Who am I?

Renungan Minggu 19 Juni 2016

Bacaan: Za. 12:10-11; 13:1; Mzm. 63:2abcd,2e-4,5-6,8-9; Gal. 3:26-29; Luk. 9:18-24

Injil memperkenalkan Yesus terutama lewat pengajaran-Nya, lewat kisah pelbagai penyembuhan yang dilakukan-Nya, termasuk mengusir roh jahat dan lewat peristiwa-peristiwa mujizat. Karena itu orang mulai bertanya-tanya, siapa sebenarnya dia itu dan bagaimana Ia dapat mengerjakan semua itu. Semakin disadari bahwa Ia lain dari orang-orang biasa lainnya, orang-orang bertanya-tanya siapakah Dia  sesungguhnya.

Dalam Injil Lukas 9:18-24, Yesus mengajukan pertanyaan kepada para murid-murid-Nya tentang “apa kata orang” mengenai identitas diri-Nya. Para murid mengungkapkan tiga pandangan yang beredar:

  • Yesus adalah Yohanes Pembaptis yang telah dibangkitkan dari antara orang mati;
  • Yesus sebagai Elia yang telah muncul kembali;
  • atau nabi-nabi dahulu yang telah bangkit. 

Lalu Yesus bertanya kepada murid-murid sendiri, “Menurut kamu, siapa Aku ini?” Petrus, si juru bicara menjawab, “Engkau adalah Mesias dari Allah.” Dalam Injil lain Yesus berkata, “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang mengatakan itu kepadamu, melainkan Bapa di surga.”

Yesus diakui sebagai Mesias dari Allah (Mat 16:6) dikaitkan oleh Yesus dengan gelar anak manusia yang harus mengalami penderitaan, wafat, dan kebangkitan. Sebagai anak Allah, kita tidak cuma tahu siapa Yesus, itu tidak cukup. Kita harus mengalami Yesus yang hidup dalam hidup kita.

Mengalami Yesus berarti siap untuk menyangkal diri sebagai pusat hidup. Karena pusat hidup kita Yesus. Harus memikul salib kita setiap hari berarti rela menderita bahkan sampai mati karena menyerahkan diri kepada kehendak Yesus setiap hari. Harus mengikut Yesus berarti harus berjalan di belakang Yesus, mendengarkan pengajaran-Nya, memahami pemikiran-Nya dan keprihatinan-Nya serta meniru tindakan-Nya.

Suatu hari saya bertanya kepada cucu saya.

Saya: “Do you know Jesus?” (Apakah kamu mengenal Yesus?)
Cucu saya: “Yes of course.” (Tentu saja)
Saya: “Who is He according to you?” (Siapa Dia menurut kamu?)
Cucu saya: “He is the son of God.” (Dia adalah anak Allah)
Saya: “What else do you know about Him?” (Apalagi yang kamu ketahui tentang Dia?)
Cucu saya: “He is my savior, He saves people.” (Dia adalah penyelamatku, Dia menyelamatkan orang-orang), “He did miracles” (Dia melakukan mujizat)

Saya bertanya darimana engkau tahu tentang itu semuanya, lalu cucu saya menjawab dari Alkitab. Saya menyuruh cucu saya memberi contoh pengalaman mujizat yang dia alami. Lalu dia memberi contoh ketika dia sakit diare lalu dia berdoa meminta kesembuhan lalu dia menjadi sembuh.

Di lain hari cucu saya juga bersaksi kembali ketika dia akan ujian Mandarin, dia kurang berlatih lalu dia berdoa sebelum ujian meminta pertolongan Tuhan. Dan Tuhan menjawab doanya, akhirnya dia mendapatkan nilai yang memuaskan.

Jadi, orang Kristiani diharapkan jangan malu-malu untuk mengakui Yesus dan firman-Nya supaya mereka mau mengambil bagian dalam kemuliaan-Nya yang telah dijanjikan-Nya.

Doa:
Ya Tuhan, masih banyak orang-orang di sekitar kami yang masih ragu akan identitas Yesus. Roh Kudus pakai kami untuk bisa menuntun mereka masuk ke dalam pemahaman yang lebih mendalam tentang identitas Yesus dan panggilan mereka. Amin.

Tuhan Yesus memberkati.

JH