Ikutlah Aku

Renungan Minggu 26 Juni 2016

Bacaan: 1Raj. 19:16b,19-21;Mzm. 16:1-2a,5,7-8,9-10,11; Gal 5:1,13-18;Luk. 9:51-62

Lalu Ia berkata kepada seorang lain: “Ikutlah Aku!” (Luk 9:59)

Dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari Minggu ini, kita jumpai bagaimana Allah memanggil nabi Elisa untuk melayani-Nya dan juga bagaimana Tuhan Yesus memanggil orang-orang untuk mengikuti-Nya.

Dan di sepanjang sejarah Gereja, kita jumpai panggilan Allah kepada siapa saja yang Dia panggil dan pilih untuk melayani Dia, baik dalam panggilan khusus, menjadi imam, biarawan/wati dan kerasulan awam.

Perlu disadari melalui sakramen pembaptisan, kita semua dipanggil menjadi anak-anak Allah dan warga Gereja. Sebagai perkembangan dari rahmat pembaptisan yang kita terima, kita mengenal dalam gereja ada panggilan umum.

Panggilan dasar kita sebagai anak-anak Allah, dan ini kita terima melalui sakramen baptis. Melalui sakramen baptis kita diampuni dari dosa asal dan dosa pribadi; diangkat menjadi anak-anak Allah; dan masuk sebagai anggota Gereja Katolik.

Kej 1:26, manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, meskipun kita kurus/gemuk, kaya/miskin, tidak ada tampang cover boy/girl (tidak fotogenik), jelek-jelek begitu kita ini anak Allah, diciptakan menurut gambar dan rupaeAll Allah. Mengapa?

Karena di hadapan Allah semua manusia ciptaan-Nya, Allah tidak melihat banyaknya kepribadian kita (punya rumah pribadi, mobil pribadi, cewek/cowok pribadi, dsb), berapa titel kita (S1, S2, S3, S teler), tetapi yang dilihat Allah adalah hati kita.

Karena kita anak Allah, kita diciptakan untuk Allah, seperti dikatakan St. Agustinus: “Engkau menciptakan kami untuk-Mu, ya Tuhan, maka gelisahlah hati kami sebelum beristirahat di dalam Engkau”. Jadi hati kita diciptakan untuk Allah, apapun mau diisi ke hati kita (narkoba, yang porno-porno, sex bebas, judi, dugem, hubungan dengan jae lang kung/setan cs, gua-mia, ciam-si, atau kalau ditolak, dukun bertindak, dsb.) semuanya tidak bisa memenuhi hati kita (hati kita tetap kosong), dan makin diisi yang begitu, makin haus, seperti orang minum air laut, terus dahaga, tetapi sebenarnya yang bisa memenuhi hati kita adalah hanya Allah sendiri.

Melalui sakramen pembaptisan, kita juga dipanggil mengambil bagian dalam tri-tugas Kristus, sebagai imam, nabi dan raja.

Panggilan sebagai IMAM (IMAMAT UMUM), berbeda dengan imamat jabatan (pastor, uskup). Di sini kita dipanggil kepada kekudusan (hidup suci), yaitu dengan mempersembahkan hati nurani yang murni, hidup saleh dengan penghayatan melalui doa, firman, sakramen, hidup dalam iman dan cinta kasih. Siapa yang sering mengikuti perayaan Ekaristi, menerima sakramen tobat setiap hari doa, semua ini pelaksanaan panggilan imamat.

Panggilan sebagai NABI, yaitu berpegang teguh pada iman yang telah diberikan Allah, memahami dan mendalami imannya serta menjadi saksi-saksi iman dan mewartakan Injil.

Panggilan sebagai RAJA, yaitu taat kepada Allah dengan menguasai badannya dan hidup suci; kebebasan rajawi dengan mengalahkan kerajaan dosa di dalam diri sendiri; panggilan untuk melayani bersama dengan Kristus.

Demikianlah pelbagai panggilan dalam Gereja, dalam semuanya Allah-lah yang menjadi pelaku utama dalam panggilan, Allah yang memanggil dan manusia yang menjawab. Dan ketika Allah memanggil dan memilih, tentulah Allah punya rencana indah untuk mereka yang dipanggil-Nya dan rencana indah untuk perkembangan dan pembangunan Kerajaan Allah di dunia ini. (ET)

unnamed