Saya Termasuk Orang Beruntung

Renungan Kamis 14 April 2016

Bacaan: Kis. 8:26-40; Mzm. 66:8-9,16-17,20; Yoh. 6:44-51.

Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.” (Yoh. 6:51)

Hari ini saya bersyukur atas Firman yang diambil dari Injil Yohanes 6:44-51. Firman tersebut menegaskan kepada kita beberapa hal; kita dapat datang kepada Yesus, menjadi sahabatNya, berelasi denganNya, karena kita ditarik oleh Bapa. Bapalah yang menarik kita ke dalam persekutuan dengan Yesus PutraNya. Dan kepada kita semua yang berada dalam persekutuan dengan diriNya, Tuhan Yesus berjanji akan membangkitkan kita pada akhir zaman. (Yoh. 6:44).

Hal yang sama pasti juga dialami oleh sida-sida dari Etiopia di dalam bacaan pertama. Sida-sida itu percaya setelah mendengar pewartaan Filipus tentang Yesus. Dia menerima Yesus dengan segenap hatinya dan dibaptis. (Kis. 8:35-38). Karena dia ditarik masuk ke dalam persekutuan dengan Tuhan Yesus, maka dia pasti juga menerima janjiNya, untuk dibangkitkan pada akhir zaman.

Setelah kita ditarik oleh Bapa ke dalam persekutuan dengan Yesus PuteraNya, maka “kita semua diajar oleh Bapa” (Yoh. 6:45). Bapa mengajar kita lewat Sabda PuteraNya, lewat bimbingan Roh KudusNya agar kita dapat melaksanakan kehendakNya, dan lewat penyatuan diri Yesus PuteraNya ke dalam diri kita dalam perayaan Ekaristi.

Kita hanya dapat menerima pengajaran Bapa, bila kita mau membuka hati dan menyerahkan diri kepada Nya. Membiarkan diri kita direbut, dikuasai dan dikendalikan olehNya.

Dan kita semua yang telah menerima pengajaran Bapa, yang percaya bahwa Yesus datang dari Bapa, yang telah menerima Yesus Kristus sebagai Juru Selamat kita; dijanjikan mempunyai hidup yang kekal. (Yoh. 6:47).

Akhirnya, Tuhan Yesus mengajak kita semua untuk menerima Tubuh dan DarahNya dalam perayaan Ekaristi, agar kita dapat hidup selama-lamanya. (Yoh. 6:51).

Melalui penegasan Firman pagi ini , saya sungguh disadarkan bahwa saya termasuk orang yang beruntung.

Saya beruntung karena dalam iman warisan, Ia telah menarik saya, sejak saya bayi. Kemudian dalam iman yang dialami, melalui orang tua dan para pendidik di sekolah Katolik, Ia memperkenalkan pribadiNya dalam Doa Bapa Kami dan perayaan Ekaristi. Kalau saya sedang gundah, kuatir-biasanya kalau menghadapi ulangan atau ujian sekolah-Ia mendorong saya untuk berdoa Bapa Kami atau Novena Tiga Salam Maria. Setelah boleh menerima komuni pertama, hampir setiap minggu Ia memberikan sukacita kepada saya lewat salah satu lagu, “Ekaristi Sakramen Maha Kudus. Warna roti namun Tuhan Yesus. Oh santapan rejeki para iman. Mengherankan maha cinta Tuhan……….”. Sampai sekarang, dalam keheningan setelah menerima Tubuh Kristus, Ia masih kerap kali mengingatkan lagu itu dalam hati saya,

Memang dalam iman yang mencari-cari, saya pernah mengalami kebimbangan. Apakah Katolik agama yang benar? Bagaimana merasakan dan mengalami Dia sebagai Allah yang hidup? Namun kembali lagi saya beruntung. Ia secara lembut, mengungkapkan siapa diriNya lewat beberapa kejadian dalam hidup saya. Dan saya beruntung karena masih diberi kesempatan untuk hidup, sehingga saya dapat mengenal Dia sebagai Allah yang sungguh-sungguh hidup.

Sekarang, setiap hari minggu, ketika Ia mendorong saya untuk menerima undanganNya, datang menemuiNya dalam perayaan Ekaristi, menerima kehadiranNya secara nyata sebagai “roti hidup”, percaya akan janjiNya menyertai kita-semua orang yang diutusNya-senantiasa sampai kepada akhir zaman, saya selalu mengatakan , saya termasuk orang yang beruntung.

Terima kasih Tuhan Yesus. Engkau telah menarik diriku untuk mengenal pribadiMu. Berelasi denganMu. Mengalami kehadiranMu yang nyata dalam hidupku dan Engkau sendiri telah membuat diriku termasuk orang yang beruntung. Ajar dan dorong aku agar dapat membagikan keberuntunganku kepada banyak orang. Amin.

SS