Jalan Kelemahlembutan dan Kerendahan Hati

Renungan Kamis 14 Juli 2016, Kamis Pekan Biasa XV

Bacaan: Yes. 26:7-9,12,16-19; Mzm. 102:13-14ab,15,16-18,19-21;Mat. 11:28-30

Hidup ibarat sebuah perjalanan. Tak jarang terasa panjang, menyesakkan, melelahkan oleh beban yang harus dipikul sepanjang perjalanan. Terkadang karena merasa memang itu sebagai satu tanggung jawab terhadap kehidupan yang diterima, maka tetap dijalani, walaupun dengan penuh kesesakan, karena merasa beban begitu berat yang dipikul yang mungkin memang berat adanya. Tubuh jasmani serasa lelah, rohani pun payah, tidak ada lagi sukacita. Senyuman menjadi hal yang langka, bagaimana pula mau bersyukur.

Itulah fakta kehidupan. Yesus Tuhan tahu, Dia mengerti, itulah kehidupan yang memang sarat derita, yang harus manusia lewati sebagai jalan pemurnian menuju hidup kekal. Namun Tuhan adalah Allah yang peduli, tidak akan membiarkan kita menanggungnya sedemikian. Tuhan punya cara, punya jalan, pemurnian itu tetap dijalani namun dengan cara Tuhan yang ringan bahkan kadang menjadi nikmat karena boleh dilewati bersama dengan yang tercinta, Tuhan kita! Ada kelegaan ada ketenangan sekalipun di perjalanan yang sarat derita dan beban. Jalan-Nya adalah kelemahlembutan dan kerendahan hati. Lemah lembut dalam menyikapi kondisi apapun dalam hidup ini, penuh kerendahan hati, keikhlasan menjalaninya. Membuat kita menyadari diri, sehingga mampu bersyukur. Membawa kita meraih tangan kasih Tuhan, yang turut memikul beban perjalanan kita, yang mengusap tiap tetes keringat kelelahan kita bahkan menghapus tiap tetes air mata kesusahan kesedihan kita.

“Di saat badai bergelora, ku akan terbang bersama-Mu. Bapa Kau Raja atas semesta, ku tenang sebab Kau Allahku.”

Berkat Tuhan melimpah buat kita semua.

JTI