I Will Follow HIM

Renungan Senin 27 Juni 2016

Bacaan: Am. 2:6-10,13-16; Mzm. 50:16bc-17,18-19,20-21,22-23; Mat. 8:18-22

Lalu datanglah seorang ahli Taurat dan berkata kepada-Nya: “Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” (Mat 8:19)

I will follow Him

Follow Him wherever He may go,

And near Him, I always will be

For nothing can keep me away,

He is my destiny.

Kalau kita mendengar lagu “I will follow HIM” kita teringat film Sister Act yang terkenal pada masa lalu. Yang akan kita bicarakan bukanlah filmnya, tetapi lirik lagu I will follow HIM yang menjadi soundtrack dari film tersebut. Lirik lagu yang begitu indah, tentang kesiapan hati seseorang untuk mengikuti Yesus ke mana pun Ia pergi. Seperti juga lagu yang sering kita dengar “mengikut Yesus keputusanku… mengikut Yesus keputusanku… mengikut Yesus keputusanku…”

Dalam bacaan Injil hari ini, rasanya lagu-lagu tersebut di atas bisa menjadi kekuatan bagi kita untuk tetap menjadi murid-Nya selamanya. Lebih tepatnya bacaan Injil hari ini mengajarkan kepada kita arti pemuridan, bagaimana sikap tindakan kita untuk menjadi seorang murid Yesus.Ayat 19-20 diumpamakan sebagai orang pertama. Orang pertama ini kelihatannya sudah matang rohaninya, ia benar-benar mengungkapkan isi hatinya bahwa ia mau mengikuti Yesus dengan mengatakan “Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Bisa ditafsirkan bahwa orang ini mengira mengikuti Yesus itu akan selalu enak tanpa penderitaan. Karena pada ayat-ayat sebelumnya dikisahkan bagaimana Yesus mengadakan mukjizat-mukjizat untuk menyembuhkan orang sakit. Tetapi pada ayat 20, Yesus menunjukkan bahwa Yesus tidak mempunyai tempat tinggal. Yesus pernah ditolak di mana-mana. Yesus berkata bahwa serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya. Di sini Yesus menunjukkan bahwa sebelum pergi mengikuti-Nya, orang ini harus mempertimbangkan hal apa saja yang berkaitan dengan syarat agar bisa mengikuti Yesus. Yesus menunjukkan bahwa mengikuti-Nya itu tidak selalu enak, ada harga yang harus dibayar sebelum membuat komitmen. Apa harga yang harus dibayar untuk dapat menjadi murid Yesus? Ada tiga hal yang tertulis injil Matius 16:24, yaitu:

  1. Menyangkal diri. Berarti menolak kehendak sendiri, selalu berusaha mengikuti kehendak dan rencana Tuhan meski itu kelihatannya tidak enak bagi kita, menolak keinginan yang mengutamakan kepentingan sendiri, menolak untuk mendahulukan ambisi pribadi. Sehingga kita perlu berserah kepada Yesus, mencintai-Nya, dan menaati-Nya.
  2. Memikul salib. Yesus mengajarkan kepada kita untuk berani menanggung apa saja yang terjadi dalam kehidupan ini dengan sukacita.
  3. Mengikut Yesus.Ini adalah tujuan dari hidup kita, di mana sikap hidup, jalan pikir dan prinsip hidup kita sesuai dengan kehendak dan jalan Tuhan.

Ayat 21-22 diumpamakan sebagai orang kedua. Ada banyak tafsiran mengenai ayat ini. Tafsiran pertama, bisa diartikan bahwa orang tua dari orang kedua ini baru saja meninggal, jadi Yesus tidak mungkin melarangnya untuk menguburkan orang tuanya terlebih dahulu. Tafsiran lainnya, ada suatu tradisi yang mengharuskan seorang anak untuk menguburkan orang tuanya. Bisa jadi orang ini tidak mau pergi dulu, sebelum orang tuanya meninggal dan menguburkannya terlebih dahulu. Kedua tafsiran tersebut merupakan suatu bentuk penundaan atau alasan yang dibuat agar tidak segera mengikuti Yesus. Penundaan yang dilakukan menunjukkan bahwa orang ini tidak mempunyai kesadaran untuk mengikuti Yesus itu sebagai suatu tindakan yang mendesak dan tidak boleh ditunda. Pada ayat 22 dijelaskan tentang ajakan Yesus agar mengikuti dan menjadi murid-Nya dan ikut memberitakan Injil serta menjadikan Yesus sebagai suatu prioritas. Jika kita merenungkan lebih dalam jawaban Tuhan: “Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya”, kita dapat menyimpulkan bahwa untuk mengikuti Yesus tidak ada kata berhenti, mau apa pun yang terjadi dalam hidup kita, tidak ada kata menyerah. Kita harus terus berjalan karena Tuhan setia berjalan bersama kita. Sesulit apapun keadaan hidup kita, masalah yang kita hadapi, ingatlah bahwa Tuhan senantiasa menyertai kita. Tuhan juga merasakan masalah yang kita rasakan dan Tuhan mengajak kita untuk berdiri di atas masalah kita karena kita mempunyai Tuhan yang jauh lebih besar dari apapun kesulitan yang kita hadapi. Kita harus percaya bahwa Tuhan adalah Allah yang penuh kuasa dan peduli pada keadaan atau kesulitan yang kita hadapi. Keputusan untuk mengikuti Yesus adalah suatu prioritas yang harus kita laksanakan.

Refleksi diri:

Bagaimana dengan hidup kita?

Apakah komitmen dan prioritas hidup kita?

Apakah kita termasuk orang pertama atau orang kedua dari bacaan Injil hari ini?

Apakah kita sering menunda untuk bersaat teduh dengan Tuhan, menunda untuk belajar dan merenungkan Firman Tuhan serta menjadi pelaku Firman?

Selanjutnya tindakan konkret apa yang harus kita lakukan dalam menanggapi situasi tersebut?

Apakah kita sudah mengambil keputusan untuk mengikuti Yesus, setia sampai selamanya, meskipun ada resiko yang harus kita hadapi, ada kenyataan yang tidak sesuai dengan yang pernah kita impikan?

Jadikanlah lagu “Selidiki Aku” sebagai doa kita pada hari ini.

Selidiki aku… lihat hatiku…

Apakahku sungguh mengasihi-Mu Yesus.

Kau yang Maha Tahu dan menilai hidupku.

Tak ada yang tersembunyi bagi-Mu…

 

Tuhan Yesus mengasihi dan memberkati kita semua. Amin

VRE

Berjalan BersamaKU