Selesaikan Sampai Akhir

Renungan Selasa 10 Mei 2016

Bacaan: Kis. 20:17-27; Mzm. 68:10-11,20-21; Yoh. 17:1-11a.

Membaca bacaan dan Injil hari ini, saya secara pribadi sangat tersentuh dan merasa bahwa ternyata pemikiran “kita” sama. Saya seperti bisa merasakan dan mengerti apa yang dirasakan oleh Paulus ketika dia menuliskan tentang apa yang dia rasakan.

Di ayat 19, Paulus mengatakan, “Dengan segala rendah hati aku melayani Tuhan.”

Kalimat ini sungguh-sungguh mengingatkan kita bahwa dalam melayani Tuhan, teruslah rendah hati. Kerendahan hati yang kita miliki saat pertama kali kita melayani, merasakan suka cita yang luar biasa karena kita merasa belum bisa apa-apa, tapi Tuhan beri kita kesempatan untuk melayani. Belajar mulai dari hal yang paling kecil dan paling sederhana.

Seiring waktu pelayanan kita, dengan ketekunan dan hati kita, Tuhan tambahkan talenta, Tuhan tambahkan kepercayaan pada kita, Tuhan tambahkan kesempatan, dan orang-orang mulai mengenal kita, mulai memuji pelayanan kita, kemampuan kita. Seringkali di awal-awal pula kerendahan hati kita sedikit mulai sedikit berkurang, dan bertambahlah ego kita. Pelayanan kita ditumpangi ego kita.¬†Begitu banyak saya melihat dalam perjalanan pelayanan saya, puluhan bahkan mungkin ratusan orang yang begitu bersemangat di awal, tapi tidak lama hilang. Karena adanya tuntutan “ego” yang mengalahkan kerendahan hati. Peranan Tuhan tidak bisa kita tinggalkan dalam membentuk kita terutama dalam pelayanan kita.

Di ayat 19b, Paulus juga mengatakan “Dalam pelayanan itu aku banyak mencucurkan air mata dan banyak mengalami pencobaan dari pihak orang Yahudi yang mau membunuh aku.”

Kalimat ini juga kembali membuat saya tersentak dan mengingatkan kita, bahwa dalam pelayanan pun kita akan mengalami banyak “musuh”. Ada banyak musuh yang ingin menghalangi kita, mengkritik kita, menghakimi kita, memusuhi kita, memfitnah kita, segala masalah dan beban yang membelenggu kita dan masih banyak hal lain.

Hal itu tidak mudah. Paulus sendiri juga mengalami sampai mencucurkan air mata. Tapi kita boleh melihat pada bacaan hari ini, bagaimana semangat Paulus, bagaimana dia tetap melanjutkan pelayanannya yang luar biasa. Sungguhlah hal ini boleh menjadi penyemangat bagi kita. Bahwa apa pun itu tidak membuat Paulus mundur, putus asa, menyerah, dan lari. Maka kita pun tidak boleh menyerah dan putus asa terhadap “musuh pelayanan” kita. Teruslah maju.

Paulus juga mengatakan¬† di ayat 24, “aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah.”

Saya menangis membaca ayat ini. Bagaimana dahsyatnya kasih karunia Allah yang sudah Paulus alami. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita mengalami kasih karunia Allah sepanjang hidup kita? Sehingga membuat kita tidak bisa berhenti untuk menceritakan tentang kasih karunia Allah yang kita terima dan betapa kita ingin agar orang lain mengerti, dan mengalami hal seperti yang kita alami. Tuhan sudah memilih kita, mempercayai kita, mendampingi kita dan memberikan kita masing-masing tugas yang harus kita lakukan. Dan kita harus menyelesaikan sampai akhir tugas pelayanan ini. Tuhan Yesus memberkati.

ADJ