Mengelola Emosi

Renungan  Kamis  9 Juni 2016

Bacaan: 1Raj. 18:41-46; Mzm. 65:10abcd,10e-11,12-13; Mat. 5:20-26

Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. (Mat 5:22)

Marah adalah ungkapan-ungkapan: rasa jengkel, tidak sesuai kemauan atau emosi yang meluap-luap. Saat marah umumnya kesadaran tidak penuh sehingga bisa saja keluar kata-kata kotor,  perilaku kasar dan pikiran menjadi jahat. Dampak kemarahan dapat menjadi buruk untuk sebuah relasi. Relasi bisa putus dan yang muncul sakit hati.

Dalam bacaan Injil hari ini Tuhan Yesus tidak bermaksud  mengubah hukum Taurat melainkan menggenapinya. Kalau Hukum Musa melarang pembunuhan, maka Tuhan Yesus melarang yang menjadi akar penyebabnya. Dia  mengajari kita untuk menalar perintah jangan membunuh dengan masalah-masalah yang mendasarinya.  Membunuh mungkin saja disebabkan karena marah, sakit hati, umpatan, cacian dan kebencian. Tuhan Yesus memang berbeda dengan orang-orang Farisi yang hanya  memperhatikan hal-hal fisik lahiriah bersifat legal formal.  Peraturan-Nya menyentuh esensi hukum yang lebih mendalam yaitu lebih memperhatikan sikap batin. Siapa pun yang marah pantas untuk dihukum. Juga siapa pun yang berkata kasar harus diserahkan ke dalam neraka. Kata-kata Tuhan Yesus itu menjelaskan bahwa marah merupakan tindakan dosa dan sekaligus menyangkal pendapat para ahli Taurat yang menganggap bahwa dosa hanyalah berhubungan dengan sepuluh perintah Allah. Padahal dosa menurut-Nya tidak hanya yang berkaitan dengan hukum saja. Dosa versi Tuhan Yesus ini terdengar lebih mencengkeram setiap orang. Siapa yang bisa terbebas dari rasa marah terhadap saudaranya? Apalagi sampai mengumpat kafir atau jahil? Setiap orang pasti pernah marah. Jadi hampir semua orang pasti akan terjerat hukum ini.

Oleh karena itu Tuhan Yesus mengajak agar setiap orang dapat mengelola emosinya sehingga perilaku berubah.  Perubahan perilaku hendaknya didasari dengan pengolahan batin yang akan  terwujud dalam sikap yang  menampakkan buah roh.

Selanjutnya untuk meredam emosi baiklah kita mengembangkan sikap bakti kepada Tuhan dalam doa dan peribadatan. Setiap menghadapi masalah yang memancing kemarahan, tak kalah pentingnya kita menghadirkan Tuhan dalam perilaku, kata-kata dan pikiran. Maka setiap kali kita menghadirkan Tuhan tentu hidup akan semakin menciptakan rasa damai dalam diri kita sendiri maupun orang lain dan semakin terkendali emosi kita. Sabda Tuhan yang menekankan: “Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum” ini mendorong saya dalam setiap doa saya memohon ampun dan mengampuni, sehingga membereskan hubungan yang retak dengan sesama dan berharap diterimalah doa dan persembahan kepada Tuhan.

Sebenarnya cerita tentang kisah tragis luapan kemarahan sampai merengut nyawa pun sudah tidak asing lagi ditayangkan di televisi. Saya akui bahwa saya pun kerap kali marah kepada orang lain. Apalagi sebelum mempelajari Sabda Tuhan. Pada waktu anak-anak saya masih kecil, hanya karena mereka tidak mau makan, kemarahan saya  meledak di luar kendali emosi saya. Mereka saya cubit, saya kurung di kamar, saya grojok air dan hukuman-hukuman lain. Sekarang mereka sudah dewasa, Puji Tuhan mereka tidak ada yang menaruh dendam pada saya. Mereka tumbuh menjadi anak-anak manis yang begitu memperhatikan dan menyayangi saya. Kebahagiaan bercampur penyesalan yang terlambat.

Doa: Tuhan Yesus Engkau menghendaki kami membangun hidup sesuai ajaran-Mu. Tuntunlah kami untuk mengelola emosi kami agar dapat mengubah hati tidak hanya mematuhi peraturan-peraturan lahiriah, tetapi juga menghayati kedalamannya seturut kehendak-Mu. Amin.

LKME