Berbahagialah Jika Kamu Melakukannya

Renungan 21 April 2016

Bacaan: Kis. 13:13-25; Mzm. 89:2-3,21-22,25,27; Yoh. 13:16-20

“JIKALAU KAMU TAHU SEMUA INI, MAKA BERBAHAGIALAH KAMU, JIKA KAMU MELAKUKANNYA”

Pada awal pernikahan (18 tahun yang lalu), kami sudah merencanakan untuk mempunyai dua anak saja. Penyebabnya tidak lain karena semua orang anaknya dua tidak lebih. Kalau lebih dari dua sepertinya akan banyak masalah yang timbul, yaitu mulai dari masalah keuangan, masalah waktu, menjadi sangat repot. Terutama juga karena kami mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri, jadi tidak mungkin kalau memiliki banyak anak. Sehingga secara tidak sadar kami sebetulnya menjadi takut dan tidak percaya dengan penyertaan Tuhan Yesus.

Kami baru menyadari bahwa kebahagiaan yang kami alami dengan pilihan tersebut adalah kebahagiaan yang semu karena pada dasarnya kami sedang mengalami ketakutan. Perubahan ini terjadi saat kami menanggapi panggilan Tuhan dan kami sekeluarga memulai hidup yang baru. Dan yang pertama kali istri lakukan adalah melepaskan alat KB (yang mana hal ini tidak sesuai dengan ajaran Gereja Katolik) dan terjadilah mujizat. Tuhan menambahkan dua anggota baru dalam keluarga kami, sehingga saat ini kami dikaruniai rahmat Tuhan empat anak. Apakah hal-hal yang kami kuatirkan di atas terjadi? Jelas terjadi. Kami semakin repot,
keuangan semakin berat, semakin tidak punya waktu untuk pribadi. TV dan komputer dikuasai oleh Baby Finger, Dora, Sponge Bob, dan lain-lain. Ditambah pula kami berkomitmen untuk mengurus semuanya sendiri karena pendidikan anak oleh orang tua adalah pendidikan yang tidak tergantikan (“Kesuburan cinta kasih suami isteri tidak hanya terbatas pada kelahiran anak-anak; ia juga harus mencakup pendidikan kesusilaan dan pembentukan rohaninya. Pendidikan oleh orang tua begitu penting, sehingga bila tidak ditunaikan, sulit dapat diganti” KGK 2221).

Tetapi justru di tengah segala kesulitan, kerepotan, kadang juga ada jengkelnya, ada kuatir, kami semakin merasakan kehadiran Tuhan, semakin merasakan kebahagiaan yang sebenarnya. Ayat hari ini betul-betul mengingatkan kami kalau kami hanyalah hamba-Nya yang akan selalu berusaha untuk setia pada kehendak-Nya dan selalu sabar dalam menjalani hidup ini karena inilah yang berkenan di hadapan Allah (Sebab semua karya, doa-doa dan usaha kerasulan mereka, hidup mereka selaku suami isteri dan dalam keluarga, jerih payah mereka sehari-hari, istirahat bagi jiwa dan badan mereka, bila dijalankan dalam Roh, bahkan beban-beban hidup bila ditanggung dengan sabar, menjadi kurban rohani, yang dengan perantaraan Yesus Kristus berkenan kepada Allah. KGK 901).

Tuhan Yesus memberkati kita. Amin.

MHP