Belas Kasihan

Renungan Jumat 15 Juli 2016

Bacaan: Yes. 38:1-6,21-22,7-8; MT Yes. 38:10,11,12abcd,16; Mat. 12:1-8

Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan. (Mat 12:7)

Belas kasih merupakan salah satu wujud keutamaan dari kita yang memiliki hati bersih dan terbuka, serta senantiasa siap sedia untuk disakiti. Cukup banyak orang yang membutuhkan belas kasihan, terutama mereka yang menjadi korban bencana alam dan sebagainya, yang menuntut kemurahan hati manusia yang memiliki hati seperti Yesus, yang hati-Nya selalu tergerak oleh belas kasihan.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus sekali lagi menegaskan pentingnya peran aturan untuk mengangkat dan memuliakan harkat manusia. Aturan yang dihayati tidak boleh merendahkan, apalagi membinasakan manusia. Aturan mesti ditegakkan untuk membela kemanusiaan. Ketika tidak lagi membela kemanusiaan, dan malah melecehkan, aturan itu dapat dibatalkan. Manusia adalah tuan atas aturan, dan manusia dapat melangkahi atau melompati aturan yang ada jika ada nilai kemanusiaan yang lebih tinggi yang sedang diperjuangkan. Dengan kata lain, aturan harus mengabdi pada kebaikan yang lebih tinggi, dan bukan sebaliknya kita membatalkan sebuah perbuatan baik hanya karena takut melanggar aturan. Cinta dan belas kasih berada jauh di atas semua aturan yang ada, karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat. Kutipan ini merupakan kata-kata penghiburan yang penuh pengharapan.

Maka sebagai umat beriman kepada Yesus Kristus, marilah kita senantiasa dapat menjadi penghiburan yang penuh harapan bagi siapa saja dalam dan melalui cara hidup dan cara bertindak setiap hari.
Kita juga memperhatikan lingkungan hidup dan kerja kita, adakah orang yang putus asa atau frustrasi, karena kegagalan dalam hal tertentu? Dekati dan sikapi mereka dengan belas kasih seraya menghiburnya dengan kata-kata yang membangkitkan gairah dan semangat hidupnya. Ingatkan mereka bahwa dunia ini sangat luas, sarat dengan aneka kemungkinan dan kesempatan, maka gagal dalam hal tertentu masih ada banyak kemungkinan lain.

Marilah kita sadari dan hayati bahwa kita semua dapat tumbuh berkembang sebagaimana adanya kita saat ini, karena belas kasihan Allah yang kita terima melalui sekian banyak orang yang telah memperhatikan dan mengasihi kita, tentu saja terutama orangtua atau pribadi-pribadi yang merawat dan mendidik kita sejak kecil. Melalui keterbukaan, kiranya setiap dari kita pasti akan menyadari dan menghayati bahwa dirinya kaya akan belas kasihan, serta kemudian tergerak untuk berbelas kasih kepada siapapun yang membutuhkan.

Berilah aku keberanian, ya Tuhan , agar tidak membatalkan karya cinta kasih hanya karena takut dicap kurang disiplin dengan aturan. Amin.

SWW