Panggilan Tuhan dalam Hidup

Renungan Selasa 22 Maret 2016

Bacaan: Yes. 49:1-6; Mzm. 71:1-2,3-4a,5-6ab,15,17; Yoh. 13:21-33,36-38

Maka sekarang firman TUHAN, yang membentuk aku sejak dari kandungan untuk menjadi hamba-Nya, Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi.” (Yes 49:5-6)

 

Sejak dalam kandungan, Tuhan telah merancang dan membentuk kita menjadi HambaNya yang setia. Bukan saja menjadienjadi Hamba tetapi menjadi Sahabat, teman sekerja Allah.

Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. (Yoh 15:15).

Tuhan telah memanggil kita untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa, maksudNya bahwa panggilan kita adalah untuk mewartakan Kabar Keselamatan, Kabar Sukacita bahwa Yesus Putra Allah telah menjadi Manusia dan tinggal di antara kita sebagai Juru Selamat dan Penebus dosa-dosa kita, sehingga Yesus wafat di kayu salib.

Dalam Dia ada hidup dan hidup dalam rencana kasih Tuhan, dalam Dia ada terang dan terang itu bercahaya dalam kegelapan dan kegelapan tidak dapat menguasainya (Yoh 1:5). 

Panggilan untuk mewartakan ini bukan karena kekuatan kita dan kita yang memilih, “…..tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.”

Pada tanggal 26 Juni 1998, waktu itu malam pukul sepuluh, saya sedang bekerja di depan komputer. Ada seorang saudara jauh dari istri saya bermalam di rumah dan datang menghampiri saya serta mengatakan kalau Roh Kudus mau ngomong sama saya, apa saya bersedia? Saat itu saya terkejut dan tidak mengerti apa maksudnya. Tetapi secara spontan saya katakan “Ya, saya mau”. Kemudian saya memanggil istri dan kedua anak saya untuk berkumpul bersama berdoa bersama. Dalam kebersamaan itu Roh Kudus hadir dalam karunia nubuat dan berpesan. Salah satu pesanNya dikatakan supaya saya tidak suam-suam karena Tuhan mau memakai saya. Langsung spontan saya katakan “Mau”, tetapi bagaimana caranya.

Sejak itu saya dibimbing dan diproses dalam beberapa tahun tanpa saya menyadari cara Tuhan bekerja pada hidup saya. Mengalir, mengalir berproses sambil saya berusaha belajar untuk taat dan mengerti arti dan tujuan Panggilan Tuhan. 

Suatu saat saya baru mengerti, bahwa Tuhan telah memanggil saya sejak dalam kandungan untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa,  melayani di SEP dan Paroki  menjadi panggilan dalam hidup saya.

Setiap orang dilahirkan Tuhan punya rencana panggilan. Bagaimana dengan panggilan hidup kita? Pergilah, kau diutus!

Tuhan memberkati. Amin.

SWK