Bahagia Sejati

Renungan Senin 6 Juni 2016

Bacaan: 1Raj. 17:1-6; Mzm. 121:1-2,3-4,5-6,7-8; Mat. 5:1-12

Suatu ketika ada seorang pria yang mengenakan sepatu merah ke mana pun dia pergi. Hari demi hari, pria ini menyusuri jalan-jalan di desanya, dengan panik mencari-cari sesuatu. Akhirnya seorang rahib tua yang bijaksana menghentikannya dan bertanya, “Mengapa kamu berlari begitu cepat dan apa yang sedang kamu cari? Karena kehabisan nafas, pria ini berhenti, berpikir dan menjawab, “Saya sedang mengejar sukses.” Rahib itu tertawa dan berkata, “Jangan bodoh. Sukses sedang mendatangimu, tetapi kamu berlari terlalu cepat.”

Setiap orang selalu mencari kebahagiaan. Tidak sedikit orang yang sangat berusaha mencari kebahagiaan sampai menggunakan berbagai macam cara untuk meraihnya. Bahagia bagi sebagian besar orang diukur dengan jumlah kekayaan, kesuksesan karir, tidak adanya penderitaan, kekuasaan, makanan dan minuman berlimpah, harta benda melimpah, dll.

Di dalam khotbah di bukit, Yesus berbicara dan mengajar mengenai sabda bahagia. Bahagia sejati menurut Yesus Kristus. Dia katakan salah satunya, berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Ketika orang berusaha menjadi bahagia dengan kekayaan, Yesus membalikkan fakta bahwa bahagia sejati adalah ketika miskin di hadapan Allah.

Manusia boleh berusaha untuk menjadi sukses dan kaya, tetapi hendaklah kekayaan itu tidak menjadikan kita terikat kepada kekayaan itu. Di dalam Bahasa Inggris, “miskin di hadapan Allah” dituliskan “poor in spirit” yang mempunyai arti bahwa roh kita miskin, kosong, tidak ada apa-apa. Dengan demikian maka kita bisa mengosongkan diri kita sehingga kita benar-benar tidak mempunyai apa-apa yang bisa menghalangi hubungan kita dengan Allah.

Berapa banyak dari kita, murid-murid Kristus yang sangat sibuk mengejar kesuksesan demi kebahagiaan hidup, sampai lupa bahwa kebahagiaan itu ada dalam Yesus Kristus. Berapa banyak murid-murid Kristus yang terlalu sibuk sampai melupakan waktu bersama Tuhan. Maka mari kita memiliki waktu. Jangan berlari terlalu cepat.

Milikilah waktu berdoa dan mendengarkan suara-Nya. Dia rindu akan saudara dan mengetok pintu hati saudara. Dengarkanlah Dia.

Milikilah pula waktu untuk mengucap syukur atas apa yang sudah kita peroleh. Renungkan lagi satu per satu berkat yang telah diberikan-Nya. Tuhan yang telah memelihara, menghidupi dan memberi kita makan. Seperti firman Tuhan kepada Ahab, “Engkau dapat minum dari sungai itu, dan burung-burung gagak telah Kuperintahkan untuk memberi makan engkau di sana.” (1 Raj 17:4). 

Tuhan memberkati kita semua.

PDW