Jalan, Kebenaran dan Hidup

Renungan Jumat 22 April  2016

Bacaan: Kis. 13:26-33; Mzm. 2:6-7,8-9,10-11; Yoh. 14:1-6

Berabad-abad yang lalu hingga saat ini bahkan mungkin masih akan tetap terus berlangsung orang-orang berusaha keras mencari jalan untuk menuju dan mengenal Allah, dengan harapan agar kelak setelah meninggal dunia, seseorang dapat masuk sorga.

Maka timbullah usaha manusia dengan kekuatannya sendiri menciptakan berbagai macam cara atau jalan agar dapat sampai ke tempat tujuan akhir tersebut yaitu bertemu dengan Allah. Lalu orang-orang sering mengatakan bahwa: “Seribu satu macam jalan ke Roma” atau “Banyak jalan menuju Roma”, maksudnya bahwa banyak jalan menuju kepada  Tuhan. Tetapi justru dengan peribahasa atau kata-kata seperti itulah kuasa jahat, yang adalah musuh kebenaran sejak semula, memanfaatkannya agar orang-orang bisa dibawanya dan dibelokkan ke jalan lain, jalan alternatif yang tidak dijamin kebenarannya apalagi memperoleh kehidupan.

Dengan dalih banyak jalan itulah, maka juga banyak orang yang melakukan berbagai acara ritual tertentu untuk berusaha menggambarkan dan mengenal  Allah menurut pikirannya, salah satu di antaranya digambarkan Allah sebagai sosok yang selalu meminta korban bakaran sebagai persembahan, seakan-akan Allah yang mau makan daging korban bakaran atau persembahan itu. Dan tentu masih banyak lagi berbagai gambaran lainnya yang menimbulkan berbagai ragam diskusi, argumentasi. Padahal sumber yang autentik yaitu Kitab Suci, sangat jelas bahwa sesungguhnya dan sebenarnya Allah-lah yang menciptakan manusia menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. (Kej. 2:27). Dari ayat ini tentu bisa dipahami bahwa bukan manusia yang menciptakan gambaran Allah, tetapi Allah yang menciptakan manusia menurut gambaran-Nya, dengan demikian hanya Allah yang mengenal ciptaan-Nya. Rasul Paulus mengungkapkannya bahwa: “Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut, bersemayam dalam terang yang tak terhampiri, seorangpun tidak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia, Bagi-Nyalah hormat dan kuasa yang kekal! Amin. ( 1 Tim 6:16).

Hanya Allah sendiri-lah yang berkenan  menyatakan diri-Nya sehingga saya (manusia) dapat mengenal dan melihat-Nya, yakni  melalui “wahyu” yaitu “Sabda-Nya” yang menjadi daging dalam diri Yesus Kristus, sebagai  Allah seratus persen dan manusia seratus persen, yang menyapa manusia dengan bahasa manusia. Ini bukan berarti saya (manusia) hanya pasif, tetapi haruslah tetap berusaha untuk menanggapi-Nya (mengimani) dan yang secara terus menerus menjalin relasi dalam persekutuan dengan Dia.

Allah yang dahulu transcendent yang jauh, yang tidak terbatas, yang tidak terjangkau, tetapi melalui Yesus, Anak-Nya yang tunggal, Allah menjadi menjadi immanent, Allah yang dekat, dapat dilihat, diraba, dirasa.  Ini semua: Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah menganugerahkan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yoh 3 : 16).

Dari bacaan Injil hari ini, Yesus mengisyaratkan dan sekaligus memberikan peneguhan kepada para murid-Nya bahwa Dia akan meninggalkan mereka (para murid-Nya) untuk pergi ke suatu tempat di mana Ia berasal, yaitu sorga.

Tomas, salah seorang murid-Nya, bertanya: “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?” (ayat 5). Tomas menanyakan jalan ke situ, jalan menuju sorga. Yesus tidak mengatakan banyak jalan, tetapi Yesus menjawab, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”(ayat 6). Inilah tawaran ajaran-Nya yang menuntun kita semua untuk mengenal dan sampai kepada Allah. Yesus merindukan kita semua sampai kepada dan bersatu dengan Allah, karena Yesus telah menyediakan tempat bagi kita semua murid-murid-Nya. Tawaran-Nya ini  sekaligus menjawab atas segala upaya manusia mencari jalan untuk menjangkau dan berjumpa dengan Allah. Sabda-Nya: “Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.” (ayat 7).

Marilah kita sebagai murid-Nya selalu mengimani dengan lebih sungguh atas kebenaran ajaran-Nya.

Doa: Ya Tuhan Yesus, Engkau senantiasa menyertai kami anak-anak-Mu. Pimpin kami untuk selalu berbagi dengan kasih dan topanglah kami dalam menghadapi berbagai pencobaan, sehingga kami selalu setia untuk mengikuti Engkau sebagai jalan, kebenaran dan hidup, sehingga pada saatnya nanti kami sampai kepada Allah Bapa, bersama para kudus Allah. Demi Kristus dan pengantara kami, kini dan sepanjang segala masa. Amin.

JHS