Perilaku Ahli Taurat dan Persembahan Janda Miskin

Renungan Sabtu 4 Juni 2016

Bacaan: 2Tim. 4:1-8; Mzm. 71:8-9,14-15a,16-17,22; Mrk. 12:38-44

Selamat pagi para sahabat, damai sejahtera dari Tuhan Yesus menyertai kita semua, dan semoga kasih karunia Roh Kudus hadir di hati kita masing-masing.

Marilah kita baca dan renungkan Sabda Tuhan hari ini dari: 2 Tim 4 : 1-8; Mzm: 71:8-9.14-15ab.16-17.22 dan Injil Mrk 12:38-44.

Dalam pengajaran-Nya, Yesus memperingatkan para murid-Nya dan juga kepada kita semua untuk berhati-hati terhadap perilaku ahli-ahli Taurat yang suka berjalan-jalan memakai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar.

Seperti kita ketahui bahwa para ahli Taurat adalah termasuk salah satu kelompok agamawan yang mempunyai posisi terhormat. Tugas pokok mereka adalah sebagai guru untuk memelihara dan mengajarkan hukum Allah. Tetapi kenyataan yang disandang mereka jauh dari kehidupan rohani yang berkenan kepada Allah. Perilaku para ahli Taurat itu penuh dengan tipu muslihat dan kemunafikan. Jubah panjang yang dipakai mereka hanyalah kedok rohani agar mereka mendapat penghormatan di masyarakat. Hal ini terlihat bagaimana mereka suka duduk di depan rumah ibadah agar dilihat oleh orang banyak bahwa kehidupan mereka seakan lebih dekat dan hanya terpusat kepada Allah. Tindakan seperti ini memberikan kesan bahwa dirinya seakan mencintai Allah melebihi orang lain. Di dalam undangan perjamuan, mereka mengambil posisi duduk paling depan seolah-olah mereka adalah orang yang antusias dalam menyembah Allah. Seakan-akan mereka itu lebih rohani dari umat/awam lainnya, dan tidak jarang mereka itu menunjukkan kesombongan rohaninya. Di ruang publik, mereka berjalan seperti orang saleh agar masyarakat mengira bahwa dirinya sebagai orang yang seakan-akan bijaksana.

Seringkali para ahli Taurat memanfaatkan jubah agama memperdaya rakyat jelata untuk mencari keuntungan dirinya sendiri. Salah satu kelompok yang sering terkena jerat mereka adalah para janda. Mereka menelan rumah janda-janda (ayat 40), sehingga para janda menjadi miskin. Mereka para ahli Taurat piawai memanipulasi ucapan rohani, menjual nama agama untuk mendapatkan tumpangan dan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dengan doa-doa yang panjang-panjang mereka mengecoh masyarakat kelas bawah, bahwa doanya seakan-akan paling berkenan kepada Allah. Mereka para ahli-ahli Taurat telah sering memakai (MENCATUT) nama Allah demi kepentingan dan keuntungan pribadi.

Melihat perilaku mereka yang sungguh menjijikkan, Yesus mengecam para ahli Taurat itu bahwa apa yang mereka tabur akan mereka tuai. Bukan perkenanan Allah yang akan didapat, melainkan murka Allah (ayat 40b).

Selain perilaku para ahli Taurat yang munafik, Yesus juga memberikan pengajaran tentang dua hal perilaku orang-orang kaya dan seorang janda miskin dalam hal memberikan persembahan. Banyak orang kaya yang memberikan persembahan yang besar dalam arti nominalnya, namun sayangnya mereka memberi persembahan dari kelebihannya dan kurang/tidak disertai dengan hati yang tulus, sedangkan janda miskin (yang rumahnya ditelan oleh para ahli Taurat) itu memberikan persembahan dua peser, yaitu satu duit, tetapi janda itu memberi persembahan dari kekurangannya, yaitu seluruh nafkahnya, artinya lebih dari 10% dari penghasilannya sebagaimana disyaratkan dalam Kitab Ulangan 14 : 22 “Haruslah engkau benar-benar mempersembahkan sepersepuluh dari seluruh hasil benih yang tumbuh di ladangmu tahun demi tahun”. Jadi janda miskin tersebut memberikan persembahan 100% dari apa yang dia miliki, artinya ia sungguh-sungguh menyerahkan seluruh hidupnya ke dalam penyelenggaraan Tuhan.

Anehnya dalam perikop tersebut memang tidak dijawab atau dijelaskan bagaimana nasib kehidupan sang janda miskin yang telah menyerahkan seluruh hidupnya itu kepada Tuhan Yesus. Yang pasti penulis Injil Markus justru bermaksud untuk meminta supaya kitalah orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus yang menjawabnya, yaitu:

  1. Bagaimanakah pengalaman hidup kekristenan kita masing-masing, apakah sudah atau masih dalam proses menyerahkan, menggantungkan, mengandalkan seluruh kehidupan kita kepada Tuhan Yesus?
  2. Sejauh manakah kita masing-masing menanggapi panggilan untuk menjadi surat Kristus yang hidup dan terbuka agar nama Tuhan Yesus semakin dipermuliakan?

Tuhan Yesus memberkati. Kemuliaan kepada Bapa Putera dan Roh Kudus.

JHS