Saling Mengasihi

Renungan Sabtu 14 Mei 2016

Bacaan: Kis. 1:15-17,20-26; Mzm. 113:1-2,3-4,5-6,7-8; Yoh. 15:9-17

Bacaan Injil di atas berbicara tentang perintah Yesus bagi kita untuk saling mengasihi.

Sebuah renungan yang dipetik dari keluarga yang mengalami badai dalam rumah tangganya. Hidup berumah tangga memang gampang gampang susah. Riak-riak dan gelombang kehidupan datang silih berganti. Begitu yang dialami oleh keluarga yang sudah menikah hampir 12 tahun. Gelombang besar yang menimbulkan badai dalam rumah tangganya terjadi bermula dari si istri memarahi anaknya yang masih balita dengan kata keras dan umpatan. Suami menganggap itu tidak baik bagi si anak, namun pertengkaran itu menjadi melebar ke mana-mana dan semakin hebat.

Masing-masing pihak tidak bisa mengendalikan dirinya dan kata pamungkas yang diucapkan istri , “Sekarang kita cerai”, dan jawaban suami, “Silahkan kamu pergi”, sambil diturunkannya koper-koper untuk mengemas semua barang istrinya.

Sang suami dengan dada yang panas melihat istri mengemas barang-barangnya sambil menangis dan ketika ia melihat anaknya yang masih kecil datang, entah apa yang menyebabkan suami termenung dan perlahan-lahan marahnya menjadi reda.

Dia dekap anaknya dan mulailah suami menangis. Dalam pekatnya kegelapan ternyata masih ada setitik cahaya terang, terang ilahi, timbul kesadaran dan rasa malu, mengapa hal itu terjadi dan sepertinya terjadi pada orang yang tidak mengenal Allah, malu pada tetangganya, malu pada keluarga, malu pada anaknya, malu pada sahabat- sahabatnya, itulah yang menyadarkan dirinya.

Akhirnya suami mendatangi istri, dia peluk dan saling meminta maaf, dan akhirnya sepakat untuk mengakhiri badai yang ada, tidak ada cerai, pakaian kembali ditata dalam lemari dan koper-koper kembali disimpan di gudang .

“Cinta kasih di dalam keluarga adalah sebuah perjuangan istimewa setiap hari”, itulah kata kunci yang telah menyadarkan dan menyelamatkan biduk rumah tangganya dari terjangan badai. Penyadaran seperti itu bisa terjadi manakala orang sudah terbiasa hidup dalam doa dan firman Allah serta orang berani masuk ke dalam kesunyian.

“Saya lahir hanya satu kali, saya memaafkanmu karena ternyata engkau (suaminya) juga manusia yang lemah. Saya mengasihimu karena engkau adalah bagian dari hidupku, kita harus tetap bersama-sama”, itulah kata-kata sang istri dan sekarang mereka hidup saling mengasihi.

Itulah kisah perjalanan sebuah keluarga yang tentunya juga dialami oleh banyak orang, mungkin kita pun juga mengalaminya. Cinta kasih memerlukan pengorbanan diri dan perjuangan istimewa, cinta kasih yang benar memerlukan kerendahan hati dan saling mengampuni. Santo Paulus mengatakan, “Kasih itu tidak menyimpan kesalahan orang lain.”

Dalam amanat perpisahan-Nya, Yesus memberi perintah baru kepada para murid-Nya untuk saling mengasihi. Mengapa mereka harus saling mengasihi? Karena Yesus menyadari bahwa kodrat-Nya sendiri adalah kasih (1 Yoh  4:8-16). Sehingga Ia berkata, “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku mengasihi kamu, tinggallah di dalam kasih-Ku itu.” (Yoh 15:9). Ketika kita mengikuti perintah Yesus untuk tinggal di dalam kasih-Nya maka dengan sendirinya kita juga tinggal di dalam kasih Bapa.

Cinta kasih itu berasal dari Allah dan bahwa Dialah yang pertama-tama mengasihi kita. Ia selalu mengasihi kita apa adanya maka kita pun dipanggil untuk saling mengasihi satu sama lain. Cinta kasih yang benar itu perlu pengorbanan diri dan bukan hanya sekedar kata-kata “Saya mengasihimu”, tetapi kasih yang agung dan mulia itu adalah kasih yang didasari oleh pengorbanan diri.

Yesus berkata, “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat sahabatnya.” (Yoh 15:13). Kisah perjuangan keluarga dalam menghadapi badai tersebut di atas kiranya bisa menjadi teladan di dalam berkorban demi mempertahankan cinta dalam keluarganya. Melalui peristiwa yang dialami keluarga di atas mengingatkan kepada kita tentang perlunya mengasihi dengan sungguh antara satu dengan lainnya.

FXST