Pengenalan Akan Yesus Yang Menyelamatkan

Renungan Rabu 23 Maret 2016

Bacaan: Yes. 50:4-9a; Mzm. 69:8-10,21bcd-22,31,33-34; Mat. 26:14-25

Masihkah uang menjadi salah satu alasan pengkhianatan?

“Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?” Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya. Dan mulai saat itu Yudas mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus. (Mat 26:15-16)

Beberapa hari yang lalu, kita mendengar seorang Bupati yang baru menjabat tiga bulan ditangkap oleh BNN (Badan Narkotika Nasional), karena kedapatan pesta narkoba di rumahnya. Informasi dari BNN, Bupati ini sudah lama memakai narkoba sejak dia menjabat DPR di daerah tersebut. BNN akan mencoba menggagalkan pelantikannya, namun karena berbagai “pertimbangan”, maka penangkapannya ditangguhkan. Peristiwa tesebut menggemparkan daerah pemilih bahkan seluruh masyarakat Indonesia, dan berbagai pertanyaan masyarakat muncul, bagaimana mungkin seorang pemakai narkoba bisa lolos dalam seleksi bakal calon bupati, bahkan sebelumnya dia sebagai pejabat DPR? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan lain termasuk apakah pada waktu pemilihan, uang juga yang berbicara sehingga seluruh masyarakat daerah tersebut memilih dan meloloskan dia untuk menjadi Bupati. Artinya mulai dari rencana menjadi “bakal calon” sampai dengan pelantikan (pelaksanaan) uang yang berkuasa?

Dalam bacaan Injil hari ini, menjelang persiapan Kamis Putih, Tuhan mengajak kita untuk merenungkan beberapa hal. Yudas menjual iman kepercayaannya kepada imam-imam kepala. Yudas mengkhianati Yesus. Pengkhianatan Yudas merupakan tanda bahwa ia menyia-nyiakan kasih Allah. Ia telah dipilih Yesus menjadi muridNya yang diberi kepercayaan penting menjadi bendahara. Namun, kasih dan kepercayaan ini bukan jaminan untuk menjadi pribadi yang setia kepada Tuhan Yesus. Yudas tidak mungkin menukar Gurunya dengan tiga puluh uang perak, jika ia sungguh erat bersatu dengan Yesus. Pengenalan yang benar akan Yesus membuat murid-murid yang lain peka tentang kerinduan Tuhan Yesus untuk makan bersama pada hari raya Paskah. “Di manakah Engkau kehendaki kami mempersiapkan perjamuan Paskah bagiMu?” (ayat 17). Mereka tidak terpaksa dalam mempersiapkan perjamuan Paskah sesuai dengan apa yang ditugaskan Yesus, murid-murid melakukan tugas itu dengan setia dan taat. Yudas makan bersama Yesus dalam perjamuan. Ia ada bersama Yesus dan melayaniNya. Namun kehadiran fisik tidak menjamin kedekatan hati. Itulah sebabnya, ia rela menjual Yesus, betapa uang ternyata mampu membuat kita melanggar kesetiaan dan merusak tatanan yang ada jikalau kita tidak mengenal dan bersatu dengan Yesus.
Apa yang dialami Yudas bisa terjadi pada siapapun. Orang rela “menjual” iman akan Yesus masih terus berlangsung sampai sekarang, demi untuk mendapatkan jabatan yang penting, kekuasaan, politik, pekerjaan dan pasangan hidup, orang meninggalkan Tuhan Yesus. Orang mengesampingkan nilai-nilai kebenaran, tidak setia kepada Yesus, orang tidak punya lagi misi keselamatan dan hidup yang kekal. Uang tidak jahat, dan kita memang perlu uang tetapi cinta uang dan mengandalkannya dapat membuat kita menjadi jatuh dalam dosa dan tidak setia akan iman kita (1 Tim 6:10).

Dalam hidup saya, beberapa kali orang meminta saya untuk menjual Yesus dengan jabatan di sebuah instansi pemerintahan, pasangan hidup, dan pekerjaan serta salah satunya harta warisan. Dengan setengah memaksa, saya diminta untuk kembali ke iman saya yang dulu dengan alasan pembagian warisan penjualan rumah nenek saya yang berbeda iman dengan saya. Menurut iman kepercayaan mereka (saudara dari almarhumah ibu saya), jikalau ada saudara yang tidak seiman dengan mereka, orang tersebut (saya) tidak memperoleh warisan. Mereka mengira saya tidak mengerti tentang hukum waris di mana penjualan rumah tidak akan terjadi tanpa tanda tangan ahli waris (yang mana saya salah satunya) sehingga memperalat uang warisan untuk menjerat saya mengkhianati Yesus. Saya bersyukur karena telah mengenal Yesus, maka dengan tegas saya jawab, “Tidak masalah saya tidak mendapatkan warisan hasil penjualan rumah nenek karena saya sudah mendapat warisan dari Yesus yaitu sorga.” Akhirnya mereka minta maaf dan meminta saya untuk tidak memperpanjang masalah tersebut karena mereka butuh tanda tangan saya. Meskipun saya tidak mengharapkan mendapat warisan hasil penjualan rumah tersebut, ternyata mereka tetap memberi bagian hak saya tanpa saya menjual Yesus. Puji Tuhan.

Doa :
Aku memuji-muji dan mengagungkan nama Allah dengan nyanyian syukur. Ya Tuhan Allah, beri aku lidah seorang murid, supaya dengan perkataanku aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Pertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid karena hanya Engkaulah Allah yang hidup dan berkuasa, kini dan sepanjang masa. Amin.

Selamat merayakan Tri Hari Suci.

ECMW