Agen Kasih

Renungan Jumat 29 April 2016

Bacaan: Kis. 15:22-31; Mzm. 57:8-9,10-12; Yoh. 15:12-17

Menjadi Agen Kasih

Yoh. 15:12-17:

Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain.

Memang mudah bicara kasih, kenyataannya tidaklah mudah untuk dilakukan. Kasih butuh perjuangan, kesabaran, pengorbanan. Semua agama mengajarkan untuk saling mengasihi, sangatlah ironis;  justru banyak terjadi perselisihan, pengeroyokan, permusuhan bahkan pembunuhan terjadi di antara umat beragama, di mana mereka mengajarkan kasih, penganut kasih, yang katanya pelaku kasih.

Demikian halnya hubungan suami-istri, hubungan orang tua-anak, hubungan masyarakat, banyak terjadi perselisihan hingga perpisahan dan perceraian karena kehilangan kasih yang diawali oleh kesalahpahaman, kurang pengertian akan arti cinta kasih, kurang doa bersama, bersekutu bersama, saling sharing, membagi kasih, saling menghargai, pengertian, dan sebagainya.

Kita semua orang beriman dipanggil untuk saling mengasihi dengan meneladani Kristus. Perintah Yesus sangat jelas “supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu”  bahkan Yesus telah menyerahkan nyawa-Nya bagi kita yang dikasihi-Nya. Allah sangat  mengasihi Anda dan saya, buktinya Allah menganugerahkan putra-Nya yang  tunggal  Yesus Kristus kepada kita demi keselamatan atau kebahagiaan kita. Demikian pula Yesus juga sangat  mengasihi kita dengan  mempersembahkan diri secara total wafat di kayu salib. Kasih Yesus fakta dan bisa dirasakan, kayu salib adalah bukti cinta kasih Kristus pada Anda dan saya.

Kita yang berani menyatakan diri sebagai anak-anak Tuhan, murid Kristus, pelayan Tuhan, dalam contoh kecil saja, ketika salah satu kerabat kita sedang sakit atau tertimpa masalah, kita sering berkata, “Kuatkan hatimu saudaraku, saya akan berdoa untuk Anda.”  (mohon maaf, terkadang kita juga tidak mendoakannya hanya di bibir saja berkata akan doakan), ya bantuan doa sangat penting, namun bantuan nyata yang mereka butuhkan juga sangat penting (berguna). Yesus tidak hanya mendoakan kita dari Surga, tetapi Yesus hadir menjadi manusia untuk menolong kita secara jasmani dan rohani. Pesan Yesus sangat jelas “jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, tetapi sahabat”. Banyak contoh dalam umat gereja perdana, di mana para rasul dan saudara-saudaranya bergotong-royong saling membantu. Ada yang menjual hartanya untuk kepentingan bersama, segala kepunyaannya adalah kepunyaan bersama, mereka saling tolong menolong, bahu membahu, untuk mencapai tujuan yaitu perintah dan teladan Kristus menjadi harta kekayaan bagi semua umat manusia.

Kita harus menjadi agen kasih, teladan bagi keluarga kita (anak, orang tua, saudara, bahkan tetangga kita) misalnya: meminta maaf duluan, bukan berarti kita bersalah, tapi karena kita adalah pelaku kasih; mengulurkan tangan untuk menolong sesama, bukan karena kita berutang budi, tapi karena kasih memenuhi hidup kita. Jadi bukan hanya menjadi agen doa, tapi kita mau melakukan apa yang bisa kita lakukan untuk menolong sesama, mari kita belajar terus untuk mengasihi seperti kasih Kristus pada dunia. Marilah kita pergi dan menghasilkan buah, dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama Yesus, diberikan-Nya kepadamu.

IGP