Bersaksi di Tengah Penderitaan

Renungan Kamis 12 Mei 2016

Bacaan: Kis. 22:30; 23:6-11; Mzm. 16:1-2a,5,7-8,9-10,11; Yoh. 17:20-26

Bersaksi di Tengah Penderitaan

Sebagai murid, pewarta dan pelayan Kristus, kita seringkali terjebak dalam “zona nyaman”, kita akan lebih senang menghadapi pelayanan yang aman, sesuai selera kita, keberhasilan demi keberhasilan dalam pelayanan, ‘kesuksesan’, pelayanan yang penuh ‘berkat’, bahkan banyak afirmasi (peneguhan) dan pujian.

Semua ini seringkali memang diberikan Tuhan sebagai “upah” yang harus selalu disyukuri dan dipersembahkan kembali demi kemuliaan Allah. Tetapi juga perlu diwaspadai, karena semua itu seringkali menyenangkan ‘ego’ kita, dan jika kita tidak waspada, maka kita bisa terjebak untuk mencari kemuliaan sendiri.

Oleh karena itu kita juga mau belajar dari rasul St. Paulus. Bila kita renungkan pewartaan dan pelayanan rasul St. Paulus dalam bacaan Kitab Suci hari ini, bagaimana dia dihadapkan di depan Mahkamah Agama Yahudi. Kita lihat bagaimana St. Paulus melayani Tuhan dan memberi kesaksian di tengah-tengah penderitaan. Akan tetapi walaupun ditangkap dan dihadapkan Mahkamah Agama, kita saksikan bagaimana tangan Tuhan bekerja, memberi kekuatan dan penghiburan kepada St. Paulus.

Saya kagum dengan kecerdikan St. Paulus, yang dapat melihat ada dua kelompok yang bertentangan faham mengenai “kebangkitan badan”. Orang Saduki yang tidak percaya akan kebangkitan badan dan orang Farisi yang percaya akan kebangkitan badan. Dan St. Paulus sebagai orang Farisi, menggunakan kesempatan ini untuk bersaksi. Apa yang dilakukan St. Paulus ini membuat saya teringat akan Sabda Tuhan Yesus sendiri :

“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.” (Mat 10:16)

Walau menderita di tengah perutusan dan pewartaan, St. Paulus terbuka kepada bimbingan Roh Kudus untuk bersaksi. Roh Kudus-lah yang mengerjakan semuanya itu.

St. Paulus sebagai murid dan pelayan Kristus, walau harus bersaksi di tengah penderitaan, kita lihat bagaimana Tuhan sendiri menghibur dan menguatkan dia:

Pada malam berikutnya Tuhan datang berdiri di sisinya dan berkata kepadanya: “Kuatkanlah hatimu, sebab sebagaimana engkau dengan berani telah bersaksi tentang Aku di Yerusalem, demikian jugalah hendaknya engkau pergi bersaksi di Roma.” (Kis 23:11)

 

Di sini kita sadari, kalau St. Paulus dapat tetap bertahan di tengah penderitaan, semata-mata karena kekuatan dan penghiburan Tuhan. Tuhan yang mengutus, Tuhan yang memperlengkapi dan Tuhan yang memberi kekuatan.

Kita dipanggil untuk melayani, baik dalam suka dan duka, baik diterima dan ditolak, baik menyenangkan ataupun harus menderita, belajar dari pengalaman St. Paulus ini, percayalah bahwa tangan Tuhan akan selalu beserta kita.

ET