ini terjadi karena kesadaran seseorang akan Roh Tuhan telah padam atau kita telah memadamkan api Roh Kudus sehingga hal ini membuat kita akan berjalan menurut pikiran kita sendiri dan membuat kita cenderung jatuh ke dalam dosa. Seperti apa yang dialami bangsa Israel yang dikisahkan dalam bacaan pertama. Allah telah menyatakan kasih-Nya dengan menjaga bangsa Israel dan menuntun mereka keluar dari Mesir.Tetapi sayangnya mereka memadamkan api Roh Kudus (memadamkan peranan atau karya Roh Kudus sehingga kehilangan kuasa Kasih Allah). Tujuan Allah agar bangsa Israel memperoleh Kemerdekaan tetapi berubah menjadi kerakusan/ketamakan. Mereka merampas tanah tetangga dan orang sekeliling. Mikha mengkritik umat Israel yang tidak pernah puas hingga merampas hak orang lain, sampai-sampai dia berkata, “Celakalah orang-orang yang merancang kedurjanaan dan yang merencanakan kejahatan di tempat tidurnya….” (Mi 2:1).

Bagaimana caranya supaya api Roh Kudus tidak padam? Bukan hanya “tidak berbuat dosa” tetapi kita harus membangun kebiasaan-kebiasaan yang dikehendaki Tuhan:
1. Bersukacitalah senantiasa
2. Tetaplah berdoa
3. Mengucap syukurlah dalam segala hal.

Sahabat, kata : “senantiasa”, “tetaplah” dan “dalam segala hal”, ini menunjukkan “kebiasaan”. Mari kita praktekkan kebiasaan-kebiasaan di atas agar kita bisa memiliki Roh yang senantiasa menyala sehingga kita semakin bertumbuh, berkembang dan mampu mengatasi segala tantangan dan kesulitan di dalam segala aspek kehidupan kita. Semoga kita tetap bersukacita, tetap semangat untuk terus-menerus berbuat baik dan tetap melakukan hal-hal yang berkenan kepada Tuhan. Amin.

Tuhan memberkati,

FHM