Allah Yang Hidup dan Sanggup

Renungan Jumat 1 April 2016

TUHANKU adalah ALLAH YANG HIDUP & SANGGUP MENOLONG

Bacaan: Kis. 4:1-12; Mzm. 118:1-2,4,22-24,25-27a; Yoh. 21:1-14

“Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh”

Kita sering mendengar “Jangan andalkan pikiran dan kekuatan sendiri tetapi lakukanlah perintah Tuhan dalam setiap pekerjaanmu, maka Tuhan akan mendatangkan sukacita”. Dalam injil hari ini dikisahkan bahwa penampakan Tuhan Yesus di danau Tiberias adalah untuk menunjukkan kuasaNya. Yesus memerintahkan para muridNya untuk menebarkan jala di sebelah kanan dan menghasilkan tangkapan yang banyak. Hal ini menunjukkan ketaatan dalam melaksanakan perintah Tuhan. Mari kita bersama membaca perlahan Injil Yohanes hari ini, kemudian merenungkannya dan merefleksikannya bagi hidup kita masing-masing.

1. (ayat 3) “… tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa”. Pekerjaan Petrus sebelum mengikuti Yesus adalah sebagai nelayan. Kita semua tahu bahwa waktu yang tepat untuk menangkap ikan adalah pada waktu malam hari. Namun apa yang terjadi pada waktu itu? Mereka tidak mendapat apa-apa. Bagaimana dengan diri kita? Apakah kita sering tidak berhasil dalam pekerjaan kita? Apakah kita selalu mengandalkan Tuhan dalam setiap langkah hidup kita? Dalam keluarga kami, selain kami masing-masing mempunyai saat teduh, setiap pagi sebelum memulai aktivitas, kami membiasakan diri untuk berkumpul dan berdoa bersama, mohon penyertaan dan perlindungan Tuhan untuk satu hari itu. Bila suatu saat dalam keadaan tergesa-gesa, pasti salah satu dari kami, dan biasanya anak-anak yang akan mengingatkan kalau kami hampir lupa berdoa bersama di pagi hari. Selalu mengandalkan Tuhan dalam tiap langkah hidup kita, maka kita percaya Tuhan pasti akan selalu memberikan yang terbaik menurut kehendak dan rencanaNya.

2. (ayat 5) “Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk pauk?” Pada ayat sebelumnya diceritakan bahwa Yesus berdiri di pantai, tetapi para muridNya tidak mengetahui keberadaanNya. Hal ini sama seperti keberadaan kita. Seringkali kita tidak mengindahkan kehadiran Yesus. Pada saat itu, Tuhan Yesus pasti mengetahui bahwa muridNya tidak mempunyai apa-apa untuk dimakan. Sapaan Yesus ini bisa kita artikan sebagai suatu tanggapan atau bentuk kepedulian Yesus terhadap hidup kita. Kalau kita mau mengartikan dalam bahasa sehari-hari, sapaan Yesus tadi dapat diartikan sebagai bentuk tawaran bantuan, “Apa yang bisa Saya bantu?” Sapaan ini merupakan tanggapan Tuhan terhadap kesusahan dan penderitaan kita. Tuhan Yesus mengetahui pergumulan kita. Dia sanggup menolong dan mengangkat beban hidup kita. Tuhan Yesus senantiasa mengulurkan tanganNya untuk menolong kita. Sekarang tinggal bagaimana respon kita?Apakah kita mau pasrah total dan berserah pada kehendak dan rencana Tuhan? Apakah kita mau senantiasa membiarkan Tuhan bekerja secara bebas dalam hidup kita? Satu rhema yang dapat menjadi kekuatan kita, Roma 8:28 “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi KITA yang mengasihi Dia…”

3. (ayat 6) “Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh”. Saat yang tepat untuk menangkap ikan adalah pada waktu malam hari. Akan tetapi para murid ini tidak mendapatkan apa-apa pada waktu mereka menangkap ikan di malam hari, apalagi jika menebarkan jala di waktu pagi atau siang hari. Tetapi itulah Tuhan Allah kita. Ia adalah Allah yang hidup, Allah yang sanggup melakukan perbuatan ajaib. Tiada yang mustahil bagi Allah. Tuhan bisa berkarya di luar logika manusia. Tuhan sanggup melakukan mujizat bagi orang yang percaya dan taat kepadaNya. Apakah kita mempunyai iman percaya bahwa Tuhan adalah Allah yang hidup, Allah yang sanggup menolong, Allah yang sanggup melakukan perkara yang besar bagi kebaikan kita? Lukas 1:37 “Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil”.

4. (ayat 7) “Itu Tuhan”. Seperti murid Yesus yang tanggap merespon kehadiran Tuhan. Kita harus selalu menyadari bahwa Tuhan senantiasa berkarya dalam hidup kita. Sudahkah kita selalu mengucap syukur atas hidup kita, keberhasilan, kegembiraan dan sukacita yang kita rasakan? Atau mampukah kita untuk dapat mengucap syukur atas kesedihan atau masalah yang kita alami? Mampukah kita melihat bahwa di balik pergumulan hidup pasti ada hikmah dan rencana Tuhan yang baik buat kita? Apakah kita menyombongkan diri atas kelebihan yang kita miliki? Kerendahan hati, tidak sombong dan selalu mengucap syukur dalam tiap keadaan harus selalu kita praktekkan dalam hidup keseharian kita. Satu hal yang kami tanamkan pada anak-anak kami adalah bagaimana untuk bersikap rendah hati dan mengucap syukur terima kasih pada Tuhan menjadi suatu kebiasaan bagi mereka. Tiap keberhasilan yang didapat, kata-kata pertama yang secara spontanitas keluar dari mulut mereka adalah, “Thank You, Jesus”. Sudahkah kita menanamkan rasa ketergantungan pada Tuhan? Apa yang kita lakukan, keberhasilan hidup kita, itu semua hanya karena anugerahNya.

5. (ayat 12) “Marilah dan sarapanlah”. Makan bersama merupakan lambang persaudaraan. Dalam bacaan Injil hari ini, diceritakan bagaimana Yesus menolong para muridNya untuk memperoleh makanan, mengolah dan menyuguhkan bagi mereka. Di sini Yesus memberikan teladan bagi kita arti melayani. Seperti diceritakan juga pada bab sebelumnya (Yoh 13) di mana Yesus membasuh kaki para muridNya, ini berarti bahwa Yesus juga memberikan satu teladan bagi kita apa itu arti melayani, kerendahan hati dan mau mengampuni. Apakah kita mampu mencontoh teladan Yesus yang melayani dengan rendah hati? Mampukah kita mengampuni orang-orang yang telah menyakiti kita? Atau apakah selama ini justru kita yang merasa menjadi orang yang harus dilayani? Apakah kita selama ini mencontoh teladan Yesus, melayani, mengucapkan hal yang benar, mau mengampuni dan bersikap rendah hati?

Mari kita dengan keterbukaan hati membawa permenungan hari ini sebagai ujub doa kita dan menjadikannya sebagai arahan yang harus kita lakukan untuk terus memperbaiki hidup kita menuju hidup yang berkelimpahan dalam Yesus. Amin.

Tuhan Yesus mengasihi dan memberkati kita semua.

VRE