Harta Dunia Sebagai Sarana Keselamatan

Renungan Jumat 17 Juni 2016

Bacaan: 2Raj. 11:1-4,9-18,20; Mzm. 132:11,12,13-14,17-18; Mat. 6:19-23

Kemajuan teknologi membuat pikiran dan perilaku manusia semakin sulit mengendalikan diri. Dengan berbagai macam cara orang mengumpulkan harta dunia melalui bisnisnya. Perampasan, perampokan, penipuan bahkan sampai korupsi. Orang selalu haus dan haus akan harta duniawi, namun mereka tidak pernah mengalami kepuasan. Mengapa? Tuhan Yesus telah mengingatkan bahwa ngengat dan karat akan merusaknya berarti harta dunia sangat terbatas. Orang yang menggantungkan hidupnya (hatinya) pada harta kekayaan duniawi membuat hidup mereka terjerat oleh berbagai ancaman dan kekuatiran, kecemasan, stres akan perubahan-perubahan nilai tukar uang yang tidak menentu bahkan perasaan takut ditipu oleh sesama rekan kerjanya, takut di-gendam, dicuri atau dirampok. Melimpahnya harta belum menjamin melimpahnya damai, orang masih dibelenggu sumpah serapah, iri dan dengki, merasa diri lebih kuat, lebih hebat, lebih bergengsi, lebih berpengaruh, akhirnya terjadi konflik mulai dari remaja (gang motor) sampai orang-orang dewasa yang menggunakan hartanya untuk membeli hukum, bahkan membeli manusia sebagai pemuas nafsu keserakahannya.

Tuhan Yesus mengajak kita untuk melihat, “Mata adalah pelita tubuh, jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu. Jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu.” (Mat 6: 22-23). Salomo mengatakan semua harta benda yang telah dikumpulkannya merupakan kesia-siaan, “Aku mengumpulkan bagiku juga perak dan emas, harta benda raja-raja dan daerah-daerah. Aku tidak merintangi mataku dari apapun yang dikehendakinya, dan aku tidak menahan hatiku dari sukacita apapun, sebab hatiku bersukacita karena segala jerih payahku. Itulah buah segala jerih payahku. Ketika aku meneliti segala pekerjaan yang telah dilakukan tanganku dan segala usaha yang telah kulakukan untuk itu dengan jerih payah, lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin…” (Pkh 2:8a, 10-11).

Kita perlu harta duniawi sebagai sarana memberitakan karya keselamatan Tuhan bagi sesama, dan bukan sebagai akhir tujuan hidup kita. Harta duniawi yang ada pada kita hendaknya untuk mendapatkan harta sorgawi sehingga kemurahan hati dan kebaikan yang kita lakukan hanya untuk kemuliaan Tuhan.

Tuhan memberkati.

ECMW