Mengenal Yesus

Renungan Jumat 11 Maret 2016

Bacaan: Keb. 2:1a,12-22; Mzm. 34:17-18,19-20,21,23; Yoh. 7:1-2,10,25-30

“Memang Aku kamu kenal dan kamu tahu dari mana asal-Ku, namun Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, tetapi Aku diutus oleh Dia yang benar yang tidak kamu kenal,” ( Yoh 7: 28)

Sebagian besar bangsa Yahudi di Yerusalem, saat itu hanya memahami dan mengetahui asal usul Yesus sebagai anak Yosef (suami dari Maria) seorang tukang kayu dari Nazaret. Dan mereka belum dapat memahami serta mengenali Yesus yang diutus oleh Allah, karena mereka tidak mengenal Allah yang benar.

Mengapa mereka itu belum dapat mengenal-Nya apalagi menerima keilahian Yesus sebagai Mesias? Karena bangsa Yahudi saat itu beranggapan atau masih percaya pada tradisi populer, bahwa seorang Mesias akan muncul begitu saja secara tiba-tiba. Oleh sebab itu bagi mereka yang meyakini tradisi ini tentu saja sulit mau percaya kepada Yesus sebagai Mesias. Bahkan mereka tidak mengindahkan nubuat para Nabi mengenai Raja Mesias dan penyelamatan Israel, sebagaimana yang telah dinubuatkan dalam Alkitab:

  • “Sebab itu ia akan membiarkan mereka sampai waktu perempuan yang melahirkan; lalu selebihnya dari saudara-saudaranya akan kembali kepada orang Israel” (Mikha 5:2)
  • “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel” (Yesaya 7 : 14)

Walaupun telah dinubuatkan oleh Allah melalui perantara para Nabi, dan berbagai mujizat yang telah dilakukanNya, nampaknya bangsa Yahudi masih mengalami kebingungan untuk dapat mengenali jati diri Yesus. Sehingga timbul dua kelompok pandangan mengenai diri Yesus.

  1. Ada yang berpandangan atau mengenal bahwa Yesus adalah seorang yang baik, seorang nabi.
  2. Ada yang berpandangan atau mengenal bahwa Yesus adalah sebagai orang yang mengganggu tatanan kehidupan spiritual yang sudah dianggapnya mapan, maka ajaran-Nya dianggap bertentangan dengan pemahaman ajaran mereka. Karena itu para tokoh atau pemimpin agama Yahudi dan ahli-ahli Taurat merasa terusik, mereka berusaha mau menyingkirkan bahkan mau membunuh Dia (Yoh 7:1) dengan cara menjatuhkan hukuman yang keji bagi-Nya.

Dengan kondisi kebingungannya tersebut, banyak orang Yahudi saat itu menjadi takut mengambil sikap dalam menentukan pilihannya untuk mengikuti Yesus. Jika mereka memilih mengikuti Yesus, mereka dianggap melawan ahli-ahli Taurat dan pemimpin-pemimpin agama Yahudi, yang tentu saja konsekuensinya mereka itu akan menerima hukuman.

Walaupun perbuatan-perbuatan keilahian Yesus telah dinyatakan dan disaksikan oleh orang banyak dalam berbagai mujizat, namun sampai hari ini masih ada juga orang-orang yang belum atau tidak mau mengenali untuk percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah.

Pengenalan seperti apakah yang dikehendaki-Nya? Seperti Rasul Paulus mengajarkan bahwa pengenalan akan Yesus Kristus adalah hal yang hakiki dan lebih mulia dari pada semuanya. Paulus mengatakan bahwa hal lainnya yang dulunya dianggap suatu keuntungan baginya, setelah mengenal Yesus, semuanya dibuang dan dianggapnya sampah. (bdk. Flp. 3:7-8)

Sejauh manakah kita masing-masing telah mengenal Yesus, tentu sangat tergantung dari seberapa intim relasi kita dengan-Nya, dan seberapa jauh kita melakukan kehendak-Nya demi kemuliaan Bapa. Terlebih saat ini dalam masa Pra Paskah, salah satu tanda seseorang yang telah mengenal Yesus, yaitu mewujudkan dalam pertobatan dan tindakan kasih dalam segala segi kehidupan. Marilah kita lebih dan lebih lagi melakukan perbuatan amal kasih kepada orang-orang terdekat dan sesama di dalam kehidupan sehari-hari, sebagaimana sabda-Nya: “segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 25:40).

Tuhan memberkati.

YHS