Dua Macam Dasar

Renungan Kamis 23 Juni 2016

Bacaan: 2Raj. 24:8-17; Mzm. 79:1-2,3-5,8,9; Mat. 7:21-29

Selamat pagi para sahabat dan kekasih Tuhan.

Hari ini Tuhan berbicara tentang dua macam “pondasi”. Pondasi dengan memakai batuan dan pondasi dengan memakai pasir. Tuhan tidak berbicara tentang bagaimana membuat bangunan yang indah dan megah. Semua tukang bangunan tahu, kalau mau membuat suatu bangunan pasti memakai pondasi dari batuan bukan pasir. Batuan punya karakteristik yang susah digerakkan, sedangkan pasir mudah sekali bergerak, terutama jika terserang banjir.

Perumpamaan yang sangat sederhana dan bisa dimengerti dengan baik. Pondasi yang baik untuk iman kita adalah mendengarkan firman Tuhan dan melaksanakannya. Di atas pondasi inilah dibangun semua kegiatan rohani kita, termasuk pelayanan kita. Kalau pondasinya sudah benar, maka ahli bangunan tidak akan kuatir untuk membangun tahap berikutnya.

Beberapa tahun yang lalu, saya dipercaya membangun pabrik di daerah pegunungan. Pada waktu melakukan penggalian tanah untuk pondasi, ditemukan banyak bongkahan batu gunung yang besar. Ada yang besarnya sekitar 60 sentimeter, ada juga yang besarnya sekitar 1,8 meter. Batuan ini harus dikeluarkan dari galian supaya bisa membuat pondasi. Alat berat bisa mengangkat dengan mudah untuk batuan yang tidak terlalu besar, namun kesulitan pada waktu mengangkat batuan yang berukuran besar. Saya sempat bingung, bagaimana cara mengeluarkan batuan yang besar tersebut, alat berat saja tidak bisa apalagi dengan tenaga manusia. Saya mulai kuatir dan bingung. Namun, setiap kali saya berdoa, Tuhan selalu katakan “tenang”. Saya teringat firman Tuhan “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” (Flp 4:6). Kemudian saya mendapat dorongan untuk bertanya ke warga sekitar. Mulanya enggan, karena saya pikir,apa mereka bisa bantu. Lalu saya mendapat informasi dari warga sekitar, bahwa di sekitar lokasi tersebut banyak pekerja pemecah batu. Waktu bertemu para pemecah batu ini, saya tidak percaya dengan kemampuan mereka. Fisik mereka bukan sebesar yang saya bayangkan, kurus dan cenderung ringkih. Belum lagi melihat peralatan yang mereka bawa. Jujur saya tidak yakin sama sekali. Tapi, Tuhan ingin saya mempercayai kemampuan mereka. Saya katakan, “Baik, Tuhan.” Besoknya mereka mulai bekerja, dan ternyata luar biasa kemampuan mereka. Batu yang besarnya hampir dua meter, bisa dihancurkan menjadi bongkahan-bongkahan kecil. Singkat cerita, semua batuan besar sudah dipecah, dengan mudah bisa dikeluarkan dari galian. Dari kesulitan yang saya alami ini, ternyata saya mendapat berkat yang luar biasa, hasil pemecahan batu tersebut setara dengan lebih kurang lima belas truk besar (kalau saya beli) dan bisa dipakai kembali sebagai pondasi pabrik.

Dari sinilah saya belajar, bahwa Tuhan mau supaya, kita, anak-anak-Nya, bertumbuh dengan melakukan firman Tuhan. Firman Tuhan yang berisi tentang ajaran, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan didikan (2 Tim 3:16), tidak hanya menjadi manual untuk hidup benar, tapi harus dilaksanakan.

Maka, mari kita lakukan ajakan Tuhan untuk melakukan kehendak-Nya. Bonus sudah tersedia yaitu masuk ke dalam Kerajaan Sorga (Mat 7:21).

Tuhan Yesus, ajar kami untuk setia melakukan firman-Mu. Kami ingin sepanjang hidup kami berkenan bagi-Mu. Amin. (JSW).