Kuduslah Kamu, Seperti Aku Kudus

Renungan Selasa 24 Mei 2016

Bacaan: 1Ptr. 1:10-16; Mzm. 98:1,2-3ab,3c-4; Mrk. 10:28-31

Peristiwa Pentakosta telah mengubah kehidupan para Rasul. Mereka yang awalnya ketakutan, bimbang dan ragu, lebih percaya pada keterbatasan dirinya, berubah menjadi orang yang berani. Tanpa takut dan ragu mereka mewartakan Injil Yesus Kristus yang berkobar-kobar untuk memuliakan dan membesarkan nama Tuhan. Dengan berani meninggalkan, melepaskan segala sesuatu demi Tuhan, untuk melakukan kehendak-Nya.

Di dalam kenyataan yang saya alami, sering ada kelekatan dalam hidup, contoh, berapa banyak baju, barang yang tidak berguna, tidak terpakai masih kita simpan karena mempunyai kenangan tersendiri. Bahkan suatu saat, ketika belum mengenal Yesus secara pribadi saya begitu marah pada pembantu yang kurang hati-hati ketika membersihkan rumah saya. Karena memecahkan bejana kuno yang saya suka, pemberian seseorang ketika saya menikah. Bagi saya benda itu sangat berharga, di samping harganya yang mahal, juga mempunyai nilai kenangan indah pernikahan saya. Saya mempunyai kelekatan akan benda dan kenangan indah. Dan membuat saya lebih menghargai semua itu melebihi hati pembantu saya yang terluka sampai menangis karena saya marahi dan maki. Saat itu saya belum menyadari bahwa di dalam dirinya juga ada Roh Allah sehingga kurang menghargai sesama manusia.

Ketakutan, kekuatiran, kecemasan menghadapi sesuatu yang belum pasti, karena kelekatan akan kepastian hidup mapan, takut meninggalkan zona nyaman. Contoh, ketika ada pengumuman bensin naik, berebut cepat antri bensin. Dalam suatu pesta, perayaan, ketika dipersilakan mengambil makanan, orang berebut saling mendahului mengambil makanan sebanyak-banyaknya, sampai kebanyakan dan makanan tidak dihabiskan. Terbuang sia-sia di mana banyak orang tidak mendapat karena sudah habis. Bahkan pernah dalam suatu konvensi di luar kota, semua orang berdesak-desak mengambil makanan. Sesudah mengambil jatah makannya, seseorang Bapak dengan sambil mengangkat piring tidak memperhatikan orang sekitar, berjalan seenaknya, akibatnya kuah makanan yang tertumpah dari piringnya membasahi rambut saya dan teman saya, sehingga harus cuci rambut. Egoisme manusia sering menguasai diri kita, sehingga tidak memperhatikan orang lain, membuat maraknya kejahatan di dunia.
Tuhan mengingatkan kita untuk hanya percaya dan menaruh harapan kita hanya pada Allah, sumber segala anugerah dan rahmat dan berkat dalam segala segi kehidupan kita sebagai manusia. Contoh, saya diberi hadiah sebuah syal oleh seorang teman. Suatu hari datang bermalam seorang Ibu yang dari luar pulau yang tidak membawa mantel atau baju dingin. Saya terdorong untuk meminjamkan syal yang baru dan ketika dia mau pulang dikembalikan pada saya. Saya teringat bahwa mereka (rombongan) meneruskan perjalanan ke Batu. Dalam hati saya sayang akan kehilangan syal tersebut. Tapi ada dorongan kuat untuk memberikan pada dia supaya dia tidak kedinginan. Apa yang terjadi kemudian saya memperoleh syal yang lebih banyak lagi. Bila kita rela melepaskan segala sesuatu untuk Tuhan, Tuhan akan menggantikannya dengan lebih lagi.

Perayaan Pentakosta mengingatkan kita, Yesus sudah mewujudkan janji-Nya, mengutus Roh Kudus untuk memimpin dan membimbing kita dalam segala segi kehidupan kita, supaya kita dapat hidup kudus, seperti Dia yang memanggil kita untuk hidup seturut teladan Yesus yang tekun, setia mencari kehendak Bapa dan taat melakukan.

Doa: Tuhan Yesus tolonglah kami, bimbinglah kami dengan hikmat Roh Kudus agar kami mampu hidup seturut teladan-Mu dengan tekun, ulet, setia mencari kehendak Bapa dan taat melakukannya. Mampukanlah kami mempunyai hati lepas bebas dari berbagai macam kelekatan dunia, dengan melekatkan diri hanya pada-Mu semata supaya kami dapat hidup kudus sebab Engkau Kudus adanya. Sebab Engkaulah Tuhan dan Pengantara kami. Amin.

JRW