Mengampuni

Renungan Selasa 1 Maret 2016

Bacaan: Dan. 3:25,34-43; Mzm. 25:4bc-5ab,6-7bc,8-9; Mat. 18:21-35

Bila kita menengok perjalanan hidup kita masing-masing ke belakang, khususnya peristiwa-peristiwa relasi dengan sesama, maka kita akan mendapati ada dua kelompok peristiwa. Peristiwa yang menyenangkan hati dan peristiwa yang melukai hati kita. Terhadap peristiwa yang menyenangkan hati, seperti mendapatkan perhatian, ucapan selamat, hadiah serta dukungan dari teman maka dengan mudah kita menerimanya dan dengan mudah pula kita bersyukur pada Tuhan atas semuanya ini. Namun terhadap peristiwa yang melukai hati, peristiwa yang membuat kita kecewa, peristiwa yang benar-benar membuat kita terpukul, maka berat bagi kita untuk menerima kenyataan bahwa itu terjadi pada diri kita, apalagi untuk memberikan maaf bagi yang telah membuat diri kita terluka.

Injil hari ini, Petrus bertanya pada Yesus mengenai hukum keadilan yang bisa ia pakai terhadap orang-orang yang pernah melukai hatinya, namun jawaban Tuhan Yesus tetaplah konsisten, bahwa hukum kasihlah yang harus kita kenakan. Ampuni, ampuni dan ampuni.

DAMPAK SEBUAH PENGAMPUNAN

Seorang suster didapati menderita kanker dan saat didoakan oleh seorang romo, yang memiliki karunia Sabda Pengetahuan, romo ini mengatakan agar suster mau mengampuni orang yang pernah menyakiti hatinya. Suster ini mengaku bahwa ia sakit hati pada ayahnya dan ketika suster mendapatkan kesempatan untuk pulang rumah maka beliau memanfaatkan kesempatan ini untuk mengampuni sang ayah. Mendampingi, merawat dan berusaha melayani sang ayah yang sedang sakit adalah tindakan nyatanya atas usaha memaafkan dan mengampuni sang ayah. Saat cutinya habis dan ia harus kembali ke biara, maka ia mendapati bahwa kanker yang dideritanya telah hilang. Dokter yang memeriksanya pun menjadi heran atas perbuatan ajaib Tuhan Yesus dan bagaimana sebuah tindakan pengampunan itu mempunyai dampak yang luar biasa bagi yang memberi ampun.

TINDAKAN

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan Yesus, kita mungkin mau mengampuni orang yang sudah membuat kita kecewa tapi terasa kita ini tidak mampu, kita mungkin mau memaafkan orang yang sudah mengkhianati kepercayaan kita tapi rasanya belum sanggup, maka mari kita lakukan seperti kata St. Yoh Salib :

“Bila sesuatu terjadi tidak sesuai dengan yang kita harapkan, maka pandanglah Yesus yang tersalib, satukanlah penderitaanmu denganNya dan tindakan yang perlu kita lakukan adalah diam di depanNya”

Mari kita terus mengampuni karena Tuhan lebih dahulu telah mengampuni kita, amin.

FS