Ini Aku, Percayalah

Renungan Rabu 13 April 2016

Bacaan: Kis. 8:1b-8; Mzm. 66:1-3a,4-5,6-7a; Yoh. 6:35-40

Setiap manusia dari kodratnya memiliki rasa lapar dan haus untuk mengalami belas kasih dan persekutuan Allah. Bagaimana dan ke mana kita dapat menemukan rasa lapar dan dahaga batin itu? Jalan terang menuju pemenuhan dahaga batin adalah mencari pada sumbernya, yaitu Allah sendiri. Dialah yang telah bersabda: “Akulah roti hidup; barang siapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.”

Persoalannya adalah apakah kita berani percaya dan berserah kepada-Nya? Hidup kita di dunia ini membutuhkan makanan. Makanan sebagai kekuatan untuk dapat hidup. Di balik itu ada iman dan pengakuan atas Yesus sebagai Tuhan dan penyelamat manusia. Dia datang memperkenalkan kehidupan baru di dalam Allah Bapa-Nya. Dia datang sebagai roti kehidupan artinya Dia sebagai makanan hidup rohani umat beriman. Lambang konkret dari hal itu adalah jika kita merayakan Ekaristi di mana Yesus Tuhan hadir secara nyata dalam rupa roti (tubuh-Nya) dan anggur (darah-Nya). Persoalannya tidak semudah membalik telapak tangan untuk percaya bahwa Yesus sungguh hadir dalam Ekaristi.

Sebagaimana pengalaman iman yang saya alami. Saya dibaptis Katolik tahun 1992 di mana sebelumnya saya penganut agama lain. Semua pengajaran Katolik bisa saya terima dengan baik, kecuali satu hal, adalah perubahan hosti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus. Karena latar belakang saya, sangat sulit dan tidak masuk akal untuk memahami dan menerima ajaran ini. Ekaristi tiap minggu saya ikuti, tapi selalu ada perasaan gelisah yang muncul ketika terima komuni, selalu muncul pertanyaan-pertanyaan benarkah ini Tuhan? Hal ini berlangsung terus sampai selama delapan tahun, sehingga iman ke-Katolik-an saya berhenti dan berjalan di tempat. Pada Juli tahun 2000 muncul dorongan untuk belajar memperdalam iman Katolik, dan memulai awal pertobatan hidup saya. Tanggal yang sama dengan hari ini empat belas tahun lalu, 13 April 2002, ketika mengikuti retret pelayanan di Tumpang saya menerima pewahyuan pribadi. Saya menerima jawaban dari keraguan selama ini. Dalam suasana adorasi, ketika semua menyembah dan masuk dalam suasana keheningan, tiba-tiba muncul kembali pertanyaan konyol dalam hati. “Benarkah Tuhan sungguh-sungguh ada dalam roti itu? Mana buktinya?” Seketika itu juga dari monstran keluar cahaya yang sangat terang kemudian berubah seperti bunga api yang menimpa seluruh tubuh saya. Anehnya api itu hanya menimpa tubuh saya, sebelah saya tidak merasakan apa-apa. Ketika api itu menimpa, saya merasakan dingin dan damai yang luar biasa. Kemudian muncul suara yang sangat lembut “Ini Aku, anak-Ku, percayalah.” Seketika saya menangis dan mohon ampun. Yang terjadi mulut dan lidah saya tidak mengeluarkan suara tangisan, tetapi bergetar dengan mengeluarkan kata-kata yang tidak saya mengerti. Semakin saya ikuti gerakan lidah saya semakin saya merasakan damai dan nikmat yang luar biasa. Ternyata saat itu juga Allah memberikan karunia Bahasa Roh yang selama ini saya rindukan di dalam beberapa kali Seminar Hidup Dalam Roh yang saya ikuti. Saya merasakan damai yang luar biasa, rasanya saya tidak mau keluar dalam suasana itu, tetapi ketika saya melihat teman-teman sudah menunggu, akhirnya saya akhiri juga doa Bahasa Roh Itu dengan mengucap syukur pada Allah. Menurut teman-teman ternyata saya berbahasa Roh sangat lama hampir dua jam. Pengalaman iman inilah yang membuat saya semakin mencintai Ekaristi, iman saya ditumbuhkan secara luar biasa, sekat penghalang dihapuskan, sehingga semakin mudah memahami isi dan pengajaran kitab suci.

Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita akan buah-buah Ekaristi. Orang menerima Roti Hidup,  Roti itu tidak mengenyangkan perut, tetapi menyelamatkan hidup. Berkat Roti itu, orang dianugerahi hidup kekal sebab Roti itu tidak lain adalah Tubuh Kristus sendiri. Persatuan dengan Kristus memungkinkan kita untuk bersatu dengan yang ilahi karena dalam Kristus ada ke-ilahi-an. Maka marilah kita belajar mengutamakan Ekaristi di atas yang lain dan belajar pula menjadi umat yang semakin pantas merayakan Ekaristi.  Amin.

Berkah Dalem.

VBP