Pujilah Tuhan dalam Segala Perkara

PUJILAH TUHAN DALAM SEGALA PERKARA

Renungan Selasa 31 Mei 2016, Pesta SP Maria mengunjungi Elisabet

Bacaan: Zef. 3:14-18a atau Rm. 12:9-16b; MT Yes. 12:2-3,4-bcd,5-6; Luk. 1:39-56

Iman kristiani tidak dapat dipisahkan dari pujian. Dalam setiap ibadah aspek pujian selalu mendapat porsi cukup banyak selain pemberitaan firman Tuhan. Memuji Tuhan seharusnya menjadi bagian hidup orang percaya sehari-hari. Jika kita menyadari siapa diri kita ini di hadapan Tuhan dan mengenal dengan benar siapa Tuhan kita, maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak memuji Tuhan.

Memuji Tuhan dan bersyukur kepada-Nya karena sedang dalam keadaan kuat dan mampu adalah hal yang sangat normal. Bagaimana jika kita sedang mengalami pergumulan hidup atau dalam keadaan tidak berdaya karena tertindih beban hidup yang berat atau karena sakit-penyakit, masihkah kita mau memuji-muji Tuhan dan bersyukur kepada-Nya? Mari kita belajar dari Bunda Maria.

“JIWAKU MEMULIAKAN TUHAN, DAN HATIKU BERGEMBIRA KARENA ALLAH, JURUSELAMATKU”

Dari Nyanyian Pujian Maria (Magnificat) ada hal-hal menarik yang perlu kita pelajari :
1. Maria memuliakan Tuhan

Hidup yang dipenuhi oleh ucapan syukur adalah hidup yang memuliakan Tuhan (Mazmur 50:32). Hidup yang bersyukur itulah kunci kepuasan dan kebahagiaan hidup. Namun jika yang keluar dari mulut kita hanyalah persungutan, mustahil kita merasakan kebahagiaan hidup. Orang yang terus bersungut-sungut berarti tidak pernah menghargai pertolongan Tuhan dalam hidupnya, meragukan kuasa dan kesanggupan Tuhan.
Kita harus mengucap syukur kepada Tuhan dalam segala hal, baik dalam keadaan diberkati atau pun sedang dalam pergumulan, baik dalam suka maupun duka. Jadi, bukan hanya ketika segala sesuatu berjalan baik atau lancar. Bila saat ini kita diijinkan mengalami masalah atau penderitaan sekali pun, tetaplah mengucap syukur, karena semuanya pasti akan mendatangkan kebaikan bagi kita, ada kekuatan, ada kemenangan, ada kasih, sukacita dan damai sejahtera.

2. Maria bergembira karena Allah

Banyak orang berpendapat bahwa sumber sukacita dalam diri seseorang berasal dari materi dan keadaan atau situasi yang mendukung. Tetapi jika kita mendasari sukacita pada kondisi dan situasi maka sukacita yang kita rasakan tidak akan bertahan lama, hanya sementara. Berbeda sekali jika kita menjadikan Tuhan sebagai sumber sukacita, di mana sukacita yang kita rasakan akan bersifat permanen karena sukacita dari Tuhan adalah sukacita di segala situasi, tidak dipengaruhi keadaan, tapi dikerjakan oleh Roh Kudus yang bekerja di dalam kita. Sukacita inilah yang dirasakan oleh Maria. Maria bersukacita bukan karena keadaan atau situasi yang bisa berubah tetapi dia bersukacita karena Allah. Bagi orang percaya tidaklah sulit bersukacita di tengah masalah dan penderitaan karena Roh Kudus ada di dalam diri kita. Sukacita dari Tuhan itulah kekuatan kita. Ketika kita mampu bersukacita di segala situasi, kita akan menjadi kesaksian yang baik bagi orang lain.

3. Maria menyadari cara kerja Allah

Setiap orang pasti memiliki pengalaman hidup beraneka ragam: adakalanya Tuhan memakai peristiwa-peristiwa yang mungkin menurut penilaian kita sebagai pengalaman yang buruk tetapi justru oleh Tuhan pengalaman atau peristiwa tersebut digunakan sebagai cara dan sarana untuk membentuk, mempersiapkan dan menggenapkan rencana-Nya. Tuhan turut bekerja dalam segala sesuatu. Kata segala sesuatu berarti segala situasi dan kondisi, termasuk hal-hal yang buruk dan tidak mengenakkan sekalipun. Karena itu penting sekali kita belajar memahami cara Tuhan bekerja, karena Ia tidak pernah menjanjikan bahwa hidup orang percaya itu bebas dari masalah. Justru di balik masalah selalu ada maksud dan rencana Tuhan yang indah, salah satunya adalah untuk menarik kita semakin mendekat kepada-Nya dan belajar bergantung kepada-Nya. Maria menyadari bahwa Allah bukanlah Allah yang membeda-bedakan. Bisa saja kita menjadi orang miskin atau orang yang tersingkir di masyarakat tetapi Allah tetap akan memelihara dan mencukupi segala kebutuhan kita. (Lukas 1: 53). Di sini maria mau menggambarkan bahwa orang yang memuji-muji Tuhan bukanlah orang-orang rendah diri (minder). Oleh karena itu kita tidak perlu minder, waktu kita tahu cara kerja Allah, kita akan bekerja dengan semangat, kita mengimani janji-janji Tuhan sampai kita melihat Kemuliaan-Nya dinyatakan dalam hidup kita. Kita adalah orang-orang yang senantiasa disertai Yesus dan diberkati oleh kasih-Nya.

Sahabat, mari kita ubah keadaan yang buruk dan kepedihan hati menjadi sorak kemenangan dengan kuasa puji-pujian. Masalah dan pencobaan boleh saja datang, tetapi sebagai umat Tuhan kita harus belajar untuk tetap mengucap syukur dan memuji-muji Dia. Kalahkanlah kesedihan dan tekanan di hati kita dengan tetap memuji Tuhan dalam segala perkara. Saat memuji Tuhan kita memberi kesempatan Tuhan menyatakan kuasaNya: mengubah keadaan buruk menjadi kemenangan! Amin.

FHM