Hidup Berkelimpahan

Renungan Senin 18 April  2016

Bacaan: Kis. 11:1-18; Mzm. 42:2-3; 43:3,4;Yoh. 10:1-10

Hidup seperti apakah sebenarnya yang dikehendaki Tuhan? Tuhan Yesus berkata Aku datang untuk memberi  hidup,  supaya mereka mempunyai dengan segala  kelimpahan. Pikiran duniawi banyak orang memandang bahwa hidup yang  berkelimpahan itu,  yaitu  hidup yang tidak  berkekurangan secara materi, tidak memiliki masalah, tubuh sehat, sukses dalam karier, studi , rumah tangga dan hal-hal lain yang bersifat materi. Ini sebenarnya tidak tepat, karena dalam bahasa aslinya  Tuhan menggunakan kata “zoe” untuk “hidup” bukan “bios“. Kata zoe menunjuk  hidup yang berkualitas; hidup yang dibaharui, sedangkan bios menunjuk hidup  manusia pada umumnya dan selalu berhubungan dengan hal yang bersifat fisik. Aku datang untuk memberi zoe, supaya mereka mempunyai zoe itu dalam segala kelimpahan (perissos); perissos ini artinya sangat tinggi dalam kualitas. Kualitas di sini tidaklah diukur dengan jumlah materi yang dimiliki, bukan diukur dengan penampilan lahiriah tetapi sikap batiniah. ( 1 Pet 3:3-4).

Sahabat, untuk memperoleh hidup (zoe) itu mensyaratkan pertobatan (Kis 11:1-18), dan untuk mencapai kelimpahannya diperlukan kesadaran dan usaha untuk menemukan Tuhan; menemukan pengenalan akan Tuhan sampai memiliki persekutuan dengan Tuhan. Karena pada dasarnya hidup berkelimpahan itu adalah hidup yang bersekutu dengan Allah.  Kalau manusia batiniah seseorang itu benar maka ia akan memiliki hubungan yang harmoni dengan Tuhan, inilah target yang harus dicapai oleh setiap orang percaya sesuai kerinduan Tuhan Yesus yang dikatakan dalam doa-Nya kepada Bapa di Sorga (Yoh 17:20-21) dengan demikan kita menemukan Kerajaan Allah dan Kebenaran-Nya . Karena untuk  menemukan Tuhan tidak cukup menjadi orang beragama dan merasa sudah menemukan Tuhan dan sudah ditemukan Tuhan. Banyak orang Kristen juga  merasa sudah menemukan Tuhan dan  sudah ditemukan Tuhan, padahal belum; belum menemukan Tuhan tapi sudah ditemukan Tuhan. Tuhan sudah menemukannya dan Tuhan mengajar kita untuk menemukan Dia.

Hal ini saya alami, di masa-masa awal setelah pertobatan saya, berarti  saya sudah menerima hidup dari Tuhan Yesus sehingga banyak perubahan dalam hidup saya; ada keinginan membaca firman Tuhan, ada keinginan melakukan yang benar, ada keinginan berkumpul dengan teman-teman seiman. Tetapi waktu itu manusia batiniah saya masih dalam proses pertumbuhan sehingga jiwa saya tidak mempunyai rasa haus untuk menemukan Tuhan seperti yang dialami Daud (Mzm 42:2-3; Mzm 43:3-4). Saya masih  mengandalkan kekuatan dan pengertian saya sendiri, misalnya, ketika saya  merenungkan firman Tuhan (mengerjakan Lectio Divina), saya tidak  berdoa minta tuntunan Roh Kudus, akibatnya seringkali saya mengalami kesulitan untuk memahami firman Tuhan. Tetapi  karena hidup (zoe) yang telah saya terima dari Tuhan, Roh Kudus tetap setia mengajar dan menuntun saya; saya dibawa pada kesadaran pentingnya untuk menemukan Tuhan. Waktu itu saya sedang mengerjakan Lectio Divina; firman Tuhan Yoh 5:39-40; memberi  kesadaran baru bagi saya  bahwa hal yang utama dalam hidup  adalah bukanlah semua kegiatan rohani. Tetapi yang utama adalah bagaimana saya membenahi manusia batiniah saya; menemukan pengenalan akan Tuhan  dan memiliki persekutuan dengan Tuhan.

Dalam Fil 3:7-13 kesaksian Paulus “Aku berusaha menangkap Dia, seperti Dia telah menangkap aku”. Kalau Tuhan menangkap kita dan kita tidak menangkap Dia, sama juga  kita mengabaikan atau membuat sia-sia anugerah yang Tuhan berikan. Jadi panggilan “menangkap Tuhan” itu, panggilan yang harus kita tunaikan. Paulus mengatakan “Aku telah melepaskan semuanya (semua kebanggaan, kemegahan hidup duniawi) supaya aku  memperoleh Kristus”. Inilah ciri-ciri orang yang telah menemukan Tuhan. Oleh sebab itu jika orang percaya hendak menghargai hidup yang Tuhan berikan harus berusaha menemukan Tuhan. Menemukan Tuhan artinya rela melepaskan kesenangan-kesenangan dunia, kebanggaan/kehormatan dunia lalu menangkap Tuhan dalam hidup ini.

Sahabat,  inilah yang Tuhan inginkan untuk kita lakukan. Kesempatan ini terbatas, oleh sebab itu di kesempatan yang tebatas ini, “carilah Tuhan selagi Ia berkenan ditemui” artinya ada saat di mana Tuhan tidak bisa ditemukan lagi. Di tengah kesibukan yang hebat sekalipun, temukanlah Tuhan; harus ada waktu untuk berdoa, mendengarkan khotbah, merenungkan firman Tuhan, bergaul dengan saudara seiman, datang ke pertemuan-pertemuan ibadah, datang ke gereja menerima sakramen-sakramen. Berbahagialah orang yang menemukan Tuhan, karena mereka akan memiliki hidup berkelimpahan. Amin

FHM